Rahara

Decitan engsel dari ayunan yang tengah diduduki oleh puan bernama Ara begitu jelas diterima indera pendengarannya. Ayunan ini tampak arkais, tapi masih dapat digerakkan, setidaknya. Ara berayun sangat pelan dengan manik mata yang menatap kosong. Netranya lantas berpindah ke arah anak laki-laki sedang berlari riang untuk duduk di atas ayunan di sebelahnya sembari membawa balon dan meminum susu kemasan.

DUAR! Balon milik si anak meletus, satunya lagi terbang, disusul oleh kicauan burung-burung yang berlalu-lalang. Tentu saja anak itu menangis dan merengek pergi menuju ibunya; meninggalkan ayunan dan menjatuhkan susu yang sedaritadi turut digenggam. Ara mendongak ke atas menyaksikan balon yang terbang tanpa menyadari airmatanya menetes kala percakapan keluh anak-ibu itu sayup-sayup terdengar.

“Burung nakal!” Ara tertunduk, mengusap perutnya yang sedang mengandung, menangis sejadi-jadinya, dan memukul perut besarnya. Ia ingin pulang, menyenderkan bahu pada pundak ibunya.

1 disukai 2 komentar 3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
puitis, malah jadi putus. 😂😂 mohon maaf. 🙏
sedih banget. bahasanya juga putus tapi enak dibaca. 🌟🌟🌟🌟/🌟🌟🌟🌟🌟 dari aku. 🙏
Saran Flash Fiction