Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
12
Patut Di Rayakan
Self Improvement

Perempuan itu lahir tanpa tahu bahwa dunia sudah menyiapkan daftar panjang tentang bagaimana ia seharusnya hidup.

Sejak kecil, ia dipuji karena manis, bukan karena berani. Ia diajarkan untuk duduk rapi, bukan untuk berlari kencang. Dunia menepuk bahunya ketika ia mengalah, tetapi mengernyit saat ia bersuara. Seolah-olah keberadaannya lebih nyaman ketika ia mengecil.

Namun hidup tidak pernah benar-benar kecil baginya.

Ia tumbuh dengan luka-luka yang tidak selalu berdarah. Luka karena dibandingkan. Luka karena diremehkan. Luka karena dianggap terlalu emosional ketika ia hanya sedang jujur pada perasaannya. Dunia sering menyebutnya “terlalu” terlalu keras, terlalu lembut, terlalu ambisius, terlalu memilih, terlalu diam.

Lucunya, dunia jarang merasa dirinya “terlalu” pada perempuan.

Ia pernah patah hati, bukan hanya karena cinta, tetapi karena harapan-harapan yang runtuh. Ia pernah berdiri di depan cermin dan bertanya, “Apa aku cukup?” Dan pertanyaan itu lebih tajam dari kritik mana pun.

Tetapi ada sesuatu yang dunia lupa pahami tentang perempuan: ia belajar.

Ia belajar dari kecewa.

Ia belajar dari ditinggalkan.

Ia belajar dari tidak didengar.

Dan dari semua itu, ia membangun dirinya ulang.

Pelan-pelan ia berhenti meminta izin untuk menjadi kuat. Ia berhenti mengecilkan mimpinya agar orang lain tidak merasa terancam. Ia mulai menyadari bahwa keberadaannya bukan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun, melainkan untuk hidup sepenuh-penuhnya.

Dunia mungkin memperlakukannya dengan standar ganda. Dunia mungkin menilainya lebih cepat daripada mendengarnya. Tapi perempuan itu akhirnya mengerti satu hal yang membebaskannya:

Ia bukan diciptakan untuk disukai semua orang.

Ia diciptakan untuk hidup dengan utuh.

Dan betapa indahnya ketika seorang perempuan berhenti bertanya apakah ia pantas, lalu mulai berkata, “Aku berharga.”

Perjalanannya bukan tentang melawan dunia dengan amarah, tetapi tentang berdamai dengan dirinya sendiri. Tentang memilih berdiri meski pernah diremukkan. Tentang tetap lembut di dunia yang kasar, tanpa kehilangan ketegasannya.

Monolog ini patut dirayakan.

Karena setiap perempuan yang tetap berjalan meski dunia meragukannya adalah revolusi kecil yang hidup.

Dan setiap langkahnya adalah perayaan diam-diam atas keberanian yang tidak selalu terlihat.

Ia bukan sekadar bertahan.

Ia bertumbuh.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Rekomendasi