Setelah Aku Mati

Aku merasakan tubuhku melayang sangat ringan. Padahal seingatku, aku sedang berlari dengan air mata berderai. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri jika Rio berpelukan dengan sahabatku, Mika. Padahal Mika tahu jika aku menyukai Rio sejak dulu. Mika mengkhianatiku. 

Mungkin ini juga salahku karena sejak dulu aku tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku kepada Rio. Padahal setiap hari kita bertemu. Rio adalah tetangga sebelah rumahku.

Saat itu, selepas magrib aku sedang membuang sampah di tong sampah depan rumah. Biasanya sampah-sampah itu akan di angkut oleh petugas kebersihan setiap pagi. Aku melirik ke arah rumah Rio karena aku melihat dua bayangan sedang berdiri di depan rumahnya. Samar-samar karena kurangnya pencahayaan. Kedua bola mataku menatap visual yang tidak seharusnya aku lihat. Rio memeluk Mika yang menangis terguguk. Seketika hatiku hancur. Reflek aku berlari mengabaikan keranjang sampah yang masih aku pegang, aku hempaskan keranjang tersebut dan aku berlari membabi buta ke jalanan.

Air mata jatuh tak terbendung. Dada ini terasa sakit. Aku menyukai Rio, sangat menyukai Rio, dan Mika tahu semua isi hatiku. Namun mengapa ia berkhianat, menusukku dari belakang, sungguh sahabat tidak tahu diri! Tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya terang dari arah depan. Aku terkejut mendadak menghentikan lariku. Gemetar dan membeku tubuhku. Sulit untuk di gerakkan. Hanya telinga yang masih berfungsi. Aku mendengar sebuah teriakan dan Brakkk!!!!! Tubuhku terpental jauh dari tempatku berdiri, aku merasakan dunia ini berputar kemudian gelap dan semakin gelap. Lalu aku merasa tubuhku seringan kapas. Aku berdiri. Ku lihat sekelilingku yang mulai ramai.

Ada apa ini? Kenapa ramai sekali. Aku melihat Rio dan Mika yang juga berlari dengan raut wajah tegang. Aku mengejarnya. Rio langsung mendekap tubuh seseorang yang terbujur kaku di jalanan. Mika juga berteriak histeris. Aku mendekati mereka. Mulutku menganga lebar saat melihat siapa yang sedang mereka tangisi.

Ya! Tubuh itu adalah aku. Itu tubuhku. Nyawaku telah keluar dari tubuh. Rupanya kecelakaan yang barusan terjadi telah merenggut nyawaku dalam sekejap. Aku meraung. Tidak ada satupun yang mendengar. Bahkan aku juga tidak bisa menyentuh Rio.

***

Suasana pemakaman mengharu biru. Aku berdiri tidak jauh dari tempat mereka menatap nisan yang tertulis namaku. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Aku berteriak memanggil mereka satu persatu namun percuma. Mereka tidak akan bisa mendengarnya. Setelah beberapa menit berlalu lambat laun pemakaman mulai sepi. Kedua orang tua ku juga sudah beranjak dengan lesu. Tinggal lah Rio dan Mika yang masih menangisiku.

“Maafkan aku, Na. Aku mengkhianatimu. Dan sekarang aku terlambat untuk meminta maaf kepadamu,” ucap Mika. Aku menggeretakkan gigi-gigiku. Aku masih kesal dengan Mika.

“Rifanna, Rio lebih pantes sama kamu. Dia nolak aku, dia bilang, dia sayang sama kamu. Tapi kenapa sekarang kamu pergi tanpa pamit” Lanjut Mika. Ia berkali-kali mengusap wajahnya yang basah. Aku terkejut.

“Rifanna, maaf jika aku terlambat. Apa yang di katakan Mika benar. Sejak kita kecil aku sudah menyukaimu. Tapi aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan. Aku selalu mengagumimu dari jauh. Aku emang bodoh. Maafkan aku, Na. Aku sayang kamu.” Ungkap Rio dengan suara parau.

Bagai terkena irisan bawang, kedua mataku mendadak pedih dan mengeluarkan air mata. Tanganku menyentuh bahu mereka namun tidak bisa. Aku tidak bisa lagi menyentuh mereka. Tubuhku seperti angin yang bisa ditembus. Ini keselahanku, yang salah paham dengan penglihatan, kini aku cuma bisa menyesal.

“Selamat tinggal, Rio. Aku sayang kamu.”

3 disukai 601 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction