Pagi itu, seperti biasa, aroma kopi tubruk dari dapur menyusup ke hidungku. Wulan, istriku, sibuk menggoreng tempe di kompor. Rambutnya yang hitam legam diikat asal, dan senyumnya selalu hangat saat menyodorkan secangkir kopi panas. Kami sudah menikah sepuluh tahun, punya dua anak: Raka yang berusia delapan dan Sinta yang lima. Rumah kami di pinggir kampung Surabaya ini sederhana, tapi penuh tawa. Atau begitulah yang kukatakan pada diri sendiri setiap hari.
Tetangga sebelah, rumah Pak Hadi yang kosong dua tahun terakhir, tiba-tiba ramai. Seorang wanita muda pindah ke sana. Namanya Mira. Katanya, janda baru berusia 28 tahun, anaknya satu, masih balita. Mira datang dari Jakarta, katanya mencari udara segar setelah suaminya meninggal karena kecelakaan. Tubuhnya ramping, kulit sawo matang, dan matanya yang sipit selalu menyimpan rahasia. Setiap pagi, dia menyapu halaman, mengenakan kebaya ketat yang menonjolkan lekuk pinggangnya. Aku sering melirik dari balik jendela, pura-pura menyiram tanaman.
Awalnya, hanya basa-basi. "Pagi, Mas," sapanya suatu hari saat aku lewat depan pagarnya. Suaranya lembut, seperti angin musim hujan. Aku balas tersenyum, "Pagi, Mbak. Baru pindah ya?" Dari situ, obrolan mengalir. Dia cerita tentang Jakarta yang bikin lelah, tentang anaknya yang rewel. Aku cerita tentang pekerjaanku sebagai sopir angkot, tentang Wulan yang hamil anak ketiga. Tapi matanya, ya Tuhan, matanya selalu menarikku masuk.
Malam itu, Wulan tidur lebih dulu. Anak-anak sudah lena. Aku duduk di teras, menghisap rokok kretek. Tiba-tiba, Mira muncul di pagar belakang, membawa ember cucian. "Mas, boleh pinjam sabun colek? Habis nih," katanya sambil tersenyum malu-malu. Aku bangun, ambil sabun dari dapur, dan saat menyerahkan, jari kami bersentuhan. Hangat. Listrik seperti menyambar. "Makasih ya, Mas," bisiknya. Aku cuma mengangguk, jantung berdegup kencang.
Sejak saat itu, pertemuan kami jadi rahasia kecil. Pagi-pagi, saat Wulan ke pasar, aku "kebetulan" lewat halaman Mira. Dia ajak ngobrol, tawarkan teh manis. "Mas Andi kan suka manis," katanya, ingat-ingat detail kecil yang pernah kuceritakan. Aku tertawa, tapi dalam hati, ada yang bergolak. Wulan istriku, ibu anak-anakku. Tapi Mira... dia seperti mimpi yang hidup. Dia cerita tentang suaminya yang kasar, yang sering mabuk dan memukul. "Aku capek, Mas. Pengen ada yang sayang beneran," katanya suatu sore, air matanya menetes.
Suatu malam hujan deras. Angin menderu, petir menyambar. Wulan dan anak-anak tidur nyenyak di kamar. Aku gelisah, tak bisa pejamkan mata. Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu belakang. Mira berdiri di sana, basah kuyup, memeluk anaknya yang menangis. "Atap rumah bocor, Mas. Anakku kedinginan," katanya gemetar. Aku tarik dia masuk, diam-diam. Keringkan rambutnya dengan handuk, buatkan teh jahe panas. Anaknya kuentukkan di pangkuanku, dan Mira... dia menatapku dalam.
"Mas, kenapa aku selalu mikirin kamu?" tanyanya tiba-tiba. Aku diam, tapi tanganku sudah merangkul bahunya. Bibir kami bertemu di bawah gemuruh hujan. Lembut, manis, penuh rindu yang terpendam. Tubuhnya hangat menempel padaku, tangannya membelai dadaku. Kami berciuman lama, penuh gairah yang tak tertahankan. Aku angkat dia ke sofa tua di ruang tamu, buka kebaya basahnya perlahan. Kulitnya halus seperti sutra, payudaranya naik turun mengikuti napasnya yang tersengal. Aku cium lehernya, turun ke perutnya yang rata. Dia mendesah pelan, "Mas... aku cinta kamu."
Malam itu, kami bersatu. Tubuhku menekan tubuhnya, gerakan ritmis seperti ombak pantai Kenjeran. Dia merintih, kuku-kukunya mencengkeram punggungku. Keringat bercampur air hujan, nafas kami satu. Klimaks datang seperti badai, meninggalkan kami terkapar lemas. Anaknya tertidur di samping, tak sadar apa-apa. Setelah itu, dia pulang saat hujan reda, berjanji ini rahasia kami.
Tapi cinta seperti itu tak pernah diam. Kami curi-curi waktu. Saat Wulan ke dokter kandungan, Mira datang ke rumah. Kami bercinta di kamar mandi, cepat tapi intens. Atau di kebun belakang, bersembunyi di balik pohon mangga. Setiap sentuhan, setiap desahan, membuatku semakin tergila-gila. "Kamu lebih baik dari suamiku dulu," bisiknya. Aku bilang, "Ini salah, Mira. Tapi aku tak bisa berhenti."
Wulan mulai curiga. "Kamu kenapa sering melamun, Mas?" tanyanya suatu malam. Aku peluk dia, cium keningnya, tapi pikiranku melayang ke Mira. Anak ketiga lahir, bayi perempuan kami. Wulan bahagia, tapi aku merasa bersalah. Mira juga hamil. "Anakmu, Mas," katanya dengan senyum pahit. Aku panik. Bagaimana ini? Rumah tangga, anak, tetangga yang dekat.
Suatu hari, Pak Hadi pulang. Ternyata rumah itu miliknya, dia titipkan ke Mira sebagai pengasuh sementara. Mira panik, bilang mau pindah. "Jangan tinggalin aku, Mas," pintanya. Aku bimbang. Malam itu, aku konfrontasi diri. Duduk di masjid kampung, sholat tahajud. Tuhan, ampuni hamba-Mu yang lemah. Wulan setia, Mira hanya godaan setan.
Pagi harinya, Mira datang. "Aku mau ke Jakarta, Mas. Bawa anak kita." Aku pegang tangannya erat. "Jangan. Ini anakku juga. Tapi... aku pilih keluargaku." Air matanya jatuh. "Cinta kita sia-sia?" Aku geleng. "Ini ujian. Kita berpisah baik-baik." Dia pergi sore itu, tanpa pamit pada siapa pun.
Kini, pagar belakang sepi lagi. Wulan tersenyum saat menyodorkan kopi. Anak-anak lari-larian. Aku peluk Wulan, rasakan kehangatan yang sesungguhnya. Cinta pada Mira seperti mimpi basah, indah tapi rapuh. Cinta pada istriku? Abadi, seperti akar beringin di halaman rumah.