Semua bermula dari kebodohan seorang lelaki yang memiliki tekad yang kuat untuk menjadi pintar. Maka datanglah ia kepada seorang gadis yang sangat ia akui kepintarannya, mungkin dalam benaknya ia berkata 'betapa pintarnya gadis ini, aku juga harus pintar seperti dirinya!'
Pria ini datang dan meminta gadis ini untuk mengajarinya banyak hal. Baik tentang hal sepele sampai ke hal yang rumit. Bagi gadis ini, mengajari seseorang adalah bentuk dirinya mempelajari hal baru, karena ia tidak pernah menganggap orang lain lebih bodoh darinya atau ia lebih pintar dari yang lain. Baginya, setiap kesempatan adalah waktu untuknya belajar.
Gadis ini tentu merasa sangat senang dengan kesempatan ini. Ia merasa ia memiliki teman baru untuk belajar, maka ia dengan segala pengetahuan yang ia punya, ia curahkan dengan semangat kepada pria ini.
Sang pria juga tampaknya merasa sangat senang bisa mempelajari hal baru. Mereka menjadi sangat dekat karena perihal belajar bersama. Lalu, tanpa mereka sadari mereka mulai tertarik satu sama lain. Sang gadis merasa bahwa sang pria adalah sosok yang sangat teguh, sementara si pria masih setia dengan anggapan tentang betapa pintarnya gadis ini.
Waktu berlalu begitu cepat sampai akhirnya mereka terpaksa dipisahkan oleh jarak. Namun, mereka masih berusaha untuk tetap terhubung. Terpaut jarak sejauh 500 kilometer bagi mereka bukanlah masalah, ditambah dukungan teknologi yang terus berkembang, mereka semakin intens dalam berkomunikasi.
Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sang gadis memilih jurusan yang sesuai dengan panggilan hatinya sementara sang pria masih setia dengan apa yang pernah di ajarkan sang gadis, ia semakin mendalami bidang tersebut.
Akan tetapi, sang gadis tidak menyangka bahwa setelah itu sang pria ini akan memakai kostum ular. Sang gadis yang masih berusaha memahami jurusannya dan mengerjakan semua tugasnya tiba-tiba saja di paksa untuk menyelesaikan urusan sang pria.
Sang pria terus saja 'meminta tolong' kepada sang gadis untuk menjelaskan apa yang ia tidak mengerti, padahal jurusan mereka sangatlah berbeda. Bagaikan langit dan bumi, jadi bayangkan saja saat sang gadis sedang berusaha sekuat tenaga untuk memahami bumi, ia juga dipaksa untuk memahami langit dan seisinya.
Walaupun sang gadis hanya mengetahui bahwa di langit ada awan, bulan dan bintang, bukan berarti ia paham bahwa rasi bintang A dapat membawa keberuntunga, sang gadis bahkan tidak tahu seberapa cepat bulan bergerak mengitari bumi dan kapan bumi bertegur sapa dengan planet lain.
Namun, dengan polosnya sang gadis masih menganggap kesempatan ini adalah waktu untuk dirinya mempelajari hal baru, maka sebelum ia menjawab dan menjelaskan hal yang di minta sang pria, ia akan mendalami hal tersebut, mencatatnya dan berulang kalo menghafalnya dan baru setelahnya ia jelaskan ke sang pria.
Mungkin itu adalah hal yang seharusnya di syukuri,
"Seharusnya sang gadis bersyukur, sang pria mau melibatkan sang gadis ke hal yang ia dalami!"
"Seharusnya sang gadis berterima kasih kepada sang pria karena sang pria memberinya pelajaran gratis!"
Betul, sang gadis seharusnya merasa berterimakasih dan bersyukur. Akan tetapi, gadis itu tidak dilibatkan, ia hanya disuruh memahami sendiri, tanpa ada buku, tanpa ada panduan bagaimana memahami hal tersebut, ia bahkan harus mengeluarkan uangnya yang seharusnya ia gunakan untuk bertahan hidup, ia gunakan untuk berlangganan ebook dan course yang tidak sesuai jurusannya. Dan ini berulang setiap saat.
Kejutan kemudian datang ketika sang gadis merasa lelah dan ingin menyerah dengan jurusannya, saat itu ia memilih untuk mencoba meminta tolong kepada sang pria untuk menjadi teman diskusinya. Ia hanya akan menanyakan pendapat sang pria karena ia tahu mempelajari jurusan sang pria saja sudah sangat sulit, akan sangat tidak bagus jika ia memaksa sang pria untuk mendalami jurusan sang gadis.
Jawaban sang pria sangatlah pendek dan menjadi jawaban setianya setiap kali sang gadis meminta tolong padanya.
"Tidak bisa, kenapa tidak tanya orang lain saja. Memangnya selama kelas kamu tidak mendengarkan yang dijelaskan dosen?!"
Ditanyakan pendapat saja ia sudah menjawab seperti ini, padahal pendapatnya tidak dijelaskan dosen sang gadis di kelasnya.
Beberapa kali sang gadis menghadapi jawaban seperti itu, sampai akhirnya ia muak dan mulai menolak 'permintaan tolong' sang pria. Ketika sang gadis menolak maka sang pria akan berkata:
"Masa jelasin yang ini aja kamu tidak mau, Ayolah, kamu kan baik, kamu juga pintar jadi memahami hal ini pasti tidak sulitkan bagimu?"
Kata-kata itulah yang selalu ia keluarkan sebagai jurus andalannya. Tentu, jurus tersbut tidak seefektif yang ia kira. Jika dulu sang gadis selalu memberikan penjelasan secara detail maka, saat ia sudah menolak dan sang pria mengeluarkan jurusnya ia hanya akan memberikan tautan e-book yang berkaitan dengan jurusan sang pria dan menyuruh sang pria untuk membacanya sendiri.
Respon sang pria tentu juga ikut berubah, ia mulai memberikan respon yang dingin dan singkat. Juga sang pria akan kembali menolak permintaan tolong sang gadis bahkan tidak membalasnya sama sekali.
Dari kejadian kecil inilah, sang gadis mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri satu pertanyaan.
"Jika nantinya, aku dan pria ini menjalin hubungan yang serius, apakah sang pria akan terus seperti ini? Terus menerus memaksaku melakukan hal yang sebenarnya bisa ia lakukan, dan ketika aku meminta tolong padanya hal yang sama ia akan menolaknya?"
Di titik ini, sang gadis masih diliputi kebodohan dan kepolosan akan dunia. Ia masih terus berkomunikasi dengan sang Pria. Hanya saja, sang gadis menulis di buku catatan miliknya bahwa kejadian berulang ini menjadi catatan nomor satu di Judul Red yang ia tulis.
Red Number 1