Hujan

Suara hujan deras bergemuruh ketika menimpa atap seng rumah kumuh itu. Malam yang sepi di tengah pedesaan. Hanya ada aku dan Rey, kekasihku di ruangan yang gelap karena mati listrik. Cahaya bulan menyusup masuk melalui jendela tua yang terlepas dari engsel. Percikan air hujan yang terkena angin membasahi lantai.

Aku berdiri menatap Rey dengan pandangan tak percaya. Entah sudah sejak kapan, mataku mulai berair dan membanjiri pipiku.

“Jawab aku, Rey! Kenapa kamu mengkhianatiku?” Aku berteriak di tengah derasnya suara hujan. Sudah berkali-kali aku menanyakan hal yang sama, tapi laki-laki itu masih bergeming.

Aku frustrasi karena Rey tidak menjawab. Bahkan ia hanya berdiri kaku tanpa melihatku. Mata kosongnya menatap ke bawah.

Di sana, dekat kakinya, tubuhku tergolek tanpa nyawa. Sebilah pisau berlumur darah tergenggam di tangannya.

Dan aku melihatnya tersenyum.

23 disukai 30 komentar 6.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@rahmanandasw makasih kak ^_^
keren ceritanya kak
@rinafryanie : iya kak, ngeri tau2 udah mati huaahh makasih udah mampir kak :)
Uh, ngerii!
@rudiechakil makasih bang udah mampir hujan-hujan begini 🙏
Kereen nih
@donnysixx makasih udah mampir 🙏
Mantap Kak👍
Makasih bang @onetpenulis 🙏
nice story
Saran Flash Fiction