I DONT KNOW

Asap rokok menjadi rutinitas malam yang berbaur dengan sinar bulan. Satu hal yang kusadari, meski setiap harinya aku mengisap benda itu, tidak serta membuat mulut yang tadinya pahit menjadi manis. Apakah selera perempuan dan laki laki berbeda? Merokok aku jadikan tren saja agar merasa satu level dengan mereka.

"Pulang! Cewek nggak baik kelayaban malam." "Bentar lagi. Gue masih pengen nongkrong." "Keluarga loe nyariin entar," ucap teman laki lakiku berkumis tipis sambil menjentikan sisa abunya.

"Emang keluarga loe nggak nyariin?" Aku mengajukan pertanyaan serupa. Dari sunggingan tipis di bibirnya, aku tebak, dia terjebak dalam kelumit masalah keluarga bawang putih. Tidak akur, kan?

"Ya udah sama, keluarga gue juga nggak bakal nyariin. Eh, nyariin ding, paling akhirnya kena gampar."

"Ibu tiri loe baik, tuh," ucapnya lagi.

"Hmm, tapi suaminya temprament."

"Kayak loe?"

"Gue? Emang gue cepet emosian, ya? Marah aja jarang." Aku celupkan rokok hasil sedekah teman teman ke dalam susu. Asap yang tadinya tipis menguar tebal dan gelas susu yang tadinya putih, kini berbaur dengan abu. Setelah hening beberapa detik, pundakku dirangkul oleh temanku yang lain. Dia tersenyum manis memakaikan topi sampai wajahku tidak terlihat. "Nahan emosi itu ... sesaknya kayak mau mati. Kalau mau nangis, marah, atau ketawa kek orang gila lakuin aja. Tuhan nggak sejahat itu bikin loe harus mendem semuanya." Omongannya mengandung kebenaran juga. Ya udah, kapan kapan aku praktekkan. "Masalahnya ... gue nggak ada alasan harus ngelakuin itu."

7 disukai 1 komentar 4.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Good job for me. Wkwkkw
Saran Flash Fiction