Disukai
0
Dilihat
363
Genggaman di Ambang Senja: Senyum yang Menggetarkan
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Prolog

Di antara ladang jagung yang menguning, ketika senja perlahan menelan cahaya dan langit berubah jingga keabu-abuan, aku berdiri dalam sunyi yang ganjil. Angin berdesir pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan kering. Di sanalah aku melihatnya, sesuatu yang seharusnya membuat langkahku mundur, nafasku tercekat, dan jantungku berpacu oleh rasa takut.

Namun anehnya, ia justru mendekat.Bukan dengan ancaman, melainkan dengan ketenangan yang tidak ku mengerti.Tangannya meraih tanganku, hangat, seolah itu nyata. Dan dalam genggaman itu, aku tak menemukan teror, hanya sebuah bisikan tanpa suara, seolah berkata jangan lari.

Jalan yang Biasa, Hari yang Tak Biasa

Pagi itu datang dengan wajah yang ramah. Langit cerah tanpa tanda-tanda hujan, seolah dunia sedang berbaik hati pada siapa pun yang melangkah keluar rumah. Roni menjalani paginya seperti biasa, bangun, membersihkan diri, lalu menyiapkan sarapan seadanya sebelum bersiap berangkat kerja.

Ia hidup sendiri di rumah peninggalan orang tuanya. Ibunya telah lama meninggal, sementara ayahnya kini menjalani hidup baru bersama istri keduanya. Rumah itu pun menjadi saksi bisu hari-hari Roni yang berjalan sunyi namun tertib, seolah tak ingin mengganggu siapa pun.

Setelah memastikan semuanya terkunci rapi, Roni menghidupkan motor maticnya dan melaju menuju tempat kerja. Angin pagi menyapa wajahnya, tapi pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan hidupnya, tentang usia yang tak lagi muda, tentang pekerjaan yang dijalani tanpa banyak pilihan, dan tentang masa depan yang terasa buram. Di ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi