Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
5,766
๐‘ฏ๐‘ฐ๐‘ณ๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Pada akhirnya, tak lagi kutatap senyum pria yang sempat menemaniku beberapa minggu ini. Tak lagi kudengar suaranya saat menyapaku setiap pagi. Tak bisa kupandang kembali lambaian tangannya. Kini posisinya telah digantikan orang lain. Bahkan baju kerjanya pun dipakai oleh orang lain. Kepergiannya menimbulkan beribu pertanyaan yang ingin kulontarkan. Pertemuan singkat itu bermakna, namun kehilangannya masih melekat.ย ย 

Hari itu, sekitar pukul enam sore, aku bersama rekan kerja pergi mencari makan malam. Dari kejauhan, di tempat biasa aku membeli makanan, terlihat dua pria sedang menunggu antrean. Mungkin mereka sama sepertiku, terbiasa jajan di pinggir jalan. Saat aku datang, salah satu dari mereka memandangku lama. Sempat risih, tapi aku tak menggubris. Aku hanya ingin membeli Pop Mie kesukaanku. Sayangnya, Pop Mie sudah habis. Aku pun memutuskan pulang.ย ย 

Setelah pertemuan pertama itu, setiap kali aku belanja di depan bangunan baru, ia bersama temannya duduk di bawah pohon. Tiba-tiba saja ia memanggilku.ย ย 

โ€œMau ke mana?โ€ tanyanya.ย ย 

โ€œAlfa,โ€ jawabku singkat.ย ย 

Hingga aku selesai belanja, ia masih di posisi yang sama, kembali bertanya:ย ย 

โ€œUdah apa dari Alfa?โ€ย ย 

โ€œTop up,โ€ jawabku.ย ย 

โ€œTop up apa?โ€ย ย 

โ€œDana,โ€ kataku singkat sambil berlalu.ย ย 

Dua hari setelah kejadian itu, ia semakin sering menyapaku. Setiap pagi aku melewati tempat kerjanya, karena itu jalan satu-satunya menuju kantor. Ia bekerja di bangunan baru. Lama-lama aku bosan dengan pertanyaan yang sama: โ€œMau ke mana? Abis dari mana?โ€ Tapi sapaan itu tetap hadir, bahkan dengan panggilan akrab, โ€œTeh,โ€ dalam bahasa Sunda.ย ย 

Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Laki-laki berkulit hitam manis itu menghilang beberapa minggu. Padahal ia mampu membuatku merasa kehilangan. Ciri-cirinya sederhana: tinggi sekitar 160 cm, kulit hitam manis, dengan kumis tipis. Setiap pagi kami bertegur sapa, walau hanya sekadar โ€œHai.โ€ Tak bosan-bosannya ia menyapaku, hingga aku semakin akrab dengannya. Kami mulai berkomunikasi, meski hanya dua atau tiga kalimat.ย ย 

Namun entah ke mana ia sekarang. Setiap pagi aku melewati tempat kerjanya, tapi tak lagi kutemukan kehadirannya. Aku merindukan gurauannya, senyumnya, keramahan yang membuatku hangat. Ia selalu memanggil namaku, melambaikan tangan, berteriak menyapaku. Kini semua itu hilang.ย ย 

Akhir-akhir ini, posisinya di tempat kerja sudah digantikan orang lain. Bahkan baju kerjanya dipakai oleh pria lain. Aku kecewa, meski kami tak pernah benar-benar dekat. Keramahannya membuatku merasa dihargai. Aku yakin, jika takdir mempertemukan kami lagi, aku ingin bertanya lebih banyak kepadanya: ke mana ia pergi, mengapa menghilang begitu saja. Karena aku merindukan kehadirannya yang dulu mampu menyemangati hari-hariku.ย ย 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi