Pohon Kematian

“Itu adalah pohon kematian. Kalau kamu bingung nyari tempat untuk mati, maka di sanalah yang paling tepat!” Arga menunjuk pada pohon beringin tua yang hidup sebatang kara di atas bukit kecil di balik ladang jagung dan gandum.

“Ah…” Neima manggut seraya menatap pohon tersebut.

Jika dilihat, tidak ada yang aneh pada beringin tersebut. Ia tumbuh baik dengan akar-akar besar yang timbul ke permukaan tanah. Batang-batangnya banyak dan terlihat segar hingga daunnya rimbun.

“Kenapa disebut pohon kematian?” Neima terlihat penasaran, sekalipun matanya tak lepas dari beringin tersebut.

“Dulu saat pembantaian terjadi, semua korbannya ditimbun dalam satu liang. Di atasnya ditanami pohon itu dan pernah juga ada seorang wanita hamil besar yang gantung diri di sana.”

“Ih ngeri.” Neima bergidik ngeri. Gadis delapan tahun itu masih menatap ke arah beringin meski sudah merasa merinding setelah mendengar cerita Argan, teman sebayanya.

“Argan! Neima!” teriak seorang wanita yang berada di balik rimbunya pohon jagung.

“Ayo pulang!” Argan menarik lengan Neima karena hari sudah sore. Ibunya pun sudah berteriak mengajak pergi, “Neima…” Bocah lelaki itu menggeram saat permintaannya tak kunjung di gubris, terlebih ditarik pun tetap diam saja.

“Argan! Neima!” Suara ibunya kembali terdengar, jika dilihat sedang berada di kawasan dilarang tersebut, ibunya pasti akan marah besar.

“Neima, ayo balik!” Argan semakin mempererat cengkramannya dan berusaha menyeret gadis itu yang tak bisa di gerakkan barang secenti pun, “Neima apa-apaan, sih!” grutunya kesal dan melepaskan lengan gadis itu dengan kasar.

Si gadis akhirnya menggerakan lehernya diiringi bunyi retakan yang memekakkan telinga. Arga menatap wajah Neima yang pucat dengan seringai senyum menghiasi bibirnya. Kedua mata Neima terlihat kosong hingga membuat Arga makin panik.

“Mari main!” ucap Neima dengan anggukan, namun suaranya terdengar lebih cadel dan agak berbeda dari suara Naima yang cempreng.

“Jangan seperti itu Neima.” Arga meletakan kedua lengannya di atas kedua bahu Neima, lalu menggoyang-goyangkannya dengan keras. Tak berselang lama tahu-tahu Neima tertawa dengan suara orang dewasa. Wajahnya mengadah kelangit dengan mulut terbuka lebar. Kedua tangan Neima bergerak-gerak tak karuan di samping tubuhnya yang mengejang. Arga tersentak kaget hingga tubuhnya terjungkal saat itu terjadi.

“Astagfirullah!” sentak seseorang bergegas menghampiri. Pria berpeci putih dengan sorban senada itu membantu Arga untuk bangun, kemudian menyimpan telapak tangan kirinya di puncak kepala Neima sementara satu tangannya mengadah setengah dada, “Berdoa, ya,” pintanya menatap Arga sekilas. Bocah itu menurut, melafalkan surat pendek yang di hafalnya.

Beberapa saat kemudian, angin kencang berhembus. Daun-daun kering berterbangan di sekitar bukit, suara jeritan membungbung tinggi ke langit. Arga menatap Neima yang terlihat kesakitan, ia menangis dalam doanya karena takut terjadi hal buruk pada kawannya itu. Kemudian, semuanya kembali normal dengan langit yang mulai gelap.

“Pulanglah dan jangan kembali. Lurus saja jangan lihat ke belakang. Ingat, ya.”

Arga mengangguk sesegukan, ia berbalik dan menggendong Neima di atas punggungnya. Entah dari mana kekuatan itu berasal, tubuh Neima terasa ringan saat ia berjalan menuruni bukit untuk pulang.

Sesampainya di jalan setapak menuju rumah, semua berhamburan menghampiri Arga dan membantunya. Di rumah, bocah lelaki itu menceritakan yang terjadi, namun tak ada yang tahu siapa sosok pria berpeci tersebut.

3 disukai 2 komentar 860 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@english : terima kasih hehe
Openingnya to the point....menghentak...suka
Saran Flash Fiction