Bidadari di perpustakaan

Jika aku mencintai, aku akan benar-benar menjaganya. Menjaga perasaannya, menjaga kehormatannya. Aku akan benar-benar mencintainya dengan baik.

Ilham melangkah masuk ke dalam perpus kampusnya. Mengelili rak demi rak dengan pandangan yang ikut menjelajah ke deretan buku yang terpajang di atas rak. Langkanya kemudian terhenti. Lalu menjulurkan tangannya dan mengambil sebuah buku dari atas rak. Setelah buku di tangan, seraya berjalan pelan Ilham membuka dan membacanya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah. Brak... Ilham bertabrakkan dengan seorang wanita hingga beberapa buku yang wanita pegang itu terjatuh. Wanita itu spontan berjongkok untuk memberesi buku-bukunya.

"Ah maaf, maafkan saya," ujar Ilham menyesal dengan perasaan tak enak.

Wanita itu menghentikan aktifitasnya dari membereskan buku lalu mendongak melihat ke arah Ilham. Wanita itu kemudian tersenyum.

"Tidak apa-apa. Jangan hawatir."

Melihat wajah itu seketika membuat Ilham tertegun. Aura dari wajah itu melebihi dari kata cantik. Ilham terpesona.

Wanita itu berdiri. Ilham masih tertegun.

"Maaf, anda tidak apa-apa?

Ilham gelagapan.

"I..iya, saya tidak apa-apa?" balas Ilham gagap.

"Sekali lagi saya minta maaf," lanjut Ilham.

Wanita itu tersenyum seraya sedikit mengangguk. Kemudian pamit pergi.

"Astagfirullah, sejenak aku tidak bisa menahan pandanganku. Ampuni hamba, ya Allah," gumam Ilham seraya melihat wanita itu dari belakang yang terus berjalan.

Tanpa wanita itu tahu, Setelah hari itu, Ilham mencari tahu banyak tentang dirinya. Kini Ilham tahu wanita itu bernama Qonita. Ilham pikir Qonitalah sosok wanita yang selama ini dia cari.

"Maaf, jika kedatangan saya mengejutkan Bapak dan Ibu. Tapi saya datang dengan niat baik. Saya ingin melamar putri Ibu dan Bapak." Qonita yang juga ada di sana terkejut.

"Saya menghargai niat baik itu. Namun untuk saat ini Bapak belum bisa menerimanya. Qonita masih mahasiawa tingkat pertama. Begitu kan, Nak?" ujar bapak Qonita yang melihat ke arah Qonita yang kemudian dijawab anggukan.

"Kami mungkin akan mempertimbangkannya, jika Nak Ilham datang ketika Qonita sudah lulus," lanjut bapak Qonita.

Meski sedikit kecewa, Ilham berusaha tetap tersenyum.

"Saya bisa mengerti dan menghargainya," balas Ilham.

Ini caraku mencintai. Aku akan menunggumu seraya terus memantaskan diri. Setelah kau lulus, Insya Allah, aku akan datang kembali. Batin Ilham sesaat setelah keluar dari rumah Qonita.

13 disukai 5 komentar 3.7K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Lidhamaul: pernah mengalami?
jadi ingat cerita-cerita nyata seperti ini saat kuliah :) manis.
Terimakasih. Happy reading.🙏
Menarik narasinya
Ah, seneng bgt baca ini
Saran Flash Fiction