You're gonna live forever in me.

"Semua yang hidup pasti mati." Ucap lembut seorang wanita Muda pada sosok bocah kecil yang kini menangis di hadapan peliharaannya yang terbaring lemas tak bernyawa.

"Terima kasih ya Dok, sudah merawat Tabby sekuat tenaga." Seorang wanita paruh baya menggenggam tangan wanita muda itu.

"Tidak perlu berterima kasih Bu, saya ingin minta maa-" Belum sempat ia membereskan kalimatnya, Wanita muda itu, Reva. Merasakan mual yang sangat mengganggu, ia meminta izin dengan jarinya kepada Ibu itu, dan berlari kekamar mandi.

Sarapan paginya berpindah dari perut, kedalam keloset. Bisa terlihat ada cukup banyak darah di muntahan itu.

"Kemo sial tidak berguna!" umpatnya pada diri sendiri. Ia membersihkan diri dan kembali pada Ibu dan Bocah itu.

***

"Ibu Reva Nasution." Mendengar namanya di panggil, Reva bangkit dan memasuki ruang periksa.

"Halo Bu- Mba Reva." Ia duduk berhadapan dengan dokter itu. Dokter itu melihat Reva dengan tatapan kasihan.

"Dari hasil lab yang kami ambil minggu lalu, Kanker Lambung yang anda derita sudah masuk dalam stadium 3. Dimana Seluruh lapisan lambung sudah digerogoti kanker atau banyak pertumbuhan kanker kecil yang menyebar luas ke kelenjar getah bening. Jika tidak segera di tangani, Kanker akan menyebar ke bagian organ tubuh lainnya." Jelas Dokter itu. Reva hanya bisa menghela nafas.

"Saya tahu ini berat, anda bisa memilih untuk Operasi dan Kemoterapi lagi. Atau Operasi dan Kemoradiasi." Dengan berat hati, Reva memilih untuk melakukan Operasi dan Kemoterapi lagi.

***

Reva hidup sebagai dokter hewan. Sebatang kara namun bisa menghidupi dirinya sendiri. Menurutnya hidupnya terlalu indah, sampai Kanker sialan itu menyerangnya.

Operasi telah selesai, Kini ia tengah melakukan Kemo. Rambutnya sudah botak dari satu tahun yang lalu, karena ia memang sudah melakukan Kemo sejak diagnosis pertamanya pada Stadium 2.

"Aga sakit ya, Rilex aja." Ucap perawat yang sepertinya baru.

"Kamu perawat baru ya?" Tanya Reva. Perawat dengan Nametag 'Brian' itu mengangguk dan tersenyum manis.

Banyak kesamaan antaramereka, secara pribadi Reva meminta pada Rumah Sakit untuk membuat Brian menjadi perawat pribadinya, tentu saja Reva harus membayar untuk itu.

***

Bulan demi bulan terlewati, Brian dan Reva menjadi sangat dekat, Hobi yang sama, ketertarikan pada hewan yang sama, dan lainnya. Membuat Reva sedikit terhibur saat melakukan Kemo. Walau sebenarnya tidak ada perubahan.

Tidak bisa dipungkiri, keduanya memiliki rasa yang sama.

"Dah selesai, Mba Reva boleh pulang. Jangan lupa balik lagi untuk kemo yaa." Ucap Brian sembari melepas infus pada Reva. Pria itu membantu Reva yang kini memiliki tubuh sangat kurus itu untuk turun dari kasur, namun Reva mulai merasa mual dan berlari ke arah kamar mandi.

Muntahnya berisi banyak darah. Ia tidak makan dengan benar, karena menelan pun sulit.

Brian menghampiri Reva yang terkapar di Kamar mandi.

***

"Semua yang hidup, Pasti mati. Ameen." Brian duduk di samping Reva.

"Saya tidak sempat mengucapkan cinta. Terima kasih sudah muncul dan mewarnai waktu kerja pertama saya." Buket bunga matahari ia taruh diatas pemakaman Reva.

"Ini bunga kesukaan Reva kan?" ucapnya, perlahan air matanya turun, sembari memeluk surat yang ia temukan di saku jas Reva saat Kemo terakhir.

"I hope i can live forever with you"

908 dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction