Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
2
Makhluk Itu, Benda Itu
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku berlari seperti kesetanan, menghindari kejaran makhluk berwujud manusia yang dapat memutar kepalanya 180 derajat.

Tempat itu seperti jalanan kecil di tengah pemukiman. Sekitarku tampak kelabu, entah karena kabut yang menyelimuti atau ketakutan yang mencengkeram.

Ketika aku melarikan diri, orang—atau makhluk—itu berdiri di depanku dengan menunjukkan seringai mengerikan di wajahnya. Gigi-giginya yang runcing terlihat di antara celah mulutnya. Napasku tersengal, namun aku berbalik untuk mencari jalan lain, berlari di jalan sempit dan berkelok untuk menghindar dari mimpi buruk.

Tiba-tiba, langkahku terhenti. Di sana, beberapa langkah dari tempatku berdiri, makhluk itu juga berdiri dengan membelakangiku. Perlahan, kepalanya berputar ke belakang hingga mata kami saling bertemu. Senyumannya yang terlampau lebar dan mengerikan tak memudar sedikit pun.

Aku mungkin segera melarikan diri setelahnya, karena selanjutnya, aku berada di kamar mandi sebuah rumah. Aku mengenalinya. Itu adalah rumah yang kutinggali dulu, rumah yang dipenuhi kenangan pahit namun selalu aku rindukan.

Ada dua atau mungkin tiga gadis lain ketika aku masuk. Kami menyadari bahwa pintu kamar mandi tidak dapat terkunci sementara mahluk itu sudah mendekat. Aku dapat mendengar suaranya. Aku dapat merasakan getaran ketakutan yang gadis-gadis itu rasakan.

Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, aku mengamati sosoknya. Aku harus melakukan sesuatu. Dengan setengah keberanian dan selebihnya kenekatan, aku membuka pintu dan keluar dari persembunyian.

Begitu menyadari kehadiranku, makhluk itu berjalan terhuyung-huyung seperti pria mabuk ke arahku. Ketika tangannya yang kurus dan pucat melesat ke arahku, kaki kananku dengan cepat mendorong tubuhnya yang rapuh hingga terbentur ke dinding. Tak sampai di situ, aku menjambak rambutnya yang telah separuh rontok dan membenturkan kepalanya ke dinding hingga terlepas dari lehernya.

Kepala yang sudah terputus itu ajaibnya mengecil hingga seukuran kepalan tangan. Aku mengambil benda kecil yang dibasahi cairan merah kental itu, kemudian menyembunyikannya di antara sesuatu—mungkin itu tanaman kol atau jamur, aku tidak tahu.

Di akhir kisah ini, aku hidup penuh kewaspadaan. Ketakutan mencengkeramku dengan erat. Bahwa mungkin seseorang akan menemukan benda itu—

Dreamstory adalah kisah yang ditulis berdasarkan mimpi—mimpi dalam tidur, ya—sang penulis.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)