Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
41
Si Tengil Kesayangan
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sudah hampir setengah jam lamanya Dela berdiri di samping gerbang sekolah menunggu angkutan umum. Tak lama, beberapa siswi lain menyusulnya. Dela yang terkenal dengan keramahannya, ditambah dia salah satu anggota organisasi penting di sekolah, menyapa mereka seolah teman dekat meskipun berbeda kelas, kenalannya banyak.

Dari belakang mereka, seorang siswa laki-laki menuntun motor gedenya pelan. Tidak jelas, siswa itu memakai helm full face hitam dengan kaca tertutup. Mengenakan jaket kanvas hitam dan slayer hitam putih senada. Menyapa Dela dan lainnya.

Dela hanya tersenyum sebagai respon, dia mencoba mengingat siapa siswa itu.

"Kemungkinannya dua, kalau bukan Brian si anak agamis, ya pasti si tengil playboy itu"

Dela mengawasi siswa itu, sampai dia tak sadar teman-teman dari kelas lain di sekitarnya berkomunikasi dengan siswa yang berbalut serba hitam itu. Anak laki-laki itu tidak bersuara, hanya membalas dengan beberapa gerakan kecil yang konyol.

Dela merasa siswa itu menatapnya di balik helm hitamnya, karena wajah helm terarah padanya. Dela meyakinkan dirinya bahwa dia bukan si playboy itu. Dengan alasan jika itu dia, pasti dia tidak segan membuka helm dan mengobrol biasa dengan temannya, apalagi mereka satu kelas.

Dela tidak begitu peduli. Dia kembali menatap jalan yang belum juga dilewati angkutan umum. Dela heran mengapa hari ini sepi. "Mungkin karena pulang awal, sopir mana tahu jadwal murid, apalagi jadwal rapat guru" pikirnya.

Dela kaget tiba-tiba anak laki-laki itu di depannya. Mereka saling tatap, kemudian anak laki-laki itu menepuk-nepuk jok belakang. Dela bingung,

"Del, mau dianterin tuh. Lumayan bisa buat tambah jajan besok" teman-teman Dela terkikik.

Dela tersenyum kuda dan menggeleng pelan. Namun anak itu kembali menepuk jok belakangnya. Entah sihir apa, Dela mau duduk membonceng. Teman-teman lainnya menggoda sebelum Dela dan anak itu melesat pergi.

Di perjalanan mereka saling diam, sesekali Dela memberi instruksi kepada anak itu jalan menuju rumahnya. Dela mulai curiga pada anak laki-laki itu setelah menyadari tas punggung yang ia kenal.

"Kamu Fendi, ya?!" Dela bertanya gusar. Anak laki-laki itu juga tak menjawab. Dela merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Bukan karena kecepatan laju motor tetapi karena ia sadar laki-laki yang memboncengnya adalah Fendi. Laki-laki tengil dan playboy, menurutnya.

Lima menit kemudian mereka sampai tujuan, rumah Dela, maksudnya rumah ayah Dela. Dela turun dari motor dengan terburu,

"Buka helm kamu!" Dela membentak anak itu. Anak laki-laki itu menghadapkan wajahnya di balik helm pada Dela, kemudian membuka helm dan menyunggingkan senyum tengil pada Dela.

"Fendiiiiiii...!!!" Dela berteriak kesal pada Fendi sambil menghentakkan kakinya. Fendi, siswa yang dulu sempat ia kagumi diam-diam namun kini berubah sebal karena cemburu buta.

"Terimakasih dulu dong." Fendi santai mengatakan itu kepada Dela.

"Nggak, nggak bakal! Sana pulang!" Dela mengusir Fendi cepat-cepat. Ia malu tadi sempat berteriak dan khawatir tetangganya mendengar.

"Numpang minum dong, Del. Haus nih." Fendi menggoda Dela. Ia senang Dela salah tingkah dengan wajah memerah.

"Nggak ada, pulang sana pulaaanggg..!" Dela semakin mendorong-dorong tubuh Fendi agar segera pergi. Ia takut ada orang lain mengira Dela diantar pulang pacar.

"Yaudah, mungkin lain kali ya, Del. Ketemu ayah sama ibumu. Dah, calon istriku, calon suamimu pulang dulu." Fendi memakai kembali helm dan menyalakan mesin motornya, kemudian menoleh pada Dela dan melambaikan tangannya, sejurus kemudian melesat dengan kecepatan sedang meninggalkan Dela sendirian.

Dela memperhatikan kepergian Fendi dengan sedih. Ia menunduk dan berjalan menuju rumah, ia bingung dengan perasaannya. Meskipun ilfeel, ia masih menyimpan cinta pada Fendi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi