POSESIF

Kesekian kali pria itu menghela nafas. “Jangan lama-lama! Maksimal jam tiga! Itu udah depan rumah!” Nyengir sabar, diiyakannya lagi perintah itu. “Beb, lampu ijo nih. Bye.” Diakhirinya percakapan dan digasnya mobil itu.

Tak lama, panggilan kesekian masuk. Pintu sebelah membuka.

“Oi. Cepet lo dateng.” Riki menyeruak.

“Hm.” Disodorkannya hape, dimasukkannya gigi satu.

Alis Riki bertaut, “Ya?”

“Ki, gak mau tau, begitu urusan kalian selesai, Yayang langsung balik!”

Riki nyengir, melirik temannya, “Oke.”

Keep him off of booze!”

Riki mendeham, “Siap, bos!”

Careful, Yang!” Suara di seberang masih membayang saat Riki melemparkan hape ke dasbor.

Riki tertawa, ”Hati-hati Yaang... Bebi sayang kamuu...“

Temannya mendaratkan kepalan di perutnya.

 

Riki ikut bersandar ke handrail, berteriak, “Sekali disini, kagak turun lo!”

Temannya menyipit, menyebulkan menthol, “Dibilang gue lagi butuh nge-bar doang, brengsek. Masih puber aja lo, gak ada tempat maen laen!”

Bahak Riki timbul-tenggelam di antara beat dan glitch.

“Eh, mumpung lolos dari Bebi, manfaatin! Noh, Diva nunggu.” Bibir Riki tiba-tiba sudah nempel telinga.

Ditonjoknya bahu Riki. “Jarak, man, jarak. Reputasi gue, man.”

Riki terbahak lagi. Menarik paksa temannya, mereka tenggelam ke lautan manusia, cahaya, dan suara.

Galang mengerang. Mengambrukkan diri padanya, didorongnya Diva. “Bentar, Div...”

Tapi wanita itu kembali menimpa, “Uda capek? Kita pindah tempat aja, gimana? Hm?” Bibir mereka berjarak se-senti kini.

Cepat Galang mengingsutkan pantat ke cushion sebelah, duduk tegak. “Tulang gue...“ Lengannya menelisut ke belakang, mengurut punggung yang tadi mengadu panel head sofa. Ketika itu dirasakannya getaran di kantong paha. Hape-nya.

35 MISSED CALLS. Bebi.

Shit! Jam berapa ini?“

Diva terkekeh. “Cinderella! Jam malem abis, ha?“

Acuh, dilihatnya lagi hape.

WHATSAPP. 1h ago. Bebi.

Swipe right.

Tujuh gambar terunduh otomatis. Mobilnya di parkiran. Ia dan Riki di bar atas. Ia, Riki, dan Diva tengah minum di meja mereka. Sisanya gambar agak blur mereka tengah melantai.

What the—” Galang sontak berdiri. Menoleh ke segala arah.

“Oi. Nape, lo?” Riki tiba, mengernyit wajah pucat Galang. Diva membantu jawab dengan mengangkat bahu.

MESSAGE. 3.45 am. Bebi.Galeri. Sekarang. You dead, man.”

“Ga?”

Man, gue cabut! Mampus gue, mampusss!” menumpu Riki meloncati meja, Galang berjuang membuka jalan untuk lari.

“GA! TUNGGU! GAA!”

 

Keringat dingin menjajah dahi Galang. Bayang-bayang lampu-lampu jalan dan wajah Bebi beradu di sisa akalnya. Ketika dilihatnya gedung tujuan, dibantingnya setir parallel parking. Suara gesrekan keras menyertai.

Ketika Ia keluar, tempat sampah besi dan bemper kiri depan sudah sama-sama ringsek.

“YAYANGGG!!!”

Ia mendongak. Lima meter di depannya, berlatar-belakang kotak-kotak besar tripleks dilihatnya Bebi dan seorang pria.

Frozen, Galang menyaksikan Bebi berlari seolah slow motion ke arahnya, meloncat, dan…

GEPLAK!

“CINTA GUE!”

Galang memeluk kepala. Tapi tangan Bebi cepat beralih menghabisi bahu, bisep, dan perutnya. “KAMPRET! CINTA GUE! MATI LO, MATII!!!”

“Bebi! Bebi!” pria tadi menarik Bebi.

“Lepas! Dia perlu DIHAJAR!“ Gabriel menggeram menunjuk Galang.

“Tau gue ada show pagi ini, dia bawa lari si Cinta clubbing! AND SEE WHAT HE’S DONE!” Ditunjuknya ganti hatchback putih kesayangannya.

Gabriel mengambruk ke pelataran.

Galang speechless, nyengir bersalah pada kembarannya itu.

“MOBIL GUEE, YAYANG! CINTA GUEEE!!”

Tangis merana Gabriel berkumandang bersama adzan Subuh.

6 disukai 1 komentar 6.5K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction