Avenoir

Tetiba saja aku termenung ketika melihat sebuah lukisan wajah darimu. Masih aku ingat, saat kamu memberikannya tepat sebelum aku lulus SMA.

Jika kita lihat kembali ke 7,5 tahun yang lalu, entah mengapa aku sangat ingin memulai semuanya dari awal.

Kamis, 10 Juli 2014

Hari itu, sekolah kita sedang mengadakan gladi resik perpisahan kelas tiga. Di sebuah lapang sekolah, aku sedang bermain musik dan kau menatapku dari jarak yang lumayan jauh. Mungkin, itu pertama kali kita bertemu dan aku tidak menghiraukannya.

Keesokan hari, pas aplikasi BlackBerry Messenger masih berjaya. Kau meminta Pin lewat Facebook, mungkin sejak saat itulah kita jadi dekat.

Ditambah, karena kita satu organisasi, membuat kita lebih sering bertemu. Sampai pada akhirnya, kita saling bertukar cerita, canda tawa bersama dan menonton teater bersama saat kita sama-sama diberi tugas pelajaran Bahasa Indonesia.

Jujur, aku mulai nyaman sama kamu dan alasanku tak pernah natap matamu saat bicara, karena ada rasa yang tak biasa.

6 Bulan Kemudian..

Senin, 12 Januari 2015

Siang itu, kita tak sengaja bertemu di tempat parkir. Aku melihat dengan jelas tatapan matamu itu, tetiba membuat jantung ini berdegup kencang.

Kamu bilang kepadaku, bahwa ada yang harus kamu katakan bila sore hari tiba.

Aku menunggu kedatanganmu di tempat biasa kita bertemu. Tetapi, kamu tidak datang saat itu, mungkin ada beberapa alasan yang membuatmu tak menepati janji.

Dua hari kemudian..

Aku mendengar kabar, kalau kamu telah memiliki kekasih. Itu membuatku sedikit menjaga jarak darimu.

Mungkin, kamu tak pernah merasakan, ketika mendengar kabar seseorang yang masih kamu sukai ternyata tidak lagi sendiri. Itulah yang pernah aku rasakan dulu.

Apakah hal ini yang ingin kamu bicarakan denganku kemarin..

Jum'at, 22 Mei 2015

Tepat dimana hari, saat kamu memberikan sebuah lukisan wajah kepadaku di depan sekre. Perasaanku senang tapi sedikit sedih juga, karena aku sudah memiliki kekasih dan saat itu kamu sudah sendiri lagi.

Rasanya, aku ingin kembali mempertanyakan hal yang belum kita selesaikan. Tetapi, aku merasakan keraguan dalam hati ini. Yang membuatku makin sedih dan bingung ketika kamu menyatakan perasaan sebenarnya kepadaku.

Kamu bilang, kamu telah menungguku selama ini sampai aku membuka hati untukmu. Kamu memintaku untuk pulang ke hatimu hari itu juga.

Sebenarnya, selama ini siapa yang salah..

Mengapa... Mengapa kamu membuatku bingung dan selalu menunggumu tanpa kejelasan yang pasti..

1 disukai 954 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction