Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
26
10 Menit Bersama
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Bulan-bulan akhir kelas 3 terasa pening, sampai obat penawar itu datang. Bermula dari diskusi tentang cara membuat cerpen, sampai obrolan rutin. Perlahan tapi pasti, rasa itu tumbuh. Mulai dari rasa nyaman sampai rasa aman, tumbuh subur di antara kami. Rasa yang tak seharusnya tumbuh, apalagi di waktu yang sangat singkat ini.

Kenapa kita tak kenal lebih cepat?

Selalu terngiang di kepalaku setiap kali aku menatapnya, dan juga di setiap interaksi kecil yang terjadi di antara kami. Tetapi justru, di waktu yang singkat inilah, semua terasa lebih spesial. Dan begitulah, kisah kami dimulai.

Bising bel istirahat terpantul di dinding-dinding sekolah, secepat kilat, aku berjalan keluar dari kelas dengan satu tujuan, yaitu lantai tiga. Matahari bersinar terik, menyengat setiap kulit yang tak terlapisi pakaian. Sesampainya di persimpangan tangga, aku ragu-ragu untuk naik ke atas. Kakiku terasa berat melangkah dan jantungku berdegup kencang. Pasalnya, terakhir kali aku pergi ke lantai tiga itu sekitar dua tahun yang lalu. Juga, di area itu ada meninggalkan luka trauma bagiku. Beberapa saat terombang-ambing antara naik atau kembali ke kelas, ada seorang perempuan berkacamata yang turun dari atas. Ia melihatku kemudian berkata,

“Dicari Fya di atas kak,” ucapnya. Mendengar itu, tekadku kembali. Aku membulatkan niat, kemudian segara menaiki tangga menuju lantai tiga.

Beberapa saat, aku akhirnya sampai. Disambut dengan pemandangan kemegahan Gunung Rinjani dan persawahan hijau dengan beberapa tower jaringan sejauh mata memandang. Udara terasa sejuk di sini dikarenakan sirkulasi udara lancar, sangat berbeda dengan lantai dua. Aku melangkah, melewati sudut gedung kelas, sampai koridor panjang menyambut. Dan disitulah, ia terlihat berdiri. Menunggu sambil bersandar di tembok pembatas sambil memandang Gunung Rinjani. Ia menoleh, senyum langsung tersungging di wajahnya, sejenak, kemudian ia menyapaku.

“Hai kak!” ujarnya semangat sambil datang menghampiriku.

“Hai!” jawabku. Setelah ia cukup dekat, aku melanjutkan,

“Ayo?”

“Gazz,” balasnya. Setelah itu, kami berjalan beriringan menuruni tangga menuju kantin di lantai satu. Waktu kami sebenarnya tak pernah banyak, paling-paling hanya 10 menit. Namun, 10 menit bersamanya lebih istimewa daripada satu jam bersama orang lain.

Adik kelas yang baru naik ke jenjang yang lebih tinggi, bersama kakak kelas yang sudah akan pindah ke jenjang yang lain, kira-kira topik obrolan seperti apakah yang akan kami bicarakan? Kami berbicara tentang aftertaste dari ujian praktekku yang ternyata tak semenyeramkan bayanganku tadi malam, atau tentang seluk-beluk sekolah ini. Obrolan-obrolan ringan seperti itulah yang mengisi saat-saat bersama kami yang singkat itu.

Sehabis menelusuri kantin, menemaninya berbelanja banyak hal, kami kembali melalui rute yang sama. Rute terjauh yang kutahu. Sehabis 10 menit berlalu, kami kembali ke kelas masing-masing. Dengan meninggalkan perasaan kami, di persimpangan tangga itu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi