Fairy Godmother

Pertama kali aku 'melihat'nya, adalah saat aku berusia enam tahun. Kala itu, aku adalah seorang anak yang menyedihkan. Kenapa? Ya... Karena aku tak memiliki ibu. Sedangkan ayahku adalah seorang pecundang. Pekerjaannya hanya tidur, mabuk-mabukan, lalu memukuliku. Belum cukup dengan penderitaan di rumah, teman-temanku juga selalu menggangguku. Dimulai dari keusilan kecil, seperti mencubit atau memukul, sampai yang tergolong ekstrim, seperti aku yang dikunci di gudang sekolah.

Tempat yang pengap ini seringkali menjadi saksi bisu, termasuk ketika aku bertemu dengannya. Ia datang dalam kilauan cahaya yang sampai membuatku menyipitkan mata. Wujudnya pun amat mengagumkan. Sepasang sayap putih terbentang indah. Ia juga memakai baju terusan berwarna senada, yang tampak berkilau. Aku, sebagai sosok berpenampilan lusuh ini, kalah jauh jika dibandingkan dengannya.

"Hai, Emily." Ia menatapku lembut. Senyumannya membuatku terhanyut sejenak. Baru pertama kali ada yang tersenyum begitu tulus untukku.

"Siapa?" Masih takut-takut, aku bertanya padanya. Ya. Dia siapa? Hantu-kah? Atau malaikat?

"Aku ibu peri." Sebelum aku sempat bertanya lagi, ia keburu menjelaskan. "Aku datang untuk melindungimu."

Melindungi? Tanyaku dalam hati. "Kenapa melindungiku?"

"Karena kau anak yang baik, Emily," jawabnya "Tugasku melindungimu, seperti ibu yang melindungi anaknya."

"Ibu? Aku tak punya ibu." Dalam sekejap, suasana hatiku berubah kelabu. Air mata yang kutahan pun terjun bebas di pipi. Makhluk di hadapanku mendekat. Jari-jari lentiknya menyeka pelupuk mataku. Tak kusangka, ternyata ia bisa menyentuhku. Kurasakan tangannya amat lembut.

"Jangan menangis, Emily. Anggaplah aku sebagai ibumu."

Kehadirannya membuat hari-hariku jadi berwarna. Orang lain memang tak bisa melihatnya, sehingga keberadaannya sangat spesial untukku. Ia hanya ada bagiku. Seperti halnya seorang ibu yang hanya dimiliki oleh seorang anak. Seluruh cinta, perhatian, dan kasih sayang tercurah hanya untukku semata.

"Orang jahat akan mendapat pembalasan," ucapnya setelah ia mengakhiri pembacaan dongeng Snow White. Aku sudah pernah mendengarnya dari guru. Bahkan aku pernah membacanya sendiri. Tapi, akhir cerita yang ia sampaikan sedikit berbeda.

"Snow White membalas perlakuan jahat ibu tirinya dengan menyuruhnya menari di atas bara panas, sampai sang ibu akhirnya mati."

"Mengerikan." Aku bergidik. Ibu peri menatapku serius.

"Karena ibu tiri Snow White sudah melakukan hal yang kejam. Jadi, dia pantas mendapatkannya."

"Tapi, bukankah membunuh itu hal yang jahat?"

"Tidak, bagi orang yang jahat, sayangku." Ibu peri tersenyum lembut saat mengucapkan kata-kata itu. "Percayalah, orang yang baik akan hidup bahagia, sedangkan orang yang jahat akan menderita."

Kalau begitu, aku ingin hidup bahagia. Seperti Snow White. Seperti Cinderella. Seperti Puteri Tidur. Seperti tokoh utama yang ada dalam dongeng.

"Ibu peri, aku ingin mereka mendapatkan balasannya."

Ibu peri seperti ibu yang melindungi anaknya. Jadi, ibu peri melakukan berbagai cara agar aku bahagia. Agar orang-orang yang menyakitiku mendapatkan balasan. Dengan tongkatnya, muncul sebuah botol. Dalam botol itu, terdapat cairan ajaib. Teteskan saja pada makanan atau minuman untuk mereka. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan balasannya.

Pertama, ku teteskan cairan itu pada makan pagi ayah. Setelah itu, aku pergi ke sekolah. Saat jam makan siang, aku bertugas menjadi penyedia makanan. Ku campurkan cairan ajaib itu pada satu dandang besar sup krim untuk anak-anak di sekolah.

Kulit mereka berubah jadi hijau. Kedua mata mereka mendelik. Cairan putih keluar dari rongga mulut. Semuanya menari seolah ada sepatu besi panas di kedua kakinya. Terus menari, sampai akhirnya satu per satu tumbang dengan rintihan. Melihat itu semua , entah kenapa aku tak merasa takut. Justru, aku merasa puas karena sudah memberikan balasan bagi mereka, orang-orang jahat. Aku, sebagai tokoh utama pun hidup bahagia selamanya.

990 dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction