The Ghost

Deron menenggak minuman kerasnya lagi. Empat botol sudah, habis ditenggak Deron dan kini efek dari minuman kerasnya semakin terasa. Penglihatan Deron mulai bergoyang dan Deron mulai kesulitan mengendalikan keseimbangan tubuhnya.

Deron menatap foto keluarganya dan meracau tidak karuan ke arah foto keluarganya.

Tepat setahun sudah kematian kedua orang tua Deron akibat kecelakaan. Tepat setahun juga semua warisan yang diberikan oleh kedua orang tuanya dihabiskan Deron untuk bersenang - senang dan berfoya - foya, terutama untuk membli minuman keras.

"Kalian meninggalkan uang terlalu sedikit untukku. Harusnya kalian meninggalkan lebih banyak uang. Baru setahun semenjak kematian kalian, aku sudah tidak punya apa - apa selain rumah ini. Warisan yang kalian berikan tidak cukup banyak untukku menikmati minuman ini. . ."

Dalam pandangannya yang mulai kabur, Deron melihat bayangan hitam bergerak di depannya.

Mungkinkah aku salah lihat? Apa itu tadi?

"Siapa itu?" teriak Deron memastikan.

Namun tak ada jawaban.

Deron membuka botol minuman kerasnya yang kelima dan mulai menenggak minumannya lagi.

Tidak lama kemudian, bayangan hitam itu muncul lagi dan kali ini Deron bisa melihatnya dengan jelas.

"Siapa di sana?" teriak Deron untuk kedua kalinya.

Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban untuk pertanyaan Deron.

Bayangan hitam itu terlihat lagi dan kali ini bergerak cepat di depan Deron melewati ruangan di mana Deron berada.

Kesal. Deron akhirnya berusaha bangkit dan berusaha memastikan bayangan hitam yang dilihatnya.

Dengan sempoyongan, Deron berusaha mengikuti bayangan hitam yang dilihatnya.

Sebuah pikiran kecil terlintas dalam pikiran Deron.

Mungkinkah itu hantu?

Hantu?

Ah, jika aku bisa bertemu dengannya, mungkin aku bisa meminta nomor judi dan menghasilkan uang dengan cepat.

Di bawah pengaruh minuman keras, Deron berusaha mengejar bayangan hitam yang sejak tadi menganggunya.

Bayangan hitam itu muncul lagi dan kali ini Deron berusaha untuk mengejarnya.

"Tunggu," teriak Deron.

Bayangan hitam itu tidak menghiraukan teriakan Deron dan terus bergerak membuat Deron mengumpat kesal ke arah bayangan hitam itu.

Sial.

Setelah berputar - putar cukup lama di dalam rumahnya, akhirnya bayangan hitam itu berhenti di tempat di mana Deron tadi menatap foto keluarganya.

Akhirnya. . .

Deron yang sudah kelelahan, berhasil mengikuti bayangan hitam itu dan berdiri di belakang bayangan hitam itu.

"Apakah kau hantu?" tanya Deron. "Jika benar, aku ingin bertanya. Kira - kira berapa nomor undian yang akan keluar agar aku bisa mendapatkan uang."

"Untuk apa uang itu?"

Bayangan itu bertanya kepada Deron.

"Untuk membeli minuman ini dan menikmati hidup."

Bayangan itu berbalik dan menatap Deron.

"Dasar goblokk. . . bagaimana bisa kamu meminta nomor undian kepada arwah kakekmu? Aku kemari karena merasa kasihan pada putra dan menantuku yang menangisi putranya. Tapi, yang kulihat justru berbeda dari bayanganku. Tak heran, putra dan menantuku menangis di dalam kuburnya. Kau bukannya mendoakan kedua orang tuamu justru menambah dosa kedua orang tuamu karena kelakuan burukmu itu. Karena perbuatanmu, putra dan menantuku harus mendapat dosa karena gagal membesarkanmu menjadi anak yang baik."

Bayangan itu mendekat dan hendak mencekik Deron.

-

Deron tersentak dan mendapati dirinya tertidur di depan foto keluarganya. Deron menatap foto keluarganya.

Apakah aku membuat ayah dan ibu menangis di sana?

8 disukai 2.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction