Di Balik Cat Kuku
Pintu terbuka. Nadia berdiri diam di sana, ini pertama kalinya kami bertemu setelah sekian lama. Sekelebat ingatan itu kembali menyeretku ke masa lalu. Aku menelan ludah, membenahi poniku yang panjang. Jangan sampai terlihat. Jangan sampai terlihat wajahku. Nadia menyunggingkan senyum, tak ada yang berubah darinya. Aku mempersilahkan ia masuk, Nadia mendekatkan wajahnya ke arahku. Tanpa sadar, napasku tertahan. Beberapa detik berlalu hingga pandangannya beralih ke tempat lain. Aku menghembuskan napas panjang.
"Sekarang kau tinggal di tempat seperti ini?" Ia mengamati dan menilai satu demi satu, benda diruangan.
Aku mengangguk "Uang sewanya lebih murah" jawabku.
“Oh, ini alasanmu memanggilku setelah sekian lama?” Nadia menunjuk deretan kutek di dinding, lalu ia melepas jaket dan duduk di kursi. Ia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di sana, gerakannya halus seperti biasa. Lalu meletakkan ponsel di atas meja.
Aku berdiri di belakang nya "Mau minum apa?” Alih-alih menjawab pertanyaan Nadia, aku memilih menghindar. Berjalan ke arah pantry, terdapat sekat kayu antara ruang tamu dan pantry. Namun, aku masih bisa melihat Nadia dengan jelas.
"Apa saja, asal jangan air putih " ujarnya sambil tertawa kecil. Sudut bibirku naik sedikit, ia masih sama.
“Masih suka minum sirup?” tanyaku.
“Masih ingat, ya?" Nadia mengetuk meja dengan jemarinya, suaranya begitu nyaring. Aku mengangguk.
Aku mengambil dua gelas kaca dari rak di atas kompor dan menuangkan cairan lengket itu.
"Hidupmu sudah baik-baik saja, ya?" Ia mengambil dan mengamati alat kerjaku di atas meja. Aku terdiam, jeda antara kami cukup panjang. Nadia melirik ke arahku. Seperti tak sabar menanti jawaban.
“Sejak hari itu, susah sekali menghubungimu, Mira. Dulu hubungan kita dekat sekali di kantor. Kau ingat kan?”
Aku tak menjawab. Aku perlu mengaduknya lebih lama agar tercampur sempurna. Aku butuh konsentrasi.
"Mira, masih ingat, kan? Aku temanmu satu-satunya saat itu" Nadia bertanya sekali lagi.
"Iya Nad, Aku ingat. Kau satu-satunya manusia yang dekat denganku"
"Memang ada selain manusia?"
"Tidak ada"
Aku berjalan mendekati Nadia, meletakkan minuman itu di atas meja. Aku duduk di hadapannya. Di ruangan ini tidak ada kursi lain lagi. Aku tidak suka banyak barang itu akan menyulitkanku. Aku menata ruangan ini dengan baik, lampu memang sedikit remang. Namun, tenang saja. Lampu UV LED akan membantu.
"Ngomong-ngomong, itu masih sakit?" Nadia menatap wajahku, ia gemar sekali memperhatikan wajah orang lain dengan terang-terangan. Jemarinya ingin meraih wajahku. Aku nyaris bangun dari kursi, sontak aku membuang muka. Jangan mendekat. Aku menggeleng melihat ke arah Nadia, ia tak lagi memandangku. Hidungnya mencium aroma sirup dari atas gelas dan mencicipinya. Tanpa sadar sudut bibirku naik. Mungkin rambut-rambut ini menolong. Senyumku tak nampak, bagus.
“Tidak minum?” tanya Nadia.
Aku mengangkat gelas, mendekatkan minuman itu ke bibir, hanya menyentuh tanpa benar-benar masuk ke kerongkongan. Baunya begitu manis.
“Nanti saja” jawabku, meletakkan minuman itu kembali. Tidak ada komentar apa-apa setelah Nadia meminum sirup itu, untunglah ia menyukainya, aku merasa lega. Aku melirik jam. Sudah pukul enam sore.
“Buat yang cantik ya, Nail art gratis?” Nadia tertawa. Sambil menyodorkan tangannya.
“Tentu” jawabku.
Aku mengikir sudut-sudut kukunya, dan memotong bagian yang panjang. Memastikan semua rapi dan cantik. Jangan sampai terlewat.
“Kau sangat terampil” komentar itu keluar dari mulutnya. Aku tak menjawab “Mira, aku ingin bertanya sesuatu” Nadia terdiam. Aku mengangkat kepala, menunggu apa yang ingin ia katakan. “Ngomong-ngomong, kau sudah tahu siapa pelakunya?” Nadia menatapku lekat-lekat. Kali ini mata kami bertemu, anehnya ingatanku kembali pada hari itu. Bahkan polisi tidak bergerak “Anggap itu kompensasi” entah siapa yang berbicara. Sayup-sayup ku dengar seseorang bersorak. Rasanya seperti aku tenggelam ke dasar danau, dingin dan gelap, aku sendirian.
“Aku sudah tidak mencarinya lagi” jawabku. Nadia memiringkan kepalanya, untuk melihat wajahku. Sekali lagi, aku menghindar. Aku sibuk membersihkan kutikula di jari jemarinya. Kenapa ia ingin sekali melihat wajahku?
“Tidak perlu dicari” lanjutku pelan.
Tangan Nadia berkedut, sudut bibirku kembali naik “Kenapa? Sudah lelah mencarinya?” Nadia tertawa.
“Tak usah dicari, orang itu akan mendapat hukumannya” kali ini aku makin fokus, aku mengelap kuku Nadia dengan cairan bening di dalam botol kaca, setelah merogoh laci meja.
“Itu apa?” tanya Nadia.
“Primer”
“Baunya-”
“Memang seperti itu” potongku.
Nadia hanya mengangguk “Ah iya, apa kau yakin?” ia kembali bertanya.
Astaga, ia cerewet sekali “Jika hukum tidak membantu, setidaknya aku bisa mencoba”
Nadia tertawa, kini makin keras “Dengar Mira, setidaknya kau tidak masuk penjara saat itu. Sebaiknya kau diam saja” ia menatapku tajam “Bukannya melarang mu, aku takut terjadi hal buruk padamu. Kau bisa mengurus usahamu ini, atau mencari pekerjaan lain” suara nya berubah, terasa dingin.
Seketika kepalaku berdengung. Jeda antara kami cukup lama. Nadia kembali meminum sirupnya, kali ini tak begitu banyak. Aku melirik ke jam dinding, lima belas menit berlalu. Aku menyibak rambutku kebelakang kini wajahku terlihat jelas “Menurutmu, dengan wajah seperti ini, aku bisa hidup normal?” tanyaku.
Aneh, ia hanya terdiam. Mulutnya tertahan, tatapannya lurus ke depan. Aku tak ingin melihatnya, aku menunduk kembali bekerja dengan cepat.
“Mira, aku tidak bermaksud-”
“Aku tahu” potongku
Nadia mengalihkan pembicaraan. Ia sangat pandai mencari bahan obrolan lain. Aku tak perlu mengulik lebih jauh “Kau ingat, Mas Anton?”
Aku mengangguk. Tentu saja aku ingat Mas Anton. Tak mungkin aku lupa dengannya.
“Mas Anton yang menangani kasusmu, Mira. Semua sudah dibersihkan dengan aman”
“Begitu?” Aku mengoleskan cat kuku pada kuku Nadia. Ia tidak memilih warnanya, tapi aku tahu apa yang ia suka. Sudah lama kita bersama, tentu aku ingat semua. Tak perlu dijelaskan lagi. Beberapa saat kemudian, Nadia menyadari kuku di tangan satunya telah rampung kuwarnai. Ia mulai berceloteh tentang bagaimana proyek itu bisa ia kerjakan dengan baik. Fokusku terbagi, aku tetap mengerjakan kuku satunya.
Lihat, kan? Ia tidak berkomentar tentang warna yang kupilihkan. Nadia tiba-tiba terdiam, ia berhenti berceloteh, ia menggaruk pinggiran kukunya. Jemari itu berwarna merah seperti ruam. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, aku hanya memperhatikan saja. Aku kembali mewarnai kukunya. Aku menunduk, ingatanku kembali ke masa itu. Hari petaka yang tak kunjung usai.
“Mira, tanganku panas” Nadia mulai menggerak-gerakkan jarinya. Pandanganku beralih kepadanya. Aku tersenyum makin lebar. Nadia terdiam, dahinya berkerut. Kurasa ia baru menyadari sesuatu.
***
“Lima belas menit lagi” Mas Anton masuk ke ruangan, sambil menepuk tangan dan memberikan instruksi untuk rapat pagi ini. Aku membereskan dokumen-dokumen yang akan digunakan. Sedari tadi Nadia sibuk dengan komputernya. Ajakan ku untuk pergi ke ruang rapat tak dihiraukannya.
Biasanya aku duduk di kursi nomor dua, dekat dengan moderator. Namun, kali ini Mas Anton melarang siapa pun duduk di depan. Jadi, aku memilih duduk paling belakang. Mas Anton tampak berbeda. Tampangnya lebih serius dari biasanya. Begitu Nadia masuk ke ruangan, ia bersenandung kecil lalu duduk disebelahku.
“Pekerjaan selesai lebih awal” ia berbisik di telingaku.
Aku hanya mengangguk saja dan tak terlalu menghiraukan. Ruangan rapat sudah ramai. Mas Anton memulai sesi rapat kali ini. Rapat bulanan, tidak ada yang spesial. Hanya seperti bulan-bulan sebelumnya. Aku bahkan sempat memikirkan nanti siang mau makan apa. Tiba-tiba buyar, saat suara pintu diketuk. Orang dari kantor pusat datang. Mereka duduk di kursi paling depan. Anehnya, ruangan mendadak hening.
“Rapat kita mulai” Mas Anton, selaku Manager menjadi moderator, membuka rapat.
“Ada berita genting yang harus saya sampaikan. Bahkan orang pusat juga harus tahu” Tatapan Mas Anton mengarah padaku, sudut bibirnya terangkat sedikit, sangat tipis. Apa aku salah lihat?
“Ada seseorang yang telah membocorkan data perusahaan kita” Proyektor di depan menampilkan iklan produk yang kami desain. Benar, itu sangat mirip bahkan nyaris seratus persen mirip. Tapi anehnya, Perusahaan Aditama yang lebih dulu mengiklankan ini. Ruangan yang tadinya tenang, seketika menjadi riuh. Bisik -bisik para karyawan terdengar.
“Perusahaan Aditama telah mencuri proyek kita. Artinya jika kita merilis proyek ini, itu sama saja seperti kita meniru mereka” Apa maksudnya ini? Semua orang saling berpandangan. Jadi, usaha kami selama ini sia-sia?
“Dan orang yang bertanggung jawab atas semua kekacauan ini adalah kau”
Mas Anton menunjuk lurus ke arahku. Seketika tengkukku terasa sedingin es. Semua tatapan beralih kepadaku. Apa-apaan ini? Jantungku ikut berdebar dengan kencang. Aku meremas rok hitamku. Mas Anton berjalan mendekatiku, ia berhenti di samping kursiku.
“Maksudnya, Mas? Saya pelakunya?” tanyaku.
Ruangan kembali gaduh. Bisik-bisik terdengar lagi dari berbagai sudut.
“Mira?”
Semua orang bertanya-tanya, tampak tak percaya. Jangankan mereka, aku pun tak menyangka berada di situasi janggal ini.
Mas Anton menarik napas panjang. Ia mengeluarkan flashdisk dari saku kemeja birunya.
“Ini punya mu? Flashdisk ini ditemukan di komputer server. Ada namamu tercantum di dalamnya”
Aku menelan ludah, teringat flashdiskku yang hilang entah dipinjam siapa. Kenapa aku bisa lupa? Dasar bodoh. Kau bodoh, Mira. Suara di kepalaku berteriak.
“Email pengirim, menggunakan emailmu. Kau masuk menggunakan akun mu” Mas Anton menarik napas panjang “Apa penjelasanmu?”
“Mas, kita bisa cek CCTV!” suaraku nyaris berteriak.
Mas Anton terdiam lama, pandangannya melihat sekeliling “Kau kira kami tidak mengeceknya? Dan orang itu adalah kau”
Aku kehabisan kata-kata. Seseorang berbisik-bisik “Gila.. itu beneran Mira?”
Aku menoleh ke arah Nadia. Bantu aku. Berikan penjelasan, Nadia. Tolong. Aku terdiam, aku hanya melihat sudut bibirnya yang tertahan.
“Apa motifmu, Mira? Uang? Kau kira perusahaan ini main-main?”
Aku menggeleng “Tidak, tidak mungkin.. Ini janggal. Kita bisa cek lagi”
“Sudah. Silahkan kau jelaskan itu ke HR”
Aku dipaksa bangkit dari kursiku “Saya tidak melakukan itu”
Mas Anton tersenyum tipis, lalu berbalik dan pergi menjauh. Orang-orang dari kantor pusat langsung menghampiriku. Menyeretku seolah aku manusia kotor. Aku memandangi Nadia. Dia tak bergeming, hanya duduk diam. Bahkan tidak menoleh ke arahku, Kenapa?
Tenggorokanku teras kering setelah keluar dari ruangan HR. Aku berjalan ke mejaku, kardus-kardus sudah tergeletak di atas meja. Barang-barangku dikepak asal. Sementara aku sendiri belum memahami apa yang baru saja terjadi. Sayup-sayup kudengar semua orang meneriakiku. Badanku lemas, aku mencari sosok Nadia. Tetapi ia tidak ada di kursinya.
“Dasar… pekerjaan kita jadi sia-sia karena dia”
“Dibayar berapa sih?” bisik seseorang. Aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Mereka mendorongku menjauh dari meja setelah aku berhasil mengambil barang-barangku. Aku memang tidak pernah dekat dengan siapa pun, tetapi keadaan seperti ini tak pernah terbayang sebelumnya. Mataku terasa panas. Jangan menangis. Kau tak salah, Mira. Tarikan paksa tanpa aba-aba membuatku jengah.
Seorang wanita dari divisi lain berjalan ke arahku. Kedua tangannya ditahan paksa oleh petugas keamanan. Ia melempar sesuatu dari gelas kaca ke wajahku, hingga gelas itu jatuh ke lantai. Aku tidak bisa membuka mata. Aku berteriak. Tubuhku ambruk, semua barang-barangku berhamburan. Keributan kembali terdengar. Suara langkah kaki mendekat. Seseorang memapah lenganku, aroma parfumnya terasa sangat familiar. Dengan susah payah, kupaksa sebelah mataku terbuka. Seseorang berdiri disampingku menopang tubuhku. Sudut bibirnya terangkat. Rasa sakit di wajahku berubah menjadi perasaan dingin yang tak nyaman. Aku mulai menyadari sesuatu.
***
“Kau ingat kan, Nad? Saat itu aku hampir gila. Semuanya hancur dalam satu hari” aku menarik napas panjang.
“Dicari tahu bagaimanapun, tetap saja kau pelakunya. Aku tidak mengerti, untuk apa kau menghasut Rani melakukan itu”
Nadia tidak menjawab apa pun. Tanganku sibuk menyelesaikan cat kuku terakhir. Seluruh badannya kaku seperti manekin. Kulit di sekitar kukunya mulai melepuh. Ruam merah menyebar ke telapak tangan. Jemarinya melunak, sementara bau daging terbakar perlahan menguar ke udara. Aku menahan bau nya. Ini bau kemenangan. Aku hampir cekikikan. Tahan, Mira.
“Sudah selesai” ujarku. Aku takjub melihat mahakarya yang kubuat di depan mata. Tunggu dulu. semakin lama jari itu semakin lembek dan berair. Cat kuku itu tidak mengering, aku melirik ke arah UV nail lamp. Mencoba memasukkan jarinya ke dalam lampu itu. Seketika bau gosong memenuhi udara. Cairan merah menetes perlahan ke meja. Aku menurunkan suhu AC sebelum kembali menatap Nadia. Melihat mulutnya yang menganga lebar, air liurnya mengalir kemana-mana. Apa yang sebenarnya ingin ia ucapkan?
“Mau minum lagi?”
Aku melirik ke gelas sirup sudah kosong tanpa sisa. Aku menggenggam gelas itu dan mencium baunya. Aroma manis masihnya tertinggal, tidak buruk juga. Setidaknya dosis yang kuberikan tepat. Aku berjalan ke pantry, membuka laci lalu mencari sirup itu.
“Maaf Nadia, sepertinya sudah habis. Aku hanya membuat dua gelas, tapi kau tidak bisa meminumnya lagi” ujarku setengah tersenyum. Bagianmu telah habis.
Aku duduk kembali ke kursi. Senyum di bibirku tidak bisa kukendalikan, semakin lama semakin lebar. Mata Nadia membelalak, air liur dan bulir-bulir keringat jatuh dari wajahnya. Bau gosong, aku mematikan lampu UV. Jangan sampai ketahuan Mira. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Pikiranku kacau.
“Itu belum seberapa, Nadia. Setidaknya tanganmu tak berbuat dosa lagi”
Sayang sekali, kuku-kuku itu menganga lebar seolah ingin lepas dari akarnya. Padahal sudah kuhias seindah mungkin. Aku mulai memikirkan cara paling menyakitkan yang bisa dirasakan Nadia. Aku mengambil tang dari tas disamping meja kerja. Cepat, Mira. Jangan lambat. Jangan sampai efek nya hilang. Satu per satu kukunya kucabut. Tangannya sedikit gemetar kulit jemarinya perlahan meleleh. memperlihatkan tulang dengan jelas. Sarung tangan yang sedari tadi aku gunakan ikut meleleh.
Sial!
Kurasakan basah di telapak kakiku. Pandanganku turun ke genangan air berwarna kuning pucat di bawah kaki Nadia. Tawaku pecah pelan. “Ini belum ada apa-apanya Nadia” ujarku.
Nadia hanya diam mematung, tetapi ekspresi wajahnya justru membuatku semakin bersemangat. Kini bau anyir dan bau pesing memenuhi ruangan. Beberapa menit berlalu dalam sunyi Semua jari-jari Nadia telah terpotong, Tulangnya perlahan terkikis, sementara cat kuku itu mengeluarkan aroma asam yang menyengat. Nadia tidak sadarkan diri. Napasnya amat tipis, sedikit lagi Nadia. Sedikit lagi.
Tiba-tiba layar ponselnya di samping tangan Nadia berbunyi. Layar itu menyala dan sebuah notifikasi muncul. Aku meliriknya, rasa penasaran ku bangkit. Foto profil Mas Anton?
“Kau di mana?”
“Aku khawatir, Sayang”
“Sudah sampai rumah?”
“ Lima belas menit lagi, aku ke sana. Aku sudah mengecek lokasi yang kau kirim”
Aku terdiam, sudut bibirku perlahan terangkat. Pandanganku beralih dari layar ponsel ke Nadia. Aku duduk kembali sambil menunggu tamu berikutnya datang.