Aku mulai belajar bahasa Korea bukan karena ingin pergi ke Seoul, bukan pula karena drama atau musik seperti yang sering orang duga. Aku belajar karena aku kehabisan tempat untuk menaruh perasaan.
Bahasaku sendiri terlalu jujur. Setiap kata terasa seperti permintaan yang menuntut jawaban. Setiap kali aku ingin mengatakan aku cinta kamu, dadaku menegang, seolah setelah itu tidak ada ruang untuk mundur. Maka aku memilih bahasa lain bahasa yang tidak memaksaku untuk dimengerti.
Aku menghafal huruf hangul dengan kesabaran yang tidak pernah kupakai pada hal lain. Satu per satu, pelan, seolah setiap goresannya adalah cara lain untuk bernapas. Aku belajar menyusun kalimat sederhana, lalu yang lebih panjang. Aku tahu bagaimana mengatakan rindu, tahu bagaimana mengakui kehilangan, tahu bagaimana menyebut cinta tanpa harus mengharapkannya kembali.
Kau duduk di depanku hampir setiap hari. Membicarakan hal-hal kecil yang selalu berulang: pekerjaan, cuaca, kelelahan yang tidak pernah benar-benar selesai. Kau tidak pernah bertanya mengapa buku catatanku penuh dengan huruf yang asing bagimu. Kau hanya tersenyum, dan bagiku itu sudah cukup untuk terus diam.
Di kepalaku, aku sering berbicara kepadamu. Kalimat-kalimat yang tidak pernah keluar dalam bahasaku sendiri, justru terasa ringan ketika kupikirkan dalam bahasa lain. Ada jarak yang aman di sana. Ada ruang untuk jujur tanpa takut menuntut apa pun.
Aku menyukai kata 사랑해. Ia terdengar lembut dan selesai pada dirinya sendiri. Tidak seperti aku cinta kamu yang selalu terasa seperti pintu terbuka, menunggu seseorang masuk atau menutupnya dari dalam.
Suatu sore, ketika cahaya matahari jatuh perlahan di jendela, aku menyadari aku lelah menyimpan semuanya sendirian. Bukan lelah mencintaimu, tetapi lelah menahan diriku sendiri. Aku menatapmu, menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya, aku berbicara tanpa ragu.
“나는 네가 나를 사랑하지 않아도 괜찮아.
네가 이 말을 이해하지 못해도 괜찮아.
나는 그냥, 한 번쯤은 솔직해지고 싶었어.
너를 좋아하는 마음을 숨기지 않고 말하고 싶었어.
이건 대답을 바라서가 아니라,
내 마음을 나에게서 꺼내기 위해서야.”
Kau terdiam. Alismu sedikit berkerut, berusaha menangkap sesuatu yang tidak bisa kau jangkau.
“Kamu bilang apa?” tanyamu pelan.
Aku tersenyum. Bukan senyum berharap, bukan pula senyum sedih. Hanya senyum seseorang yang akhirnya berhenti menyimpan sesuatu terlalu lama.
“Tidak apa-apa,” jawabku.
Aku tahu, jika kuterjemahkan, kalimat itu akan berubah bentuk. Ia akan menjadi permintaan. Akan menuntut kejelasan, keputusan, atau penolakan. Maka aku membiarkannya tinggal di bahasanya sendiri tempat di mana perasaan tidak perlu diberi jawaban.
Sejak hari itu, aku berhenti belajar bahasa Korea. Buku-buku itu kututup. Catatan-catatan itu kusimpan rapi. Bukan karena aku berhenti mencintaimu, tetapi karena aku sudah selesai dengan caraku mencintai.
Aku sudah pernah mengatakannya.
Dengan utuh.
Dengan jujur.
Dengan bahasa yang tidak menuntut apa-apa.
In Korea means saranghae.
Dan dalam hidupku, itu berarti: aku sudah cukup berani untuk jujur, dan itu cukup.