Signal

Kidung pupuh kinanti menggema di sepanjang lereng gunung ini. Biasanya terdengar subuh sampai siang hari. Kalau sore, beda lagi. Pupujian yang dilantunkan anak-anak kecil sehabis mandi. Sebelum magrib, kadang suara mereka tak berirama, Kadang juga mengharmoni. Kalau malam beda juga, terdengar cekakak-cekikikan para pemuda diselingi tarling. Kadang juga kidung seorang nenek yang sedang merapihkan baju-baju sehabis diambil sore tadi.

Begitulah, kebiasaan kampung ini. Kadang juga menjadi kebiasaan kampungmu saat kau masih kecil.

Sekarang kampungmu berbeda, mungkin banyak diantara kalian menunduk-nundukkan diri. Melihat dan mengusap-usap layar android. Ketika mereka tak menyala, kau buru-buru meronta, mencari sumber aliran listrik.

Di kampungku, listrik hanyalah untuk menerangi jalanan yang gelap-sepi. Sumber cahaya kami adalah mata kami sendiri, terkadang dibantu obor dan centir.

Lalu bagaimana kami bisa bertahan hidup, aku saja tahu ada instagram dan kabar terbaru Nikita Mirjani. Atau sinetron-sinetron yang banyak digemari.

Yah ... ! Setiap malam, bahkan kami menuruni lereng gunung, untuk menonton bareng di kampung terdekat. Dekatnya seperti jarak matahari dengan bumi. Biasanya Solehun, ketua Rt kampung sebelah yang mengeluarkan TVnya di pekarang rumah untuk ditonton warga kami.

Yang kami tonton kalau tidak sinetron, dangdut academy, dan acara gosip TV. Atau Pak Solehun menyetel kaset DVD kumpulan film Rhoma irama,Warkop, Barry prima, dan Suzzana.

Film yang terakhir tak pernah kami tonton sampai larut malam, karena kami tahu betapa jalan pulang yang kami susuri begitu sepi yang di pinggirnya terdapat pohon-pohon tinggi.

Bagaimana kampung kami ini? Sampai kapan harus begini. Ingin kubuka tirai yang membatasi kampung ini, tirai yang bisa membuat semua warganya melihat dunia yang berbeda, bukan hanya sekedar menonton acara televisi, ada yang lebih luas dari itu ketika Stasiun Tv sendiri dibatasi KPI.

Tirai yang bisa mengubah dan menjembatani mimpi-mimpi mereka. Dan juga aku. Aku ingin menemui mimpiku yang sejak dini, bertemu dengannya, cinta sejatiku yang terpisah saat dia pergi ke kota 4G.

8 disukai 3 komentar 7.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Kayak jaman ibuku dulu. Tapi bayar buat nonton pilem gitu.
@buayadayat : Iya mas, rindu suasana saat dulu tapi saya cuman rindu saja hahah. Entah kalau suasana sekarang ditukar dengan dulu apa sanggup menjalani.
Saat kampung tidak diromantisasi, malah rindu sinyal kemajuan.. Deskripsi detil kampung, malan bikin gue kangen suasana dulu sebelum kita disibukkan dengan diri sendiri.
Saran Flash Fiction