LURUH

Posisiku mulai terancam! Aku kembali teringat akan alunan musik yang kerap hiasi hari-hariku.

Datanglah

Kedatanganmu kutunggu

T'lah lama

Telah lama aku menunggu

Lirik lagu Ridho Rhoma sudah seharian tidak kudengar di ruang keluarga maupun di bibir Mimin. Sapaan manja juga belum kudapatkan darinya. Lama-lama aku bisa gila berada sendirian di sini! Kuedarkan pandangan ke segala arah, hasilnya tetap sama. Hanya keremangan menyelinap di dapur.

***

Alunan musik dangdut pagi ini berganti dengan lengkingan pita suara majikan. Lebih nyaring dari kicauan si beo di kandangnya. Sebelum menjalankan tugas, seperti biasa aku bersandar manis sembari menyantap obrolan di meja makan. Tak perlu menunggu waktu lama, nyonya dan tuan beradu argumen mengenai teknologi.

Pernah Mimin membawaku ke teras saat bercengkerama di sela tugas yang menunggunya di dapur. Orasi yang digembar-gemborkan oleh penjual kosmetik mampu membuai Mimin dalam kerumunan. Hasilnya, dia menelantarkanku tanpa memedulikan rambut yang baru saja dibersihkannya. Sesekali kulihat senyum pembantu cantik itu tampak riang.

Celotehnya mengudara, nyonya menjadi pendengar setia yang sangat antusias akan benda kecantikan wajah. Aku yang sedari tadi sebagai penonton tidak menyadari kalau Rio anak nyonya telah berdiri di depanku. Entah apa yang akan dilakukannya. Mendadak kepanikan menyelimuti. Takut dan bingung. Ah, aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Bocah itu ternyata mengajakku bermain di lantai. Kepulan debu telah hinggap ke sela-sela rambut. Meski dia sempat menariknya, namun ada rasa bahagia yang melanda. Di saat perasaan membuncah, kulihat nyonya mendekat.

"Sayang, itu kotor. Ayo, taruh di lantai," ucap nyonya sembari meraih tangan Rio.

Rio melepaskanku, lalu terjatuh ke lantai. Sakit? Itu pasti. Tapi lebih batinku lebih tersiksa! Rasa bahagia itu pun kandas. Berhari-hari kungkungan rindu belum juga hilang. Belaian hangat Mimin, maupun tawa renyah nyonya ketika membawaku ke rumah, dan juga jemari lentik mereka tak segan bertalian denganku perlahan memudar. Sepertinya cumbuan itu tidak akan ada lagi ditelan gegap gempita layar gadget menampilkan kemolekan produk berkelas, nyonya begitu tertarik hendak memilikinya.

"Min, pakai yang ini aja, lebih praktis!" seru nyonya sembari menyodorkannya pada Mimin. Aku tercekat. Betapa istimewa dan beruntungnya dia, desisku.

***

Pandanganku kosong bersamaan percikan air hujan yang mengenai tubuh. Mimin pulang kampung dan majikanku menghadiri hajatan di kampung sebelah. Alhasil aku sendiri di luar.

Hujan hari ini makin menggila melesat menumbruk tanah. Kulihat dari kejauhan mobil berwarna hitam berhenti di garasi. Aku bersorak girang melihat suami-istri itu kembali. Ayo, bawa aku masuk!

"Rio, ayo, turun dari sana! Pohonnya licin," Nyonya memberi peringatan pada putra semata wayangnya yang basah kuyup pulang bermain hujan.

Rio menuruti perintah nyonya. Ia berbisik dengan teman-temannya. Tidak jelas apa yang dibicarakan. Secara tidak terduga, tubuhku berguncang. Aku terpelanting.

Ya Tuhan ..., penopang rambutku telah terlepas! Rio bersama temannya mencengkeramku sangat kuat. Sesekali teriakan menggema dari bibir para bocah itu. Tak pelak jeratan menghimpit di antara tubuh dengan kayu. Tercekik di antara lilitan tali.

Aku baru menyadari kalau mereka menggunakanku sebagai 'galah', menggapai buah mangga yang ranum di pohonnya. Sudah selesai tugasku menjadi sapu ijuk. Meskipun tidak lagi membersihkan lantai dari debu dan sampah, hingga akhir kehadiranku tetap bisa berbagi.

***

235 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction