Disukai
2
Dilihat
22,128
Bila Esok Matahari Bersinar Cerah
Drama


“Ingatlah wahai para pengembara, ketahuilah bahwa esok matahari tetap akan bersinar cerah sekalipun badai menerjang lebih lama.”

(Suatu sore, dipenghujung tahun 2024)

***

Matahari tengah berganti rupa saat aku tersungkur di samping ranjang. Aroma amis masih menyeruak, menyusup ke dalam hidung bersama noda merah yang belum sempat kuseka sore itu. Di luar, samar-samar kudengar gelak tawa anakku yang sedang bermain bersama Bapaknya—seolah bocah kecil itu telah sepenuhnya lupa pada badai yang baru saja menghantam kami beberapa saat lalu.

Langit sendiri sudah mendung sejak pagi, seakan tak lagi kuasa menahan beban yang dikandungnya. Hingga sore menjelang, air yang tumpah menyisakan genangan yang terus diusik oleh rinai hujan. Sesekali aku bertanya dalam hati, apakah gemuruh di luar sana terdengar sama mengerikannya dengan badai yang berkecamuk di dalam rumah ini? Aku menyingkap tirai sedikit, sekadar memastikan tidak ada telinga asing yang menguping, atau mata tetangga yang menguliti riak biduk rumah tangga kami.

Bukankah tak ada yang salah jika sepasang suami istri saling membagi suka dan duka? Begitu pula saat ini. Ketika Bapak memiliki terlalu banyak keresahan, tak ayal ia meluapkannya kepada kami. Seperti seorang istri pada umumnya, aku selalu memasang telinga dengan khidmat. Mendengar lebih banyak, bicara lebih sedikit, sembari berharap bebannya bisa agak teringankan—walau aku tahu, aku tak akan pernah bisa menyelesaikan masalahnya.

Di penghujung senja yang telah kehilangan seluruh warnanya, aku meronta. Entah setan apa yang tengah merasukiku. Mungkin benar kata orang tua dahulu, bahwa iblis mulai berkeliaran saat petang menjelang—sebuah peringatan agar aku tak melalaikan tiga rakaatku sekaligus benteng agar aku terjaga dari kemungkaran.

Namun, petang ini ego-ku telanjur koyak. Aku tersinggung parah oleh ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Bapak. Sebuah hinaan telanjang yang menegaskan betapa ia tidak pernah puas terhadapku.

Kalimat itu masih terngiang-ngiang, membakar telinga.

"Kamu wanita tak berguna! Kau tahu, ini yang membuatku enggan menyentuhmu. Bahkan aku jijik setiap kali melihat wajahmu!" sengatnya.

Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna keadaan. Gila. Ini sungguh gila. Ada sesuatu yang mendidih dan mendesak ingin melesat keluar dari dadaku.

Aku berbalik, memuntahkan seluruh isi kepalaku. Telunjukku mengacung tepat di depan wajah iblis yang menjelma dalam raga suamiku.

“Mengapa kau perlakukan aku seperti sampah yang tak berharga?!”

Aku menyentak bajuku, memamerkan lebam kebiruan yang tercetak di sekujur tubuh.

“Bukan cuma kamu yang menderita dalam pernikahan ini, tapi AKU!” Tubuhku bergetar hebat menahan emosi yang tumpah. Ia sama sekali tidak menampik.

Sudah kuduga. Cinta yang semula mati-matian diperjuangkan kini menguap menjadi kenangan—jenis kenangan yang membuatku jijik bahkan hanya untuk sekadar mengingatnya.

Air mataku luruh, persis seperti perempuan korban kekerasan pada umumnya. Di dalam hati, aku menjerit ingin bertanya; mengapa dulu ia memilihku jika sejak awal tahu aku bukanlah wanita tipenya? Apakah pernikahan ini semata-mata iseng-iseng berhadiah? Atau aku hanya dianggap sebagai investasi hari tuanya? Padahal, jika ini soal investasi, modal yang ia keluarkan untuk mendapatkanku pun berada jauh di bawah standar.

Selama ini, semua berjalan mulus di bawah kendalinya. Setidaknya, sebelum aku mengendus seluruh kebusukan yang ia sembunyikan—kebusukan yang menggilas habis prinsip hidup wanita konservatif sepertiku.

Masih segar dalam ingatanku, matanya yang membulat seolah ingin melompat keluar dari kelopaknya. Aku mencium sesuatu—aroma kematian yang seakan kian dekat mendekatiku. Benar saja, ia membungkuk, hendak mengambil sesuatu di bawah tempat tidur kami. Aku tahu di bawah sana ada sebilah parang yang memang sengaja disimpan untuk berjaga-jaga. Lantas aku bertanya pada diri sendiri, apakah ini juga bagian dari upaya "berjaga-jaga"? Sebuah cara purba agar aku tetap tunduk dan bertekuk lutut di bawah kendali seorang suami.

Agama seharusnya menjadi kompas kehidupan, menuntun menuju harmoni dan keseimbangan. Namun sering kali, aku merasa tercekik oleh begitu banyak batasan yang sengaja diciptakan untuk wanita dengan dalih kesucian.

Wanita dituntut untuk selalu menurut. Dijadikan objek pemuas hasrat yang wajib tunduk tanpa syarat. Ini adalah ego lelaki yang sengaja dikemas rapi dalam tameng religi. Lalu, apa yang terjadi jika seorang wanita berani bersuara dan menolak? Ia akan langsung dicap sebagai istri durhaka—perempuan pembangkang yang halal dilaknat oleh api neraka.

Padahal, kalian yang merasa derajatnya begitu tinggi, bukankah juga dilahirkan dari rahim seorang wanita? Manusia yang kerap kalian hina itu adalah jalan kalian melihat dunia. Sungguh memalukan saat kalimat nista keluar dari mulut manusia yang juga diciptakan dari air yang hina.

Berkacalah pada Adam yang terusir dari surga. Tuhan pun memberikan ganjaran bagi mereka yang lancang melanggar perintah-Nya, dan tidak serta-merta mengembalikan mereka ke keabadian, walau tangis dan sujud penyesalannya menghabiskan waktu lebih lama dari seluruh umur kehidupan kita.

Setelah semua ini, pantaskah kau tetap melangkah dengan angkuh tanpa rasa berdosa? Sungguh, iblis pun tahu diri ketika ia berbuat dosa.

***

Satu setengah bulan berlalu, kami masih hidup seperti biasa—tak banyak yang berubah. Hubungan kami tetap sedingin es, kecuali perasaanku yang kian mati rasa. Aku tetap melayaninya dengan patuh, mempraktikkan mentah-mentah nasihat sabar dan ikhlas yang kudengar dari kajian pekan lalu.

Tampaknya Bapak sedang sangat bahagia hari ini. Ia baru saja pulang dari Surabaya, membawa buah tangan dan beberapa mainan untuk anakku. Wajahnya begitu sumringah tanpa beban.

“Dek, minggu depan kita pergi ke Surabaya, ya? Mumpung masih libur sekolah,” ajaknya kepada Ibrahim yang tengah sibuk membongkar bungkusan mainan baru.

Sepertinya proyeknya berjalan lancar, batinku.

Bagi sebuah keluarga, hal ini tentu melegakan; jerih payah suamiku akhirnya terbayar. Namun di sudut hati yang lain, aku justru merasa perih melihat langkahnya yang begitu ringan. Senyum lebar yang tergambar di wajahnya terasa seperti ejekan bagiku. Di sini, di balik senyum palsu ini, aku masih menahan lara, memeluk luka yang membusuk setiap harinya.

Malam harinya, Bapak mengajak kami ke pasar malam. Kebetulan ini malam Minggu, jadi suasana jauh lebih ramai dan bising dari biasanya. Kami berkeliling, sesekali berhenti untuk menikmati kuliner pinggir jalan. Di tengah keramaian itu, mata Ibrahim tiba-tiba tertuju pada wahana bianglala. Ia merengek, meminta kami menaikinya bersama.

“Bapak, aku mau naik itu!” pinta Ibrahim sambil menunjuk roda raksasa yang berputar lambat di langit malam, tangan kecilnya menggandeng erat jemariku.

Tentu saja Bapak menurutinya dengan senang hati. Toh, tujuan kami ke sini memang hanya untuk menyenangkan anak kami. Satu-satunya alasan mengapa aku masih sudi berjalan di sampingnya.

Ibrahim begitu gembira saat kami mencapai titik tertinggi bianglala. Dari atas sini, ia berseru riang melihat rumah-rumah yang tampak sekecil biji kelereng. Tangan mungilnya menunjuk ke arah bawah bukit, memperlihatkan rumah kami yang samar-samar terlihat dari ketinggian.

Namun, kebahagiaan itu mendadak menguap. Bapak menyela, lalu sedetik kemudian pandangannya beralih menancap kepadaku.

"Mungkin sebentar lagi kita bakal pindah ke Surabaya. Aku sudah menemukan tempat tinggal dan sekolah yang cocok untuk Ibrahim di sana," ucapnya dengan mata berbinar penuh ambisi.

Deg.

Jantungku mencelos. Kutatap wajahnya lekat-lekat; ini bukan candaan. Ini adalah sorot mata penuh visi—sorot mata maskulin yang dulu sempat membutakanku hingga sudi menyerahkan seluruh hidupku kepadanya. Anehnya, selama ini tidak pernah ada obrolan sedikit pun ke arah sana. Dan ironisnya, ia sama sekali tidak merasa perlu meminta pendapatku.

"Kalau kita ke Surabaya, lalu bagaimana dengan pekerjaanku, Pak? Ini kan baru mau mulai semester baru. Aku masih punya tanggung jawab mengurus akreditasi sekolah," terangku, mencoba menahan riak cemas di depan anak.

Sebenarnya, aku hanya ingin tahu bagaimana cara Bapak mempertimbangkan keputusan besar ini. Namun, raut mukanya langsung berubah ketus. Ia memang bukan tipe pria yang mudah dibantah—lebih tepatnya, ego lakinya antikritik, apalagi untuk sesuatu yang sudah telanjur ia putuskan sendiri.

"Aku bilang lebih awal supaya kau bisa bersiap-siap jauh-jauh hari. Aku tidak meminta kamu langsung mengundurkan diri besok pagi. Toh, pekerjaanmu cuma guru TK, tidak akan jadi masalah kalau ke depannya kamu tidak bekerja lagi. Gajinya juga tidak seberapa," sanggahnya enteng, memotong kalimatku dengan mudah tanpa memedulikan harga diriku yang hancur berkeping-keping.

“Ini bukan soal uang, Pak. Ini tentang tanggung jawab!” nadaku meninggi, tak mampu lagi membendung sesak. “Lagipula, aku lebih nyaman di sini,” imbuhku mantap.

Mendengar itu, ia mendadak hendak berdiri. Gerakan kasarnya seketika membuat sangkar bianglala yang kami naiki bergoyang hebat. Ibrahim sontak ketakutan. Bocah kecil itu langsung melompat ke pelukanku, membuat posisi sangkar besi ini semakin miring dan tidak seimbang. Sembari mendekapnya erat, aku berusaha menenangkan Ibrahim dengan bisikan zikir, memohon pertolongan langsung dari Tuhan.

“Dasar wanita keras kepala! Kamu itu dari dulu sukanya melawan suami!” bentaknya keras. Ia mendorong bahuku dengan telapak tangannya yang besar.

Aku bergidik ngeri. Di ketinggian ini, bayangan bahwa kami bisa saja jatuh dan terluka membuat kudukku merinding. Bukankah ini terlalu berbahaya? Apakah ia sudah kehilangan akal sehat hingga tidak malu menunjukkan tabiat kasarnya di tempat umum? Bisa saja saat ini ada puluhan pasang mata di bawah sana yang sedang menguliti riak pertengkaran kami.

Namun, seperti biasa, tidak ada kesimpulan dari perdebatan singkat malam ini. Semua selalu berakhir buntu. Aku hanya bisa terdiam, membisu ketika hak suaraku dilucuti paksa.

Apakah sebagai seorang istri, aku memang pantas diperlakukan seperti ini?

“Taatilah kehendak suamimu selama itu tidak melanggar syariat-Nya.” Doktrin itu kembali terngiang-ngiang, berputar meracuni pikiranku. Namun, bukankah Allah juga dengan tegas melarang hamba-Nya untuk menyakiti diri sendiri? Jika membiarkan kezaliman terus terjadi dan menggerogoti jiwa raga kita, bukankah itu berarti kita juga turut andil dalam menyakiti diri sendiri?

Pikiranku mendadak terlempar pada ingatan kelam sore itu. Masa ketika Ibrahim bahkan belum genap berusia empat puluh hari. Dengan kejam, Bapak menyuruhku paksa untuk pulang dari rumah orang tuaku. Ia memaki habis-habisan, bahkan tega mengancam akan merebut Ibrahim dariku hanya karena aku tidak langsung menuruti perintahnya untuk kembali ke rumah kami.

Ia sama sekali tidak bertanya apakah ada kendala yang membuatku belum bisa pulang kala itu. Setelah bentakan demi bentakan itu, yang kuingat hanyalah aku yang meraung sejadi-jadinya, hingga pandanganku menggelap dan aku tak sadarkan diri sampai malam menjelang.

Orang tuaku yang mengetahui badai ini malah diam-diam segera mengatur kepulanganku, di tengah kondisi keuangan keluarga kami yang sedang tidak baik-baik saja. Mereka mengantarku kembali ke sisinya seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun padaku. Coba saja waktu itu Abah dan Ummi bertindak tegas menyoal tabiat buruk suamiku, mungkin saat ini garis ceritanya akan jauh berbeda.

Tok, tok...

“Assalamualaikum…”

Suara salam dari ruang tamu seketika memutus lamunanku. Seseorang melangkah masuk, membawa seplastik bungkusan makanan yang masih mengepul hangat.

“Waalaikumsalam…,” balasku sembari bergegas menyambut kedatangan Ummi. Aku meraih tangan beliau, menciumnya takzim demi mengharap berkah doa.

“Kok tumben tidak mengabari dulu, Mi?”

Ummi menggeleng pelan. “Ummi cuma mampir sebentar,” sahutnya seraya menarikku ke dalam pelukan hangat yang sangat kurindukan.

“Ada apa, Mi?” tanyaku heran, merasakan ada sesuatu yang ganjil dari kedatangannya yang tiba-tiba.

Ummi membimbingku untuk duduk. Beliau memandangku lekat-lekat, lalu mengusap kedua punggung tanganku dengan jemarinya yang mulai keriput. Sentuhan itu terasa begitu hangat, sekaligus menenangkan badai yang sejak tadi bergemuruh di dadaku.

“Kau tahu apa yang dijanjikan kepada wanita salehah? Wanita yang memuliakan suaminya di atas kepentingannya sendiri? Adalah surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Dan apakah kau tahu apa yang paling mulia dari keutamaan itu? Kau bisa masuk ke surga melalui pintu mana pun.”

Ummi merapikan kerudungku yang sudah basah oleh air mata. Beliau memalingkan wajahku ke arahnya dengan lembut. “Asal kamu istikamah, Nduk,” bisiknya.

Aku menyentak pelan, melepas genggaman tangan Ummi. Aku tak percaya beliau justru menyuruhku untuk tetap bertahan dan mengikhlaskan semua kebrutalan ini.

“Mi, bukankah aku juga berhak bahagia?” Aku memandangnya dengan tatapan penuh harap. Setidaknya, aku ingin ada satu orang dari keluargaku yang berdiri di pihakku.

Beliau menghela napas panjang, lalu kembali meraih dan menggenggam tanganku.

“Bahagia itu di sini,” ucapnya pelan, menunjuk sesuatu yang bersembunyi di dalam dada. “Bisa jadi ini adalah skenario yang sudah Allah siapkan untukmu, jadi berhusnudzonlah. Mengapa kau meragukan Dia Yang Maha Tahu?”

Aku kembali menggeleng kuat-kuat. Hatiku bergejolak hebat, menolak mentah-mentah pasrah yang dipaksakan.

“Tidak, Mi. Allah tidak sayang kepadaku! Mengapa doaku tidak pernah didengar dan tangisanku tidak pernah dijawab? Bukankah manusia diuji sesuai kemampuannya? Jika benar Allah itu Maha Tahu, seharusnya Dia tahu kalau aku sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini!”

“Astagfirullahaladzim…” Ummi kembali memelukku erat. Sedikit pun beliau tidak tampak marah mendengar kalimat lancang yang baru saja memuntahkan seluruh rasa frustrasiku.

Ummi hanya tersenyum tipis. Beliau merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kerikil kecil yang ia pungut dari jalanan, lalu meletakkannya di atas telapak tanganku.

Tentu saja kerikil itu kuterima begitu saja dengan dahi berkerut. “Apa ini, Mi? Mengapa Ummi memberikan benda ini padaku?”

“Ini adalah keikhlasan,” jawab beliau dengan nada penuh keyakinan.

Aku masih menerka-nerka maksud perkataan Ummi barusan. “Ini hanya batu kerikil, Mi. Sedangkan keikhlasan… bukankah itu sesuatu yang tidak kasatmata?”

“Kalau begitu, buang saja benda itu jika kamu tidak menginginkannya.”

“Mana mungkin, Mi? Ini kan pemberian Ummi. Tidak mungkin aku membuangnya begitu saja, itu sama saja dengan menyakiti hati Ummi. Aku tahu Ummi pasti punya alasan memberikan kerikil ini kepadaku,” ujarku seraya meraih jemari Ummi, berusaha membujuk agar beliau tidak salah paham.

Ummi menatapku lekat-lekat dengan raut serius. Tatapan teduh sekaligus tegas yang sama persis seperti saat beliau mendampingiku ketika aku hampir menyerah di tengah jalan saat menempuh kuliah S2 dulu.

“Lalu, mengapa kamu bisa begitu mengerti aku, tetapi tidak bisa mengerti Tuhanmu? Apakah hanya karena aku adalah ibumu, dan kamu merasa sudah mengenal ibumu?”

Aku seketika terdiam. Tenggorokanku mendadak tercekat.

“Sekarang pertanyaannya Ummi ganti,” suara beliau melunak, memberikan jeda agar aku berpikir sejenak. “Jika saja kamu benar-benar mengenal Tuhanmu, apakah kamu percaya Dia akan memberikanmu suatu ujian tanpa sebuah alasan?”

Beliau menarik napas dalam-dalam. “Sama halnya dengan keikhlasan. Apakah hanya karena ia tidak terlihat, lalu kamu menolak untuk meyakininya? Dan jika Ummi katakan bahwa keikhlasan itu adalah benda yang berwujud nyata seperti batu di tanganmu ini, apakah kamu akan memercayainya begitu saja?”

Kali ini, ada getaran emosional yang tertahan dari cara Ummi menatapku dan menekankan setiap kata-katanya.

“Bahagia itu ketika iman masih ada dalam dirimu, Nduk. Jangan sekali-kali kamu kehilangannya.”

“Kamu bukan siapa-siapa, kita sama seperti semua manusia di luar sana. Bukankah semua makhluk Allah itu diuji? Bahkan Rasulullah, orang yang paling dikasihi Allah, ujiannya pun begitu luar biasa. Tanyakan pada dirimu, apa kau sanggup bila menjadi beliau? Mengapa kau hanya fokus pada ujianmu, lalu melupakan semua kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepadamu?”

Aku tertegun mendengar ucapan Ummi. Tanpa terasa, air mataku mengalir semakin deras. Aku terisak sejadi-jadinya di pelukan beliau.

“Allah itu Maha Adil. Bisa jadi hubunganmu yang seperti ini adalah cara Allah memberikan hukuman untuk suamimu, dan celakalah mereka yang tidak memperbaiki diri. Ummi cuma titip pesan, janganlah kau basahi lisanmu dengan merapalkan keburukan untuk suamimu. Niscaya itu akan menghancurkannya, baik dengan caramu atau dengan cara-Nya sendiri,” jelas Ummi, mengakhiri nasihatnya.

Aku pun dipeluknya lebih erat sekali lagi, sebelum beliau membisikkan sesuatu tepat di telingaku, “Yakinlah, akan ada matahari di esok hari, sekalipun hari ini badai menerjang lebih lama dari biasanya.”

“Iya, Mi. Yang penting Ummi jangan pernah meninggalkan aku lagi, ya? Aku tidak bisa melewati ini semua tanpa Ummi. Aku rindu Ummi…” Suaraku parau. Aku masih dicekam khawatir pertemuan ini hanya sebentar, dan Ummi akan kembali meninggalkanku sendirian dalam sepi.

Benar saja. Aku tersentak bangun.

Napas bersahutan lambat di dalam kamar. Ternyata, semua kehangatan tadi hanyalah bunga tidur. Kudapati Ibrahim masih terlelap tenang di sampingku, sementara dari celah jendela, tampak Bapak sedang menghisap rokoknya sendirian di teras rumah. Realitas kembali menyentakku.

Kuhamparkan sajadah, lalu bersujud pasrah di sepertiga malamku, memohon ampun kepada Allah, Tuhan semesta alam. Di antara seluruh makhluk dunia yang berusaha menginjak-injak harga diri dan keberadaan hamba-Nya ini, ternyata aku masih selalu dicintai oleh-Nya. Harapan itu nyatanya masih menyala bagi hati yang memilih dekat dengan Tuhannya.

Kini aku tahu, aku ingin menjadi penjaga seperti yang dilakukan Abah dan Ummi dulu. Sekalipun raga mereka telah tiada, doa dan cinta tulusnya akan selalu menyertai setiap jengkal langkah anaknya.

***

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)