Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
40
Lebaran Yang Berbeda
Misteri
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Malam menjelang lebaran Amora baru pulang dari pasar, usianya baru 10 tahun tapi sudah bekerja lebih keras dari orang dewasa, ia tinggal bersama pamannya yang lumpuh mental bernama Bagus, meski pamannya tersebut bisa aktif menggunakan handphone. Ya, Amora yatim piatu dan keluarga satu satunya cuma sang paman.

‎Bagus sendiri tidak pernah keluar rumah dan bergaul, pernah diajak dinsos untuk berobat masalah kejiwaannya namun mengamuk berat, hingga akhirnya segala kebutuhan mereka ditanggung dinsos dan Amora pun bersekolah di sekolah rakyat.

‎Malamnya Amora tidur seperti biasa dimana ia mengucap assalamualaikum dulu pada pamannya yang hanya dijawab dengan anggukan.

‎***

‎Hingga di hari Idul Fitri tak seperti biasa sang paman keluar rumah dan belum kembali lagi, tapi tak apa bagi Amora, toh biasanya sejak kecil ia lebih merayakan hari raya Idul Fitri di dinsos, sedang Bagus biasanya di rumah, tapi karena hari ini sang paman tak seperti biasanya, Amora pun meminta pada dinsos untuk diantar pulang.

‎"Ga nginep kayak lebaran biasa, Mor?"

‎"Banyak door prize, loh."

‎Amora yang sejak dulu irit bicara hanya menggeleng, petugas dinsos mengerti, Amora pun dihadiahi bingkisan, kali ini lebih banyak dari lebaran sebelumnya, mungkin rasa bersalah dari para pekerja dinsos karena membiarkan seorang gadis kecil sendirian ketika pamannya raib entah kemana.

‎***

‎Amora masuk ke rumah, rumah yang lebih pantas disebut kandang burung. Ia mengucap salam meski tak ada yang menjawab lalu duduk di rumah tanpa kursi tersebut, listrik tak ia nyalakan untuk berhemat, hanya lampu luar, supaya orang yang lewat bisa melihat jalan.

‎Dalam suasana gelap Amora terkadang melihat handphone nya, ia melihat status pamannya di WhatsApp masih aktif, meski sejak tadi pesannya tak pernah dibaca sang paman, Amora menunggu sangat lama, hingga akhirnya ia tertidur, tanpa bantal, tanpa selimut, tanpa kasur, karena kelelahan.

‎Alam seolah tak mendukung kala itu, karena lima menit setelah terlelap, hujan deras membasahi, hujan di bulan Maret karena cuaca global sudah tak menentu, akibatnya Amora yang sudah kedinginan pun makin kedinginan.

‎***

‎Amora bangun sekitar pukul 4 pagi dengan keadaan masih mengantuk berat, suasana di luar masih ramai, sejak tadi pintu diketuk tapi Amora lelah dan baru terjaga, ia pun membukakan pintu, seorang petugas dinsos bernama Wulansari mencoba beramah tamah, tapi Amora tahu ada yang salah karena ia melihat handphone sang paman ada di tangannya.

‎"Dek, Om Bagus bilang dia mau kerja di luar kota,"

‎"Dia engga mau diganggu, jadi ini hape nya aku serahkan ke adek nya, ya."

‎"Nanti om hubungi adeknya pake hape dan nomor baru."

‎"Tunggu aja, dek."

‎Setelah menyampaikan pesan dan handphone Wulansari pun pergi, Amora hanya mematung di depan pintu.

‎***

‎Hingga di sore harinya petugas dinsos yang lain baru sempat datang mengecek karena seperti biasa hari raya memberi mereka kesibukan ekstra.

‎Tapi mereka terheran-heran,

‎TIDAK ADA PETUGAS DINSOS BERNAMA WULANSARI.

‎"Kayak apa ciri ciri petugasnya, dek?" Tanya salah satu petugas dinsos.

‎Namun jawaban dari Amora seolah template, berhijab, berusia sekitaran pertengahan dua puluhan, dan memakai seragam dinsos, seolah-olah memang Wulansari atau siapapun itu sengaja berpenampilan sama seperti petugas dinsos lainnya agar susah dilacak.

‎Amora kemudian mau merayakan hari kedua lebaran di tempat dinsos seperti biasa, ia amat yakin pamannya tidak akan pernah kembali, ia pun mengunci pintu, mungkin sejak detik itu rumahnya kini bukanlah rumah kandang burung itu lagi, melainkan bersama anak-anak malang lainnya di dinas sosial. Dan memang sampai Amora dewasa, berumah tangga, mempunyai banyak keturunan, dan kemudian berpulang, nasib Bagus tak pernah diketahui.

‎Ada selentingan Bagus menghilang karena dibegal, ikut mafia, dihilangkan penguasa, dan segala-gala hal negatif lainnya.

‎Di sepanjang hidupnya, Amora tahu bahwa sangat kecil kemungkinan sang paman tersayang akan pulang, atau seperti biasa menyuapi dirinya dengan lontong opor ayam ketika malam tiba di hari kedua Idul Fitri.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi