Cerita Tentang Hujan

Sore itu langit sedang tidak mau bersahabat denganku. Hamparan awan kelabu bergulung-gulung semakin pekat warnanya. Segera aku mempercepat laju sepeda motorku menuju perpustakaan pusat Universitas Negeri Sebelas Maret. Ada tugas membuat makalah untuk melengkapi ujian semester. Dan itu membutuhkan referensi penunjang yang harus aku cari di sana.

Aku sengaja merantau ke Solo dan baru satu semester menuntut ilmu di universitas negeri terkemuka di kota itu. Aku ingin melupakan semua kenangan tentang Aninta. Karena pada chat terakhirku sebelum kelulusan SMA, dia menggantung semua harapanku.

Rupanya mendung sudah tidak kuat lagi menahan rindunya. Dan hujan pun turun dengan derasnya saat aku masih di tempat parkir. Aku segera berlari masuk perpustakaan pusat. 

Hujan di senja hari ini kembali mengingatkan aku pada Aninta. Aku rindu padanya. Aku pun berubah pikiran ketika melangkah menuju komputer katalog. Kupilih genre buku fiksi dan aku ketikan kata kunci hujan di sana. 

"Nah, ini dia Cerita Tentang Hujan. Kumpulan cerpen."

Aku segera menuju rak tempat buku itu berada. Tapi kosong! Aku beralih ke tempat pengembalian buku untuk menanyakan buku itu. Dan dijawab tidak ada oleh petugasnya.

"Mungkin sedang dibaca di sini atau masih tertinggal di meja baca dan belum dibawa kesini," kata petugas.

Aku segera meninggalkan tempat itu dan berkeliling perpustakaan ini untuk mencari buku itu. Tiba-tiba hp-ku bergetar. Ada chat masuk. Aninta!

"Aku lagi ada di sini." Tulisan itu kubaca pada layar hp-ku disertai foto selfi-nya dengan latar belakang rak-rak besar berisi buku-buku. 

"Kamu di mana sekarang? Masih di Australia?" Kuketik dan mengirimnya sambil terus berjalan.

Tiba-tiba aku menghentikan langkah sebelum hp-ku bergetar menerima jawaban dari Aninta. Karena pandangan mataku tertuju pada seorang gadis yang duduk sendirian di sebuah meja baca. Pakaian gadis itu dan rak-rak besar di belakangnya seperti foto yang barusan dikirim oleh Aninta.

Apakah dia ada di sini? Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan mejanya. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup buku yang sedang dibacanya. Aku terkejut tatkala membaca judul buku itu. Itu buku Cerita Tentang Hujan!

"Boleh buku itu aku pinjam?" tanyaku padanya. Tapi tidak ada jawaban. 

"Akan kutuliskan sajak indah untukmu sebagai penggantinya, mau?" lanjutku. 

Dia mulai terusik dengan tawaranku lalu menurunkan bukunya. Kami saling bertatap mata.

"Kamu?" Bola mata Aninta berbinar-binar ketika melihatku.

"Iya, ini aku, Aninta. Kamu jahat! Kenapa tidak memberi tahuku jika sudah kembali?"

"Maafkan aku." 

Aninta memang telah kembali ke tanah air. Orang tuanya menyuruh Aninta melanjutkan kuliah di Solo sekaligus menemani kakek neneknya. 

"Aku tidak ingin hati kita terluka karena jarak memisahkan kita lagi," katanya sambil menatapku dalam-dalam.

"Jogja - Solo tidaklah jauh jaraknya, Aninta," kataku sambil tersenyum.

"Terus kamu? Kuliah di sini juga?" tanya Aninta. Aku melihat kedua bola matanya kembali berbinar-binar saat mengucapkan pertanyaan itu.

"Iya. Ini kulakukan sebenarnya untuk melupakan kamu," jawabku berterus terang.

"Maafkan aku tidak memberi kepastian saat itu," kata Aninta dengan lesu.

"Tapi Cerita Tentang Hujan itu telah mempertemukan kita kembali. Maukah kubuatkan sajak indah lagi?"

Mendengar pertanyaanku itu Aninta segera menghambur kedalam pelukanku. Sementara hujan di senja hari turun semakin deras ....

TAMAT

465 dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction