Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini berubah.
Tidak ada momen dramatis.
Tidak ada kilat, tidak ada musik latar.
Hanya suatu hari aku menyadari namamu terasa lebih lama tinggal di kepalaku dibanding hal-hal lain yang seharusnya kupikirkan.
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Cara kamu diam sebelum menjawab.
Cara tawamu selalu datang terlambat, seolah hatimu perlu izin dulu untuk bahagia.
Aku tidak ingin memiliki.
Aneh, ya?
Aku hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja hari ini.
Apakah dunia memperlakukanmu dengan cukup lembut.
Dan di situlah aku sadar ini bukan sekadar suka.
Karena aku tidak lagi bertanya, “Apa yang kudapat?”
melainkan, “Apa yang bisa kujaga?”
Aku takut, tentu saja.
Jatuh cinta selalu datang bersama kemungkinan kehilangan.
Tapi entah kenapa, bersamamu, takut itu tidak terasa seperti ancaman melainkan risiko yang ingin kuambil.
Jika suatu hari perasaan ini harus berhenti, aku harap ia berhenti dengan sopan.
Tanpa penyesalan.
Tanpa amarah.
Karena mencintaimu, bahkan dalam diam,
sudah cukup membuatku merasa hidup.