•••
“Dua hari lalu minta dibeliin dispenser, kemarin minta uang lima ratus ribu buat si janda. Sekarang apa lagi? Kamu itu lembek banget, sih! Ketahuan bapakmu lagi punya hasrat sama wanita setelah Mama pulang ke rumah Tuhan. Belum ada tiga bulan, lho!” Suara Nadila terdengar kesal lantaran suaminya, Ardan, tidak pernah mau mengungkit bapaknya sendiri yang banyak ulah.
Nadila memang mantu, tapi ia juga jadi geram kalau tau-tau bapaknya Ardan bersikap seenaknya meminta sesuatu setiap hari.
“Tau, tuh, Mamang malah diam aja. Te, aku dengar lagi, Kake cerita sama tukang parkir di depan rumah kalau wadonnya ini minta dibawain uang 400 juta. Sama mau minta dibeliin mobil. Dia minta dibuatin rumah yang lebih gede dan luas daripada rumah warisan Nenek.” Kayla, ponakan Ardan ikut menyahut dari meja makan.
Nadila mengurut kepala.
“Gila! Tuh, dengar! Belum jadi belum apa itu janda udah minta banyak. Kemarin juga aku dengar dari istri abangmu, katanya bapakmu pinjam mobilnya terus untuk anter janda itu. Dan gilanya lagi, cuma mau anterin tempe mentah.”
“Wah, tempenya kelas vip banget,” sahut Kayla tertawa. Ardan ikut pusing mendengarnya, kepalanya ikut penuh mengingat sekarang tanggungannya melonjak dua kali lipat.
“Iya, nanti aku omongi sama bapak. Malam ini. Aku juga dapat kabar, bapak mau kuliahin anaknya yang seumuran Kayla. Entah dari uang mana, aku dengarnya dari tukang parkir di depan rumah juga.”
“Ha? Sepantaran aku? Anaknya? Ih, lebih bagus juga biayain kuliah Kayla. Nyebelin banget si Kakek. Giliran cucuknya minta uang gak dikasih.” Kayla protes.
Nadila tak menyahut lagi, wajahnya langsung lurus ke depan rumah melihat abangnya Ardan bertamu, dengan tampang kesal.
“Bapak ke mana?”
“Gak ada, pergi dari pagi. Kenapa, Bang?” tanya Ardan berdiri dari duduk karena spontan.
“Sialan. Mobil gue mau dijual buat beliin cincin mas kawin si janda. Istri gue marah-marah dari pagi. Mana gue dengar dua anaknya dibeliin hape Iphone. Bangke!”
“Ha?”
••••