Seto selalu percaya hidupnya berjalan rapi.
Empat puluh tahun, lajang, karier stabil, dan dalam seminggu lagi ia akan pindah ke kantor pusat—hasil dari lima belas tahun bekerja tanpa banyak drama. Jabatan Manajer Operasional Leasing akhirnya resmi. Hidupnya terasa selesai dengan cara yang elegan: tidak berisik, tidak berlebihan. Tidak ada yang kurang, tidak ada yang berantakan. Hidup Seto seperti meja kerja yang selalu ia lap setiap pagi: bersih, tertata, dan steril dari kejutan.
Sampai bel pintu apartemennya berbunyi.
Sekali.
Lalu lagi.
Bukan bunyi sopan, tapi mendesak—seperti orang yang sudah menyiapkan kemarahan sejak jauh hari. Bukan ketukan ragu, tapi dering panjang, mendesak, seperti orang yang menolak ditolak.
Seto membuka pintu.
Dan tamparan itu mendarat sebelum ia sempat bertanya siapa.
Plak.
“Apa—”
Plak.
Seto terdiam. Pipi kirinya panas, tapi yang lebih panas adalah kebingungan. Di depannya berdiri seorang perempuan muda, wajahnya pucat, mata sembap, dan perutnya sedikit menonjol di balik kaus longgar.
“Maaf,” kata Seto, menahan refleks untuk marah, “sepertinya kamu salah orang.”
Tanpa menjawab, perempuan itu—Tiara—mendorong pintu dan masuk begitu saja, seolah apartemen itu memang miliknya. Ia menjatuhkan diri ke sofa, menyilangkan tangan di dada...