Monokrom

Lembaran foto hitam putih yang tergeletak manis di rak penyimpanan barang itu menarik perhatianmu. Tangan yang sebelumnya kau pakai untuk mengurut lehermu kini beralih mengambil beberapa lembar foto berdebu. Kau lupa bahwa di luar sana langit tak lagi tunjukkan sinarnya, kau lupa akan rasa sakit di leher yang bangunkanmu dari tidur lelapmu. Kini kau lebih terfokus pada lembaran foto hitam putih itu. Lembaran foto yang membawamu kembali ke masa lalu. Oroma hari-hari itu menyeruak masuk seiring dengan lembaran foto yang kian berganti. Ah! Kau mengutuki rasa rindu yang selalu datang tanpa diundang ini.

Jam setengah tiga dini hari bukanlah waktu yang tepat untuk menelepon.

Tapi tak ada salahnya mencoba bukan?

Kau teringat bahwa Ibumu selalu terbangun pada jam ini. Karena itu kau beranikan diri tuk ambil ponselmu, menekan nomor yang kau hafal dan menikmati nada sambung dengan napas tertahan. Kau bahkan tak menampik helah lega saat panggilan itu disambut di ujung sana.

"Halo Le*, ada apa? Kok tumben telepon jam segini."

Suara itu masih sama lembutnya seperti yang terakhir kau ingat. Kau rasakan siraman air pada hatimu yang kering. Membuat senyum lebar tercetak jelas di wajahmu.

"Ndak ada apa-apa kok Bu, aku cuma rindu."

Dan kau yakin wanita di ujung sambungan itu juga tersenyum sama sepertimu.

*Panggilan untuk anak laki-laki

7 disukai 4 komentar 1.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@Gita Eva Oktavia
Lagunya Tulus bukan? Hehe
Btw, makasih udh mampir :)
@Voni lilia
UwU makasih, makasih juga udh mampir :)
lembaran foto hitam putih.. malah inget lagu hehe
Ugh.... Pemilihan katanya bagus.
Saran Flash Fiction