Broken Home

Sudah sedari tadi gadis itu menatap gerimis yang kian jatuh ke bawah. Suara gerimis itu terdengar berirama seperti melodi sehingga membuatnya sedikit mengantuk.

Gadis itu bernama Dhina. Umurnya bisa dibilang masih pelajar SMA. Ia tinggal di apartemen yang sederhana itu sendirian.

Orangtuanya? Keduanya tidak akan pulang, karena mereka tidak tinggal bersama Dhina. Mereka gila kerja sehingga menelentarakan anaknya sendiri, jadi keduanya hanya mengirim uang untuknya selama tinggal. Dhina juga tak memiliki seorang teman pun selama sekolah. Temannya hanyalah uang, tetapi ia merasa bosan dengan uang.

Dhina merapatkan sweater yang dipakainya, merinding saat udara dingin tiba-tiba menyentuh kulitnya.

“Haaa… bosan sekali..”

Bagaimana tidak bosan? Ia tinggal seorang diri, tidak ada siapa-siapa di rumah. Gadis itu hanya dibekali uang yang diberikan orang tuanya. Apalagi kehidupan yang dijalaninya hanya itu-itu saja. Keseharian Dhina berputar-putar seperti rekaman film. Tidak ada yang spesial.

Ah iya, aku harus membuang sampah dulu, batinnya beranjak dari duduk dengan buru-buru sebelum hujan makin deras. 

Dhina membawa kantung berisi sampah itu dan keluar dari apartemen-nya menuju tempat sampah besar. Sesampai ia dilantai dasar Dhina pergi menuju pintu bertulis exit, dan barulah ia menemukan teras berkawasan tempat sampah besar. 

Karena jaraknya agak jauh darinya Dhina segera membuka payungnya untuk pergi ke sana.

Ketika ia sampai di sana Dhina bertemu dengan kakak tetangga apartemennya, Remy, yang juga sedang membuang sampah. Karena merasa canggung Dhina memutuskan untuk menyapanya. “Sore, Kak Remy.”

Mendengar suara sapaan itu Remy menoleh. Setelah tahu siapa yang menyapa ia menghiraukannya dan sibuk menaruh sampah-sampahnya ke box. Merasa tak enak karena suasana sunyi, Dhina membuka suara lagi.

“Ummm, sepertinya sampah yang kakak bawa banyak sekali, ya.”

"Berisik!" desisnya kemudian, "Lebih baik kamu diam saja dan pergi dari sini."

Dhina membalas dengan senyum kecut, "Saya masih belum tuntas membereskan sampahnya."

Tiba-tiba suara dering ponsel milik Remy berbunyi, ia mengangkat telepon itu dan tak lama kemudian menutupnya kembali. Remy kemudian melempar kantung sampah terakhirnya ke arah Dhina.

"Nih, kantung sampahku. Katanya kamu belum selesai membereskan sampahnya. Dan ingatlah baik-baik, jangan pernah sekalipun mengajak berbicara denganku, posisimu benar-benar tak pantas dekat denganku."

Remy kemudian menepis payung yang dipegang Dhina karena menghalangi pemandangannya. "Dasar bocah broken home." 

Gadis itu kemudian berlalu pergi dari area tempat sampah, meninggalkan Dhina yang masih terpaku di tempat tanpa mengeluarkan kata apapun.

Kedua matanya menahan air mata yang sedari tadi ia tahan. Namun karena perasaan yang ia rasakan tidak bisa ditahan lagi, Dhina menangis dengan terisak-isak.

Dhina tidak tahu harus menyuarakan apa saat Remy mengatakan hal itu. Gadis itu juga bingung apa yang harus ia lakukan di posisi sekarang ini. Orang tuanya pergi begitu saja meninggalkan anaknya dan menyibukkan diri dengan pekerjaan, bagaimana Dhina bisa menyuarakan isi hatinya kepada mereka kalau keduanya pergi seperti ini?

Hujan yang awalnya gerimis mulai menderas dengan kencangnya. Seluruh tubuhnya sudah terguyur oleh air hujan itu. Hawa dingin yang kemudian menusuk, membuat Dhina semakin terisak-isak tak kuasa menahan sesak yang begitu dalam.

"Aku ingin semuanya berkumpul bersama, bukannya berpisah-pisah seperti ini.." ujarnya diselingi isakkan, namun hatinya yang selalu tetap tegar.

***

1 disukai 2 komentar 3.8K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Wahh sama2 kakk, makasih juga hehe😆🙏
Kamu semangat juga nulisnya.. Makasih buat komennya di flash fictionku.. Terima kasih
Saran Flash Fiction