Jauh dari kota, sebuah desa kecil di pinggir hutan minim penerangan, angin mendesau. Membawa perasaan resah penduduk di malam-malam tertentu.
Selalu terdengar suara anak kecil bergumam mencari seseorang dari jalanan yang gelap. Yang timbul tenggelam diiringi kabut setelah hujan.
"Alamatnya sudah betul belum, ya?"
Atau...
"Alamatnya sudah betul, kok." Berkata dengan dirinya sendiri.
Desa itu menjadi ramai dengan isu dan kekhawatiran. Pos jaga yang sebelumnya kotor dan menjadi sarang laba-laba, kini memiliki kehidupan setiap malamnya.
Ronda malam sudah dijadwalkan bergilir. Saking takutnya, desa kecil itu membuat tujuh titik pos yang berbeda untuk berjaga .
Warga sangat terganggu dengan kejadian motor salah seorang warga dicuri, ditambah datangnya suara yang meneror di malam hari. Mereka mengira suara itu berkaitan dengan maling yang menakuti warga desa.
.....
Malam pertama, kedua, hingga seminggu, aman. Memasuki satu bulan mulai tampak perubahan.
Hujan deras sejak sore, menjelang isya hujan mereda. Menyisakan rintik air hujan beserta kabut.
"Alamatnya sudah betul belum, ya?"
Terdengar lirih dan ragu, suara anak kecil perempuan.
"Alamatnya di mana..?"
Suara itu kembali terdengar dengan tangisan serak, hampir menangis. Suara yang membuat merinding dan membuat tengkuk siapapun meremang.
***
Suara itu didengar oleh salah satu penjaga ronda. Suara itu kadang jelas, samar, lalu menghilang. Begitu seterusnya. Ia meyakinkan diri untuk berpikir positif dengan apa yang didengar.
"Paling perasaanku saja, kedinginan, ngantuk, jadi ngelantur." Ia mengusap wajahnya dan menggelengkan kepala, mengusir kantuk.
Malam itu, pos ronda tidak seperti biasanya. Penjagaan pos mulai tidak tertib. Setiap malam setelah hujan, warga mulai malas berjaga, apalagi memasuki tengah malam, mereka bubar satu persatu. Dan malam itu, penjaga tiap pos yang seharusnya berlima, tersisa tiga orang. Pak Bandi, Pak Wardi, dan Pak Parjo.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Pak Parjo.
"Baru juga jam setengah sebelas. Sudah ngantuk, Pak?" Tanya Bandi yang dijawab gelengan oleh Pak Parjo.
Beberapa menit kemudian,
"Pak..minta tolong anterin ke alamat ini..."
Pak Parjo yang saat itu dimintai bantuan sontak terkejut melihat sosok anak perempuan kecil di depannya. Sejak awal, dialah yang mendengar suara aneh itu.
Kini ia saksikan wujud dari sosok yang meminta bantuan padanya. Ia kaget setengah mati, bibirnya sampai terbuka dan matanya melotot ngeri.
Pak Parjo lari terbirit-birit meninggalkan kedua rekannya yang kebingungan melihat tingkahnya.
"Pak Parjo kenapa itu, Pak Wardi?" Tanya Pak Bandi heran.
"Nggak tahu, Pak Parjo kan penakut. Lihat daun jatuh aja ngibrit, kayak waktu itu. Paling tadi juga gitu." Pak Wardi mencoba mencairkan suasana.
Malam semakin larut, angin berhembus dan dingin semakin menusuk. Pak Bandi merapatkan sarung yang dililitkan pada lehernya.
Pak Bandi terkantuk-kantuk, ia tidak begitu takut berjaga meskipun hanya berdua. Kebetulan, rumahnya tepat di depan pos ronda.
Pak Wardi sesekali mengusap wajah mengusir kantuk. Melihat hal itu, Pak Bandi menawarkan kopi.
"Pak, saya seduhkan kopi ya. Saya juga ngantuk berat ini. Dinginnya juga nggak kayak biasanya,"
"Boleh, tapi seingat saya air di termos habis," balas Pak Wardi.
"Walah, iya. Saya ambilkan dulu di rumah ya, Pak. Mau ikut atau di sini?"
"Saya di sini saja, ketua RT kok takut sendirian." Pak Wardi memberanikan diri.
Pak Bandi melangkahkan kaki menuju rumahnya, ia berniat akan membawa air panas dan cemilan untuk dimakan bersama Pak Wardi nanti di pos ronda.
Belum ada sepuluh menit, Pak Bandi keluar dari pintu rumahnya. Tangannya menenteng plastik berisi cemilan bersama termos.
Langkah Pak Bandi terhenti ketika Pak Wardi tidak ada di pos. Ia celingukan, pandangannya menangkap bayangan seseorang yang berjalan menjauhinya. Itu Pak Wardi.
Dengan rasa penasaran dan dongkol, Pak Bandi mengikuti arah Pak Wardi berjalan. Ia merasa dikhianati, dengan meninggalkannya sendirian berjaga.
Hal aneh dirasakan oleh Pak Bandi, jalan yang dilalui oleh Pak Wardi bukan jalan menuju rumahnya.
Langkah Pak Wardi terhenti di depan rumah yang telah lama kosong. Rumah lama milik salah satu warga yang beberapa bulan lalu pindah dengan istri mudanya.
Pak Bandi memanggil Pak Wardi dan menghampirinya.
"Pak RT, ngapain di situ?"
"Lha ini, nganterin anaknya Pak Ratno." Pak Wardi seperti tidak sadar dengan apa yang terjadi.
"Bapak sendirian, anaknya Pak Ratno kan udah meninggal di perjalanan sebelum ke sini to, Pak. Lagian Pak Ratno juga sudah tidak menempati rumah itu." Pak Bandi merinding ketika menunjuk rumah Pak Ratno.
"Loh, lha ini?" Pak Wardi mencoba memperlihatkan seseorang di sampingnya. Tidak ada.
"Setaaaaannnnn...!!!!!" Teriak Pak Wardi, ia lari terbirit-birit meninggalkan Pak Bandi di belakangnya.