Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
9
Di Lampu Merah Itu
Drama

Bagian 1

“YA KALAU KAMU GAK BISA DISURUH-SURUH, NGAPAIN SAYA PUNYA ANAK! SAYA PUNYA ANAK TUJUANNYA BISA DISURUH-SURUH!” mobil itu menderu samar saat berhenti tepat di belakang garis lintasan pejalan kaki menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Aku membeku seketika, mulutku seperti dibungkam kuat oleh lakban berlapis-lapis. Sekuat tenaga kutahan agar air mataku tak jatuh, tetapi hey siapa yang tidak sakit setelah dimaki seperti itu? Rasanya seperti dicabik, tidak, lebih seperti dihujani peluru oleh senjata laras panjang yang hanya mengenai satu titik saja. Gemuruh hujan di luar bertambah deras, seolah dunia ikut memperolok keadaanku. 

          Lampu lalu lintas berubah hijau, mobil kembali melaju diikuti oleh ocehan perempuan itu. Malam itu terasa bagai neraka bagiku. Aku bahkan tidak bisa menikmati pemandangan di sekitarku lagi. Kemudian entah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata atau memang damage yang kuterima melebihi kapasitas maksimal, mataku terasa berat, kemudian perlahan berangsur-angsur tertutup, membawa serta semua kejadian pahit malam itu.

Bagian 2

“ANAK AN***, KAMU TAU ANAK AN***? KAMU DAH ITU!” 

“HAAAHKGH!” aku tersentak bangun, badanku gemetar, keringat dingin mengalir di leherku. Aku mencoba duduk, tetapi tidak bisa, badanku terlalu berat untuk sekadar duduk. Aku mencoba meraih guling yang teronggok bisu tak jauh disampingku, bisa! Setelah itu aku langsung mendekap erat guling itu. Berharap ia mampu setidaknya menenangkanku.

         Sayup-sayup derik jangkrik terdengar dari luar, sepertinya hujan telah usai? Aku tak peduli. Yang pasti, aku harus menenangkan diriku terlebih dahulu sekarang. Setelah sekitar 10 menit mendekap guling itu, akhirnya tubuhku berangsur-angsur membaik. Kemudian setelah merasa cukup baik, aku mencoba duduk dan syukurnya bisa. Aku duduk kemudian meraih jam beker yang terletak di meja sebelah tempat tidurku. pukul empat pagi… well sepertinya masih bisa tidur lagi barang setengah atau satu jam. Dan dengan itu, aku menyambung tidurku lagi.

Bagian 3

“ANAK AN***, KAMU TAU ANAK AN***? KAMU DAH ITU!” aku jadi teringat lagi tentang memori itu. Memori dimana seorang anak kelas dua SD yang dituduh tidak tidur siang, lantas dimaki dengan sebegitu kasarnya. Tak berdaya menghadapi hujanan makian yang perlahan menggerus bagian terdalamnya, ia hanya merespons dengan menangis. Ia tak bisa membela diri, ia tidak pernah diberikan hak untuk berbicara, memberitahukan peristiwa yang sebenarnya terjadi pada siang hari itu. Belum lagi sensasi cubitan yang lebih terasa seperti sayatan mendarat di sekujur tubuhnya, meninggalkan bekas-bekas berwarna kebiruan di hampir sekujur tubuhnya. Ia berteriak meminta tolong, menangis sejadi-jadinya, mengharap tuhan mengirim seseorang untuk membantunya. 

          Aku tak lagi mengingat susunan kata-katanya, hanya satu kata yang berputar, menutup yang lain. Selebihnya melebur menjadi suara yang sama, panjang, dan melelahkan. 

Di tengah-tengah siksaan itu, terdengar suara dari luar kamar—tepatnya dari ruang keluarga. Suara yang sedari tadi sangat dirindukan oleh anak itu. Suara orang yang akan melindunginya atau setidaknya menurunkan intensitas marah dari perempuan itu.

"NENG!"

"APA AN***, DIEM DULU NAPA! KESUKANYA KAMU NGEBELA ANAKMU JADI GINI KAN DIA!" iya… ia terkejut karena perempuan itu sekarang memanggil suaminya dengan panggilan an*** juga.

"APASI ANAKNYA DIPANGGIL A—"

"DIEM DULU AN*** KESUKANYA IKUT CAMPUR!!!" setelah melontarkan kalimat itu, perempuan itu berjalan keluar dari kamar dengan marah, menghampiri suaminya yang baru selesai melaksanakan salat ashar. Berbagai kata kasar sudah terlontar dari mulut perempuan itu. Sementara di sisi anak itu, ia masih meringis kesakitan. Selain kata kasar, ia juga beberapa kali mendengar perempuan itu mengajak suaminya bercerai ketimbang harus berkelahi setiap hari. Mendengar itu, anak itu berkata lirih di dalam hatinya “cerai aja sana an—”

           Beberapa saat kemudian, ia dipanggil keluar oleh bapaknya. Mereka berdua diusir dari rumah itu, luntang lantung tiga hari tiga malam, pindah-pindah penginapan, bahkan sampai menumpang tidur di rumah kakeknya anak ini.

Penutup

          Anak laki-laki itu tumbuh menjadi seorang laki-laki yang cerdas dan memiliki banyak teman. Tetapi, karena berbagai pengalaman menyakitkan yang telah ia hadapi, ia lebih cenderung pemalu dan tak banyak berbicara. Juga, ia akhirnya tumbuh dengan sikap defensif dan cenderung menjaga jarak dari kedua orang tuanya. Tetapi, pada akhirnya semua berjalan sebagaimana kehendak semesta berkata.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)