Perkara Dua Manusia

Gandih siap melompat. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk menaiki pembatas jembatan itu. Sebentar lagi, dia akan terombang ambing, tenggelam, dan kehabisan napas. Dan entah beruntung atau sial, ketika Gandih sudah benar-benar yakin untuk lompat, seorang perempuan tiba-tiba muncul. Perempuan yang langsung mengalihkan perhatian Gandih.

Perempuan bernama Hani itu dengan santainya mendekati pembatas jembatan. Dia berpegangan lalu memusatkan perhatiannya pada arus sungai yang deras, tanpa sekalipun mengindahkan seorang laki-laki yang tepat di sampingnya hendak melompat.

Gandih habis akal. Dia ingin melompat, tapi kehadiran Hani membuatnya sedikit terganggu. Dia hanya merasa aneh harus melompat di depan seorang perempuan.

"Woi!" Gandih berteriak.

"Kenapa? Mau lompat? Silakan!"

"Terus, kenapa kamu masih di sini?"

"Jembatan ini bukan milikmu. Ini milik umum dan aku punya hak yang sama berada di tempat ini."

Gandih mendengus. Dia jengkel, tapi melawan perempuan sepertinya bukan perkara yang sehat. Dia pun membalik, lalu duduk dengan kesal. Sementara Hani masih berdiri dengan mata yang awas pada riak sungai.

Tiba-tiba, Hani merasa pandangannya kabur dan berputar-putar. Sampai dia merasa akan ambruk saat itu juga. Gandih yang menoleh segera bangkit lalu meraih tubuh Hani yang hampir-hampir tumbang.

“Kamu baik-baik saja?”

“Iya… aku baik-baik saja.” Hani mencoba menahan dirinya sendiri sehingga Gandih terpaksa melepaskan genggamannya.

“Kamu sakit?” Gandih bertanya lagi, tapi kali itu hanya dijawab dengan senyum.

Hani lalu melangkah kembali dengan pelan ke pembatas jembatan, dan kembali memandangi arus sungai yang sepertinya bertambah deras. Gandih mengikuti.

“Aku kira kamu ingin lompat,” kata Hani pelan. Suaranya lemah.

“Lupakan!”

“Memangnya apa yang membuatmu ingin lompat?”

Gandih menarik napas yang dalam sebelum mulai bercerita. “Dulu… aku seorang pria yang senang mabuk-mabukan. Setiap pulang, ibuku selalu marah-marah karena mencium bau arak dari mulutku. Sampai suatu waktu aku kehilangan akal. Aku menghabisi nyawanya. Bapakku tentu geram. Dia memukulku dengan sangat keras. Untung sepupuku datang karena kalau tidak, bapakku mungkin sudah membunuhku saat itu. Namun gara-gara itu, aku mesti mendekam dalam penjara bertahun-tahun.”

Gandih menghela napas. Ada bongkahan dalam matanya yang sedang dia tahan. “Dan setelah keluar dari penjara, tidak ada lagi yang ingin menerimaku. Mereka seakan-akan menganggapku telah mati. Makanya, mengakhiri hidup mungkin jalan terbaik.”

Hani tertawa kecil. “Hanya karena itu kamu ingin mati?”

Gandih tersinggung.

“Kamu tahu?! Aku seorang perempuan kesepian. Ibu sama bapakku meninggal karena kanker sehingga aku mesti berjuang sendiri di kota ini. Belum lagi, mereka juga ternyata mewariskan kanker itu kepadaku. Bisa kaubayangkan betapa sulitnya hidup sendirian dengan kanker di tubuhmu?”

“Keluargamu yang lain?”

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain kanker di tubuhku.”

Gandih tercekat. Kisah hidup Hani ternyata lebih menghantam dadanya. Dia pun mulai menangis. Dia merasa dirinya terlalu konyol. Hidupnya tak seberat itu dan dia sudah memilih untuk mati. Jika ada orang yang perlu protes pada Tuhan, Hani-lah yang berhak, bukan dia.

“Kamu perempuan yang hebat. Aku merasa jadi orang paling tolol saat ini. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur lagi seperti kamu.”

Hani tersenyum. Dalam pikirannya, laki-laki itu tidak tahu saja kalau sore ini, dia sebenarnya juga ingin mengakhiri hidupnya. Tapi biarlah, biarlah waktu yang membereskan takdirnya.

Pinrang, 080421

3 disukai 999 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction