Satu, dua, tiga.
Aku menoleh ke belakang. Kosong. Tidak ada siapa pun. Sudah hampir dua minggu berlalu, aku merasa diikuti—diawasi oleh sesuatu. Hampir kehilangan akal, akhirnya aku berkonsultasi pada sahabatku, Arin.
“Hanya perasaanmu saja,” begitu kata Arin, setiap aku menceritakan hal ini padanya.
“Kapan kakak kembali? Ia pasti akan menjagamu” gumam Arin, suaranya pelan hampir tak terdengar
Aku menghela napas kasar. Topik ini lagi, aku muak membahasnya.
“Untuk apa dia kembali? dia sudah bahagia dengan perempuan lain.”
Arin menatapku. Ia selalu berharap aku dan mantanku bisa kembali lagi. Asal tahu saja, mantanku adalah kakak kandung Arin. Dua tahun lalu aku menjalin hubungan, bahkan kami juga merencanakan sebuah pernikahan. Saat itu Arin melompat saking girangnya. Orang tuaku berada di kampung, sedangkan aku sendiri di ibu kota. Saat itulah aku mengenal Arin, di sebuah perguruan tinggi, kami berteman dekat. Rasanya seperti memiliki saudara perempuan sendiri. Aku bahagia saat itu. Sampai akhirnya aku mengenal kakak kandungnya dan hubungan kami berjalan semakin dekat. Arin dan kakaknya hanya tinggal berdua karena orang tua mereka telah lama meninggal.
Namun, keberuntungan tidak berpihak padaku. Kami berpisah setelah ia tega berselingkuh dengan wanita lain. Aku tidak tahu siapa wanita itu sebenarnya, karena wajahnya tertutup masker hitam. Bahkan pria brengsek itu memeluk selingkuhannya dengan erat. Saat aku memergoki mereka di swalayan sepulang kerja sore itu. Mereka langsung melesat pergi. Sejak saat itu, mantanku menghilang seolah tidak pernah ada di dunia ini.
Seminggu kemudian Arin mulai meneleponku. Suaranya bergetar entah apa yang ia katakan saat itu. Aku segera menghampirinya di rumah. Aku menekan bel di depan pagar, tetapi tidak ada jawaban. Rasa khawatir mulai menerpaku. Mengapa kakak beradik itu hilang ditelan bumi. Sejak saat itu aku terus mencoba menghubungi Arin.
Aku merogoh kantong jaketku, membuka ponsel dan mencari nomor Arin. Aku masih berharap Arin mengangkat teleponku, aku berharap dia kembali. Saat ini aku baru pulang kerja, dari shiftku di restoran cepat saji. Sialnya, rekan kerjaku dipecat tiba-tiba. Semua pekerjaan dilimpahkan kepadaku, karena bos yang pelit enggan mencari pegawai baru. Saat kutanya apa alasan pemecatan tersebut, bos memilih bungkam.
“Tidak usah ikut campur. Kerjakan saja pekerjaanmu dengan benar.” Begitu kata bos saat aku menanyakan alasan.
Aku cemberut. Kenapa semua tidak berjalan sesuai keinginanku? Beberapa detik aku menoleh lagi ke belakang. Mulai memeriksa sekitar, bayangan hitam melesat saat itu. Dasar bodoh. Kenapa kau melakukan itu? Tubuhku mendadak kaku. Sial! Apa itu tadi? Aku mempercepat langkah. Jam menunjukkan pukul sebelas malam dan jalanan mulai sepi. Beberapa lampu jalan sudah mati, udara terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. Aku merapatkan jaketku sambil memasukan tangan ke kantong jaket untuk mencari kehangatan.
Aku setengah berlari. Apartemenku tinggal beberapa langkah lagi. Aku hanya perlu menyebrang. Namun, aku tidak kuasa menahan diri untuk tidak melihat ke belakang. Dengan bodohnya aku melakukan itu. Seorang lelaki berdiri di belakangku. Ia mengenakan pakaian serba hitam, masker hitam dan jaket hitam. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Siapa dia? Kenapa ia terus memperhatikanku? Kakiku kupaksa berlari. Aku tinggal menyebrang tetapi, karena panik aku tidak memperhatikan sekitar. Tiba-tiba sebuah sedan hitam melaju dari arah berlawanan. Kakiku membeku. Sorot lampu mobil itu semakin mendekat. Aku memejamkan mata. Tubuhku lemas, hingga aku terduduk di jalanan.
Suara decitan mobil terdengar nyaring, aku perlahan membuka mata. Hampir saja aku tertabrak. Pengemudi itu turun dari mobil. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun. Ia mengenakan kemeja warna biru laut dan celana bahan hitam. Tubuhnya tegap dan menjulang tinggi. Sekilas, ia tampak seperti atlet.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil berjalan ke arahku.
“I—Iya… Saya tidak apa-apa” Aku menoleh ke belakang, tetapi pria misterius itu sudah menghilang. Perasaan ku sedikit lega.
Pria di hadapanku membantuku berdiri, lalu ikut melihat ke arah yang sejak tadi kutatap.
“Apa yang kau lihat? Maaf, kau tidak terluka, kan?”
“Tidak.. tidak ,ini bukan salahmu. Aku tidak hati-hati saat menyebrang”
“Apa yang kau lihat?” Ia bertanya lagi.
“Aku diikuti” Jawabku jujur.
“Oleh siapa?”
Aku menggeleng “Tidak tahu”
Pria itu menoleh ke segala arah, mencoba mencari sesuatu.
“Mau kuantar pulang? Dimana rumahmu?”
Aku menunjuk apartemen lantai lima belas di hadapanku. Jaraknya hanya beberapa meter.
Aneh. Kenapa pria ini banyak bertanya? Mengapa ia ingin mengantarku, padahal kami belum berkenalan? Akal sehatku perlahan kembali. Tidak, jangan berpikir macam-macam. Namun, bagaimana jika pria misterius itu datang lagi? Apa tidak masalah jika lelaki ini mengantarku? Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku.
Aku tidak menjawab. Aku merapatkan jaketku karena udara semakin dingin.
“Halo? Kau baik-baik saja” Pria itu menjentikan jarinya didepan wajahku.
“Abel,” gumamku tanpa sadar.
“Apa? Oh.. namaku Rys.” Ia mengernyit
“Biar kuantar pulang. Kau terlihat sangat ketakutan. Lagipula aku tak enak karena hampir menabrakmu. Setidaknya biarkan aku membantu”
Saat itu, alasannya terdengar masuk akal bagiku.
Tanpa menuggu jawabanku, Rys langsung membantuku. Ia membuka pintu mobil sedannya lalu memapahku masuk. Seolah aku seorang pasien, aku hanya menurut dengannya. Aku duduk di samping kemudi. Sebelum menutup pintu mobil, Rys dengan cekatan memasang seat belt kepadaku. Lalu ia menutup pintu, hidungku mengendus bau wangi yang aneh. Campuran bau amis dan bau pengharum ruangan. Tanpa sadar aku membuka jendela mobil. Dengan rakus aku menghirup udara dalam-dalam, menukar pengap di mobil dengan udara luar. Rys tidak banyak bicara. Ia menyetir dengan kecepatan sedang, dan sesekali meliriku dari kaca depan.
Sekitar sepuluh menit, aku dan Rys sudah berada di depan lift apartemen. Ia bersikeras untuk mengantarku sampai masuk ke dalam kamar. Entah bagaimana aku merasa hal bukan masalah. Dengan sukarela aku melonggarkan pertahanan diriku dan mengiyakan ajakannya. Lift berhenti di lantai tujuh. Loftku di nomor 704. Rys masih berdiri di belakangku, aku menekan PIN loft ku. Pintu perlahan terbuka. Namun, sebuah tangan besar tiba-tiba menahan pintu.
“Kau yakin baik-baik saja sendirian?”
Aku ragu. Belum sempat aku menjawab, tubuh Rys sudah berada di dalam apartemenku. Belum sempat aku beraksi , ia membekap mulutku. Satu kakinya menutup pintu dengan cepat. Apa yang terjadi? Aku meronta, mencoba melepaskan diri tapi cengkraman Rys yang semakin kuat. Punggungku terdorong ke dinding. Kepalaku terbentur hingga terasa pusing.
“Huh, kukira pekerjaan ini sulit” Rys bergumam pelan.
Aku kembali meronta sekuat tenaga. Aku ingin berteriak, tetapi tangannya membekap mulutku terlalu erat.
“Dengar, aku hanya menjalankan pekerjaanku. Jadi diamlah agar semua cepat selesai”
Mataku membulat saat melihat tas hitam yang sedari tadi dibawanya. Dengan satu tangan, Rys mengeluarkan semua barang dari dalam tas. Ia menarik kursi di depan meja rias. Tali tambang diikatkan ke tangan dan kakiku, mulutku dilakban dengan kasar. Kesialan bertubi-tubi menghantamku. Bagimana aku bisa percaya dengan orang lain? Siapa sangka lelaki manis dan bertubuh tegap itu seorang penjahat. Untuk apa ia mengikatku? Apakah pertemuan kita beberapa jam lalu memang disengaja? Apakah ia ada hubungannya dengan lelaki yang menguntitku dua minggu terakhir? Pertanyaan demi pertanyaan menyerbu kepalaku.
“Kau gila! Lepaskan!” semburku saat lakban ia melepas lakban dengan paksa.
Ia tersenyum tipis “Maaf, Nona Abel. Aku hanya menjalankan perintah, aku melakukan ini karena uang”
“Siapa?” Aku berteriak, berharap akan ada orang yang mendengar kegaduhan ini.
“Rahasia klien.”
“Lepaskan aku!” Aku mengoncang-goncangkan badanku, berusaha melepaskan diri.
Rys berjalan mendekatiku. Ia mendekatkan wajahnya, hingga wajah kami nyaris sejajar. Jantungku serasa akan lepas dari tempatnya.
“Ku beri kau kesempatan” katanya “Jawab pertanyaanku dengan jujur”
Aku terdiam, dadaku naik turun. Dengan rakus aku menghirup oksigen.
Rys mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Kau kenal siapa dia?” tanyanya sambil menyodorkan ponsel kehadapanku. Di layar terdapat foto wanita dan laki-laki yang tertangkap CCTV. Resolusinya sangat jelek, walau begitu aku kenal siapa dia. Siapa lelaki yang bersama wanita itu. Perempuan dengan masker hitam yang menutup wajahnya, lelaki brengsek itu. Mantanku.
“Apa hubunganmu dengannya?!” Aku berteriak, Rys langsung membekap mulutku.
“Aku tanya kau tau siapa wanita ini?”
Aku menggeleng “Aku tidak tahu siapa pelacur itu. Dia menggunakan masker, bagaimana aku tau siapa dia”
“Wow ,pelacur katamu?” Rys tersenyum sinis “Kau kenal lelaki itu kan?”
Ia berjalan menuju tas hitamnya. Mengeluarkan foto kecil dari tas, dan menaruhnya di meja agar ku bisa melihat dengan jelas.
Jantungku seperti berhenti berdetak, keringat dingin menjalar ke kulitku. Apa-apaan ini? Foto itu memperlihatkan mantanku. Tubuhnya tanpa busana, dipenuhi luka-luka bakar dibadannya. Matanya terbuka dan mulutnya menganga lebar. Ada apa ini? Aku sangat ketakutan melihatnya. Tanpa sadar air mataku turun, mulutku terasa kering.
“Apa… apa itu?” Suaraku bergetar.
“Kau mengenalnya,kan, Nona Abel?” Rys kembali mengambil foto itu.
“Bagaimana bisa…?”
“Kau kenal atau tidak?”
Aku mengangguk cepat “Kenal, aku kenal dia. Ares” namanya keluar pelan dari mulutku.
Rys menggeleng “Kau dalam masalah besar”
“Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas”
Tiba-tiba ponsel Rys berdering. Ia kembali menempelkan lakban dimulutku. Aku berontak, namun Rys tidak menggubris. Dengan cepat ia mengangkat ponsel itu.
“Kau yakin… begitukah?” Rys melirik ke arahku, tatapannya tajam seakan aku akan dikuliti. “Yasudah jika kau mau seperti itu, naikan bayaranku sekarang” Rys menutup teleponnya, ia tersenyum saat memandangi ponselnya.
Rys berjalan menuju pintu, mempersilakan seseorang untuk masuk. Pintu terbuka lebar. Rys memundurkan langkahnya, memberi jalan pada orang itu. Saat orang itu masuk, aku mencium wangi manis parfum yang familiar. Tidak, jangan… kumohon.
Seperti tersengat listrik, badanku membeku. Aku berusaha berteriak walau lakban sialan ini menghalangiku. Seseorang itu berhenti tepat di hadapanku, pandangan kami beradu. Omong kosong apa ini? Ia adalah gadis yang ku kenal baik. Ia seperti saudaraku. Bagaimana mungkin?
“Ternyata tidak ada gunanya menutup-nutupin identitas klienku ya,” gumam Rys
“Kan aku sudah bilang, untuk bersama kakaku lagi. Kenapa kau membantah sih?” Ia berjongkok di hadapanku
“Kakaku seperti ini karena kau. Kalau saja kau mengejar wanita bermasker itu. Atau setidaknya kau langsung menghubungiku, ini tidak akan terjadi. Kenapa kau tidak mencarinya?”
Ia melirik ke arah Rys, tanpa banyak tanya Rys mengangguk. Ia sudah tau apa maksudnya. Rys berjalan menuju tas hitamnya, mencari sesuatu diantara tumpukan barang disana. Dan menyerahkan barang itu pada Arin.
“Dari mana ya, aku mulai” Arin tersenyum lebar.
Aku berusaha menjerit, saat benda dingin itu menempel di pipiku. Saat itu aku bersumpah, tidak akan percaya siapa pun.