Di Balik Tirai

Hari ini, Hari Sabtu. Seharusnya Hari ini adalah waktu istirahat untuk Lina. Istirahat dari rutinitas kuliah dan mengajar privat yang membuatnya tak bisa menikmati masa muda gelora seperti teman-temannya. Tetapi, tampaknya hari ini bukan harinya Lina. Ia terpaksa harus pergi bekerja untuk mempersiapkan siswa les privatnya ujian.

Pukul 15.00 ia sudah bersiap pergi dengan muka lesunya. Sebenarnya ia berharap hari ini adalah hari santainya menikmati drama Korea kesayangannya yang tayang pkl 16.00 sampai 17.30 menemaninya menunggu berbuka puasa. Harapan itu kandas setelah ia menerima telepon panggilan tugas.

Sepeda motor butut 2 tag keluaran tahun 1986 yang masih memakai oli samping, yang suaranya menderu hingga ratusan meter, yang kuncinya bisa kunci apa saja asalkan bisa masuk lubang kunci, selalu siap menemani. Tetapi agaknya sepeda motor itu juga menunjukkan rasa berontak seperti suara hati Lina. Setelah melalui belokan pertama terdengar suara

"krek krek krek"

Tiba-tiba motor itu terhenti karena rantainya lepas. Lina segara berbegas mencari bengkel di sekitarnya. Ternyata di depan motor tersebut terdapat bengkel dengan 3 pemuda yang sedang melamun menunggu pelanggannya. Benar saja tiba-tiba ada sesosok bidadari dengan motor bututnya membangunkan lamunan 3 bidadara tersebut.

Setelah sepeda motor dibenahi, Lina segera bergegas untuk menaikinya, berharap ia masih bisa melaksanakan tugasnya. Tapi nasib naas menimpanya lagi. 10 menit berjalan, sepeda itu macet lagi. Kali ini businya yang mungkin bermasalah. Untungnya didepan terdapat bengkel kecil dengan seorang bapak paruh baya yang sedang menambal ban sepeda yang lain. Kali ini Lina berusaha sabar dengan kejadian ini. Di lihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 16.45 sudah terlambat jika ia harus berangkat ke tempat les. Lina menarik nafas panjang menahan emosinya.

Setelah diperbaiki Lina pun menaiki sepeda motor tersebut dan berbalik arah beranjak pulang. Di tengah perjalanan, ujian tiba-tiba datang lagi. Motornya macet lagi. Kali ini Lina sudah tak bisa sabar seperti sebelumnya. Dia coba menyalakan sepeda motornya dengan menjejakkan kakinya pada stater sepeda. Dengan kesal ia terus berusaha agar sepedanya menyala.

"Klinting" besi tempat menyalakan motor yang sudah berkarat itu pun lepas dari tempatnya. Lina berusaha menahan tangisnya. Susah benar hidupnya hari ini. Sungguh kebetulan, di depan terdapat bengkel kecil yang sangat sederhana dengan seorang tua menunggu Lina menuntun sepeda motornya.

"Ada apa nduk?"

"Lepas pak." Sambil menunjuk besi yang lepas dan menahan sakit di lehernya karena tangis yang tertahan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.25 dan sebentar lagi adzan magrib. Bapak tua itu menyodorkan segelas air untuk Lina berbuka.

"Bapak sholat dulu ya nduk"

Lina melihat keadaan bengkel tersebut yang sangat tak layak huni. Ternyata bengkel itu juga merupakan tempat huni bapak tua tadi. Hati Lina terhenyak. Di mana rasa syukurnya selama ini? Dengan gaji lumayan, makan apapun bisa, tetapi masih tak bisa tahan dengan cobaan seperti hari ini. Sedangkan bapak tua itu, begitu khusyuknya ia bersyukur.

Lalu, bagaimana dengan rizki? Lina menyadari, betapa indahnya Allah mengatur rizki. Dimulai dari tiga bidadara, bapak setengah baya hingga bapak tua, itu semua tak lepas dari kuasa Allah. Melalui motor bututnya Allah berkuasa mengatur rizki setiap umatnya.

511 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction