Prolog
Setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing. Sebelum menilai baik atau buruknya seseorang, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang pernah mereka lalui dan rasakan. Karena pada dasarnya, latar belakang setiap manusia tidak pernah sama.
Ada yang dulunya begitu baik, namun perlahan berubah karena ditempa keadaan yang keras. Ada pula yang tetap bertahan menjadi baik, meski hidup terus-menerus menguji batas kesabarannya.
Kisah ini lahir dari sebuah kenyataan. Ia hadir bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk membenarkan siapa pun yang ada di dalamnya. Melainkan sebagai sebuah cermin, bahwa di balik setiap sikap yang terlihat di permukaan, selalu ada cerita mendalam yang jarang terdengar oleh telinga dunia.
Sebab terkadang, duri yang menusuk orang lain hanyalah cara dari bunga yang terluka untuk melindungi dirinya sendiri. Inilah kisah tentang mereka, tentang kita, dan tentang rahasia di balik hati manusia.
Bab 1- Kandang Ayam dan Lorong Waktu
Dini hari yang melelahkan baru saja usai. Arwan melangkah gontai memasuki kandang ayamnya setelah menyelesaikan ritual panjang, mulai dari memotong ayam hingga memastikan setiap ekor terjual di pasar. Tubuhnya terasa remuk, dan perutnya kosong melilit. Namun, setibanya di rumah, tak ada satu pun yang bisa dimakan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat, kini justru terasa asing bagi Arwan.
Dengan perasaan lelah yang sudah mencapai titik jenuh, Arwan memilih untuk menepi. Ia membawa segelas teh manis hangat dan sebatang rokok menuju kandang ayam di belakang rumah. Di sana, ia duduk termenung di atas kursi kayu usang sambil mengelus kucing kesayangannya yang mendekat minta dimanja.
Di tengah kepulan asap rokok, matanya menatap kosong. Arwan merasa ada yang retak. Reno, sahabat yang sudah ia anggap saudara sendiri, kini terasa seperti orang asing yang mengenakan wajah orang yang ia kenal. Ada aura yang berbeda, dingin dan tak lagi hangat.
Pikiran Arwan perlahan melayang, terseret jauh ke belakang, menembus lorong waktu menuju tahun 2005. Saat itu, mereka masih duduk di kelas 6 SD. Dunia terasa begitu sederhana dan penuh tawa.
Arwan tersenyum tipis mengingat betapa kompaknya mereka dulu. Ia teringat masa-masa setelah mereka berdua baru saja menjalani ritual sunat. Dengan langkah yang masih sedikit "mengangkang" karena luka yang belum kering benar, mereka sudah nekat keliling kampung. Bukannya beristirahat, Arwan dan Reno malah bekerja sama mencuri mangga milik tetangga. Reno yan...