Mitos

“Bawa gunting kalau keluar rumah,” kalimat yang sudah ke-sekian kali keluar dari mulut ibu mertua Rini. 

Wanita yang tengah mengandung delapan bulan itu bosan setiap keluar rumah selalu diteriaki hal yang sama. Rini tak habis pikir. Di zaman modern ini masih ada orang yang berpikiran kolot.

Menurut mertuanya, barang-barang itu dapat menangkal bahaya. Bahaya seperti apa? Hantu? Sawan? Rini yakin gunting tak mampu menyakiti hantu. Lagi pula, dia keluar rumah pada sore hari, di mana para hantu masih ngorok. Ia juga hanya pergi ke warung yang tak jauh dari rumah. Jadi, dengan berani, Rini tak menghiraukannya.

Ketika melewati pintu, sang mertua menyusul, berkacak pinggang dan mengomel, “Kalau dibilangi orang tua itu manut. Kuping kamu dengar tidak, sih? Apa perlu dikorek pakai linggis?”

Rini merengut. Setahun tinggal bersama mertua yang cerewet, nyatanya membuat wanita itu ahli berpura-pura budeg. Ia hanya menganggapnya sebagai wanita tua rewel. Begitu pula dengan sang mertua yang menganggap Rini sebagai mantu ngeyel. 

“Ibu bilang, bawa ini!” Ibu mertuanya mengulurkan gunting lipat kepada Rini. “Aku nggak peduli sama keselamatanmu. Tapi, aku peduli sama cucuku.”

“Nggak mau!” tukas Rini. “Ini musrik. Perlindungan itu datangnya dari Allah, bukan dari benda seperti ini.”

“Sok-sokan nyebut Tuhan. Salat aja setahun sekali.”

“Tapi, Bu—“

“Susahnya apa, sih? Apa beratnya sampai sekilo?” Ia lantas merenggut daster mantunya, menyematkan peniti yang terkait dengan gunting ke daster.

Rini tambah merengut. “Udah? Ini aja? Nggak sekalian bawa kembang tujuh rupa?”

“Kok bisa, ya, anakku milih kamu jadi istrinya? Wong wadon ngeyel!”

Rini melangkah pergi. Meski bukan orang Jawa, dia paham apa yang diomelkan sang mertua.

Warung tempatnya membeli gula tidak terlalu jauh. Namun, perut yang besar membuatnya kekelahan. Ia istirahat di samping pos ronda.

Biasanya pada sore hari, pos itu sangat ramai. Beberapa ibu duduk di sana, menggosip sambil mengawasi anaknya bermain di lapangan di depan pos, sekalian menunggu suami pulang. Tetapi, hari ini tampak sepi.

Di samping lapangan, seorang wanita tampak melambai.

“Apa?” Rini mengedikkan dagu.

Wanita yang dikenal bernama Ratih itu tampak panik. Ia mengibaskan tangan, menyuruhnya pergi.

Rini menggeleng. Ia masih lelah. Dia mengernyit saat melihat Ratih menujuk-nunjuknya. “Pergi! Cepat!” serunya.

Seolah paham, Rini menoleh ke belakang. Lelaki kumal berdiri di belakangnya. Tanpa sebab, ia memukul Rini bertubi-tubi. 

“Tolong!” teriaknya. “Ada orang gila!” Ia mencoba lari, tetapi tak bisa. Perutnya tegang. Beberapa kali, orang gila itu menghantam bahunya. 

Rini menangis, menahan sakit dan takut. Ia lantas melihat benda yang dipaksa mertuanya untuk selalu dibawa. Dengan sentakan kasar, ia meraih gunting hingga peniti yang mengaitnya lepas, lalu membuka lipatannya, mengarahkan ujung runcingnya ke sang penyerang. 

Tangan sang penyerang yang ternyata membawa batu untuk dihantamkan ke kepala Rini tergores. Batunya jatuh. Ia melihat ngeri gunting yang diacungkan Rini, lantas mundur. 

“Pergi! Pergi!” Ratih datang membawa sapu. Ia mengayunkan gagangnya membabi buta. Orang gila itu pergi sambil berteriak tak jelas.

Ratih menarik Rini, menuntunnya duduk ke pos ronda. “Nyaris saja kepalamu bocor.”

Tangan Rini gemetar mengenggam gunting. Ratih yang melihatnya berkomentar, “Untung kamu bawa gunting.”

“Ya, untung aku bawa gunting.”

6 disukai 2.6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction