Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
5,581
One Day
Drama

Cuaca yang tidak menentu membuat banyak wabah penyakit bermunculan, satu demi satu penyakit aneh mulai berdatangan menyebabkan masyarakat mengalami kepanikan serta merosotnya perekonomian masyarakat. Banyak yang mencoba berbagai cara untuk bertahan hidup hingga ada yang menentang pemerintah yang sudah berusaha mencegah wabah itu menyebar luas.

Beberapa hari ke depan banyak warga kota yang mengalami kematian aneh, ada yang jatuh tersungkur, kejang-kejang, muntah darah dan bahkan ada juga yang meninggal ketika duduk bersama-sama.

Munculnya penyakit aneh ini langsung membuat dokter dan paramedis mengambil tindakan. Solusi serta pencegahan dilakukan untuk menghalangi wabah ini menyebar namun tidak ada satu pun yang berhasil menghentikan lajunya yang semakin meningkat setiap hari.

Lelah, paramedis bahkan menjadi korban akibat keganasan virus ini. Dokter kelelahan dalam menangani kasus hingga beberapa warga juga mulai mengalami tekanan batin akibat banyaknya aturan yang harus diterapkan.

"Dokter! Pasien yang diisolasi di rumahnya bunuh diri, mayatnya ditemukan tadi pagi tergantung di kamar mandi." Perawat yang menemani Andita masuk ke dalam ruang kerjanya dengan langkah kaki terburu-buru.

Perawat itu bahkan hampir jatuh berkali-kali karena terburu-buru, wajah cantik perawat itu terlihat pucat dengan napasnya yang tersengal-sengal akibat kecepatan laju kakinya melangkah.

"Terjadi lagi," desah dokter cantik itu membalik kursinya hingga dapat melihat perawat yang datang membawa kabar.

"Kali ini sudah 20 orang yang melakukan tindakan itu, Dok! Saya merasa mereka mungkin mengalami depresi akibat tekanan lingkungan sekitar yang tidak mendukung serta kurangnya kepedulian masyarakat terhadap wabah ini." Perawat itu masuk dengan wajah sedihnya.

Dulu rambut panjang milik perawat itu tergerai lembut sampai ke pinggang namun kini rambutnya harus diikat ekor kuda agar tidak menganggu pekerjaannya. Mata hitamnya tampak lelah seolah menyampaikan kalau dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi semua ini.

"Ya, aku pikir kita perlu mengubah cara menghadapi wabah ini. Wajar jika banyak yang bunuh diri, mereka yang biasanya berkumpul, makan bersama, merayakan apa saja bersama tiba-tiba harus berjauhan. Butuh penyesuaian diri ekstra untuk menghadapi semua ini." Dokter itu tampak berpikir lalu berjalan menuju ke luar ruangan yang menunjukkan betapa hidupnya aktivitas di rumah sakit ini sekarang.

"Dok! Bagaimana jika kita menyatukan mereka yang mengalami gejala ringan di satu ruangan besar." Ide si perawat dengan bibir tersenyum begitu lebar.

"Maksudmu?" Dokter itu mengalihkan pandangannya dengan wajah penasaran.

"Korban yang bunuh diri rata-rata adalah mereka yang masih muda bukan? Mereka yang terbiasa bermain serta berkumpul bersama teman. Nah dengan mereka dikumpulkan bersama maka mereka akan merasa tidak terlalu kesepian bukan?" Si perawat merasa ide yang disampaikan adalah sebuah kesempatan bagus untuk menghalangi kejadian ini terjadi lagi.

"Tapi itu akan membuat wabah semakin meningkat, tidak ada praktek di lapangan yang bisa membuktikan ini akan berhasil." So dokter kembali masuk ke dalam ruangannya.

Ia kembali duduk di kursinya membaca hasil laporan dari pasien yang terus masuk beberapa hari ini. Wabah ini benar-benar aneh dan menakutkan, tidak hanya menyerang kaum lanjut usia tapi juga menyerang kaum anak-anak hingga remaja yang begitu aktif diusianya.

Korban yang berjatuhan juga tidak banyak dari kaum lanjut usia, rata-rata yang meninggal adalah mereka yang berada di usia jayanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar