Disukai
0
Dilihat
1
SINYAL MASA DEPAN Vol.1
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB 1 — PERAMAL JALANAN

 

Bayu duduk di bawah tenda lusuh yang disangga bambu yang sudah mulai retak. Hujan yang turun sejak pagi membuat tanah becek, dan lalu-lalang orang di trotoar semakin sibuk. Di tengah hiruk pikuk itu, Bayu seperti titik statis dalam gambar yang terus bergerak, matanya mengamati dunia tanpa benar-benar terlibat di dalamnya.

 

Di hadapannya, seorang pegawai kantoran duduk gelisah. Kemejanya kusut karena perjalanan, dan ia terus mengusap telapaknya sendiri sebelum menyerahkannya pada Bayu.

 

“Lihat, Pak,” ujar Bayu sembari menggerakkan jarinya mengikuti garis telapak tangan itu. Suaranya datar—bukan ramah, bukan pula mengancam. “Garis kehidupan Bapak menunjukkan ‘keuntungan besar’. Tapi… itu akan hilang besok sore kecuali Bapak berinvestasi sekarang.” Bayu mengangkat alis pelan. “Ke saya. Sekarang.”

 

Pegawai itu menelan ludah, bingung antara percaya atau tidak. Bayu tidak menunggu jawaban—ia sudah tahu. Dari kilasan kecil yang ia sentuh tadi, ia melihat pegawai ini besok akan kehilangan ponselnya dan terlambat kerja. Tidak ada keuntungan besar. Tidak pernah ada.

 

Namun, ia memainkan perannya.

 

“Keputusan cepat menyelamatkan hidup, Pak,” tambah Bayu.

 

Pegawai itu pergi dengan ragu dan meninggalkan dua lembar uang. Tidak banyak, tapi cukup untuk makan hari itu.

 

Bayu menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik murahan itu.

 

“Besok selalu sama,” gumamnya. “Membosankan.”

 

Ia mempunyai kemampuan melihat masa depan, tetapi hanya sampai 24 jam. Dunia seakan menahannya dalam loop yang tidak pernah selesai.

 

Dan ia sudah lelah.

BAB 2 — PELINTASAN TERLARANG

 

Hujan turun seperti butiran jarum ketika Tiara berdiri di tepi dermaga tua itu. Angin malam menampar wajahnya, membawa aroma asin laut yang menyengat seperti ingatan buruk. Di kejauhan, lampu-lampu kota masa kini berkedip, tetapi bagi Tiara, semuanya terasa memudar. Dunia yang ia tinggalkan di belakang adalah tempat penuh kehilangan… dan kematian. Tiara merasa hidupnya hancur karena tragedi keluarganya. Dan waktu adalah satu-satunya hal ia bisa salahkan sehingga ia bisa mengubahnya.

 

Di genggamannya, sebuah perangkat berbentuk kapsul kecil berdenyut pelan—seperti jantung kedua. Kapsul itu menampilkan garis logam halus, membentuk nama yang telah mengubah hidupnya:

 

ALEX H. WIRATAMA.

 

Pria yang membunuh keluarganya.

Pria yang sampai sekarang masih misterius.

 

Dan di bawahnya, sebuah tulisan yang telah ia baca berulang kali, hanya ada satu petunjuk tentang ayah Alex:

 

Tidak ditemukan dokumen tentang keluarga Alex.

 

Petunjuk yang terlalu kabur untuk dunia masa depan yang serba terdigitalisasi.

 

Tapi cukup jelas jika ditarik mundur ke dunia sebelum database elektronik lahir.

 

Itulah alasan Tiara berada di dermaga malam itu.

Menunggu retakan waktu terbuka.

Menunggu kesempatan terakhir untuk menghentikan tragedi sebelum itu dimulai.

Bukan untuk menyelamatkan dirinya.

Tapi untuk menyelamatkan keluarganya.

Walau caranya berarti menembus waktu tanpa izin—kejahatan temporal terbesar.

 

Kapsul di tangannya bergetar, mengeluarkan cahaya biru yang memanjang seperti garis langit yang terbelah. Udara di sekelilingnya berubah dingin, terlalu dingin untuk ukuran tropis. Suara seperti bisikan logam terdengar, semakin keras.

 

Tiara menarik napas panjang.

Ia tahu konsekuensinya.

Tak ada jalan kembali setelah ini.

 

“Sekali lagi,” bisiknya pada gelombang laut di hadapannya. “Ini bukan balas dendam. Ini… pencegahan.”

 

Lights bloom.

Dunia runtuh.

Dan waktu terbelah.

 

Tubuh Tiara terseret masuk ke pusaran itu—tidak seperti jatuh, tetapi seperti diremas lembut oleh sesuatu yang Maha Tahu. Semua warna menguap, berganti putih pe...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)