Disukai
0
Dilihat
91
Surat undangan yang mengubah segalanya
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suasana kelas XI-A siang itu sangat riuh. Riuh oleh suara geseran meja, tawa yang meledak di sana-sini, dan perdebatan seru tentang konsep kejutan ulang tahun yang sedang mereka rencanakan. Akhir pekan ini, seisi kelas berniat merayakan ulang tahun ke-17 sahabat dekat Ria, yakni Keysha. Pertemuan direncanakan matang di sebuah kafe estetik di pusat kota.

Di tengah lingkaran teman-temannya yang sibuk mencatat menu dan dekorasi, pandangan Ria justru kerap terlempar ke sudut belakang kelas. Di sana, di dekat jendela yang berdebu, duduk seorang anak laki-laki bernama Elian. Elian selalu sendiri. Sepanjang dua semester ini, ia hampir tidak pernah berkumpul atau sekadar mengobrol dengan teman kelas yang lain. Mayoritas anak-anak menganggap Elian adalah sosok yang sombong, cuek, dan antisosial. Namun bagi Ria, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Elian yang kosong.

"Ria! Kamu setuju tidak kalau kuenya rasa cokelat?" panggil Keysha membuyarkan lamunan Ria.

"Ah, iya, setuju kok," jawab Ria refleks. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Sebentar ya, aku mau ke belakang dulu."

Ria melangkah mantap mendekati meja Elian. Langkahnya membuat beberapa pasang mata di kelas memperhatikannya dengan heran. Saat Ria berdiri di depan mejanya, Elian mendongak pelan. Wajahnya datar, namun ada kilat keterkejutan yang tertangkap oleh radar Ria.

"Elian," panggil Ria ramah, senyum manis tersungging di bibirnya. "Sabtu besok kami mau merayakan ulang tahun Keysha di Kafe Melati jam tujuh malam. Semua anak kelas ikut. Kamu... mau datang?"

Elian tidak langsung menjawab. Ia menatap surat undangan kecil yang diletakkan Ria di atas mejanya, lalu menatap wajah Ria bergantian. Suasana mendadak canggung. Ria hampir saja mengira Elian akan mengabaikannya, namun di luar dugaan, anak laki-laki itu hanya mengangguk pelan satu kali tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Oke! Aku tunggu ya," ucap Ria lega sebelum kembali ke kelompoknya.

------------------------------

Sabtu malam yang dinanti pun tiba. Kafe Melati tampak temaram dan hangat. Lagu-lagu pop diputar memenuhi ruangan, berpadu dengan gelak tawa anak-anak XI-A yang menikmati hidangan. Di sudut meja panjang, Elian benar-benar datang. Ia duduk tenang di ujung, mengenakan jaket hitam longgar. Meski tidak membaur dan hanya diam memperhatikan, kehadirannya sudah cukup membuat Ria tersenyum diam-diam.

Namun, di tengah puncak kemeriahan pesta saat lilin kue baru saja ditiup, ponsel di saku gaun Ria bergetar hebat. Layarnya menampilkan nama "Ibu". Ria segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Ria, kamu di mana? Pulang sekarang, Nak! Kakekmu tiba-tiba kolaps dan sekarang harus segera dibawa ke rumah sakit. Ibu dan Ayah butuh kamu di rumah untuk jaga rumah dan menyiapkan berkas Kakek!" suara ibunya terdengar panik dan gemetar di seberang sana.

Jantung Ria berdegup kencang. Rasa panik menjalar seketika. "I-iya, Bu. Ria pulang sekarang!"

Ria segera berpamitan kepada Keysha dan teman-temannya dengan terburu-buru. Ia langsung berlari ke luar kafe dan membuka aplikasi ojek daring di ponselnya. Sial, layar ponselnya hanya menampilkan lingkaran berputar tanpa henti jaringan seluler di area itu mendadak eror karena cuaca mendung, sementara jalanan di depan kafe macet total. Karena frustrasi, panik, dan dikejar waktu, Ria akhirnya mengambil keputusan nekat. Ia memilih berlari lewat gang pintas di samping kompleks ruko yang mengarah langsung ke perumahannya.

Saat melangkah tergesa-gesa meninggalkan pelataran kafe, Ria sempat melihat siluet tinggi Elian yang tiba-tiba beranjak dari kursinya di sudut ruangan. Namun, rasa panik membuat Ria tidak terlalu memikirkannya.

Langkah kaki Ria bergaung cepat di atas aspal gang yang remang-remang. Suasana di sana sangat sepi. Ketakutan Ria menjadi kenyataan saat langkahnya mendadak terhenti di tengah gang. Tiga orang pemuda berpenampilan berandalan yang sedang nongkrong di atas motor tiba-tiba berdiri, menghalangi jalannya.

"Wah, ada cewek canti nih! ," goda salah satu dari mereka, melangkah maju dengan senyum menjijikkan. "Mau ke mana buru-buru, Sayang? Sini main dulu sama kita."

"Minggir! Jangan macam-macam !" bentak Ria, mencoba menyembunyikan getaran ketakutan di suaranya.

Ketika salah satu dari mereka mencoba mencolek dagunya, rasa panik Ria berubah menjadi nekat. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi lelaki itu.

Sentakan itu membuat para berandalan tersebut marah. "Dasar jal4ng !" Dua orang di antaranya langsung merangsek maju, menangkap kedua pergelangan tangan Ria dengan kasar dan berusaha melecehkannya. Ria berteriak histeris, meronta sekuat tenaga, namun cengkeraman mereka terlalu kuat. Air mata mulai menetes di pipinya.

Bugh!

Sebuah hantaman keras tiba-kira terdengar dari arah belakang. Orang yang memegang tangan kanan Ria ambruk ke tanah dalam satu kali serangan fisik yang telak. Di tengah ketegangan yang mencekam itu, sesosok tubuh jangkung berjaket hitam berdiri di sampingnya.

Ria terbelalak tak percaya orang itu adalah elian. Tanpa sadar, Ria langsung memegang erat lengan jaket Elian yang terasa kokoh. "Elian! Ayo lari! Mereka banyak!" teriak Ria dengan suara serak karena ketakutan.

Namun, Elian tak bergerak satu milimeter pun. Ia melepaskan pegangan tangan Ria dengan sangat lembut, lalu menatap lurus ke arah para berandalan yang mulai berdiri tegak kembali. Di bawah sinar lampu jalan, wajah Elian terlihat sangat dingin dan tenang, seolah ancaman di depannya bukanlah apa-apa.

Sebelum dua berandalan lainnya sempat membalas, Elian sudah bergerak maju dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakannya sangat taktis, efektif, dan bertenaga seperti seseorang yang sudah terlatih bertahun-tahun dalam seni bela diri. Hanya dalam hitungan detik, tanpa banyak bersuara, Elian berhasil melumpuhkan ketiga bajingan itu hingga terkapar di tanah, mengerang kesakitan memegangi perut dan rahang mereka.

Elian berbalik, merapikan kembali jaket hitamnya yang sedikit bergeser, lalu menatap Ria yang masih mematung dengan napas memburu karena syok. "Ayo. Aku antar pulang," katanya pendek, suaranya kembali biasa.

------------------------------

Mereka akhirnya berjalan beriringan membelah keheningan malam menuju rumah Ria. Keadaan bising di kafe tadi seolah lenyap, digantikan oleh kecanggungan yang luar biasa. Ria berjalan dengan kepala tertunduk, sesekali mencuri pandang ke arah Elian yang berjalan stabil di sampingnya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jaket.

Ria menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memecah keheningan. "Elian... terima kasih banyak untuk yang tadi. Tapi... bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang dalam bahaya? Kamu mengikutiku?"

Elian menghentikan langkahnya sebentar, membuat Ria ikut berhenti. Elian menatap aspal jalanan, lalu menoleh sedikit ke arah Ria dengan tatapan yang melunak.

"Aku tidak tahu kamu akan lewat gang ini," jawab Elian pelan. "Aku hanya berjalan di belakangmu sejak kamu keluar dari kafe. Kamu... adalah satu-satunya orang yang mau mendatangi mejaku dan memberikan undangan hari ini. Aku hanya ingin memastikan orang yang menganggapku ada, bisa pulang dengan selamat."

Elian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pandangannya mendadak beralih ke arah lain, terlihat sangat salah tingkah. "Maaf kalau lancang. Aku... aku sebenarnya tidak tahu cara bicara atau bersosialisasi yang benar dengan kalian di kelas. Aku takut salah bicara, jadi aku memilih diam selama ini. Tapi, terima kasih banyak sudah mau mengajakku malam ini."

Mendengar penjelasan jujur itu, jantung Ria mendadak berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat daripada saat ia dihadang berandalan tadi. Seluruh prasangka buruk anak-anak kelas termasuk dirinya selama ini runtuh seketika. Elian bukan cuek, bukan sombong, dia hanya seorang remaja laki-laki yang sangat canggung.

"Sama-sama, Elian," bisik Ria pelan, mencoba menstabilkan suaranya yang tiba-tiba bergetar. "Mulai besok... kita belajar berteman bersama di kelas, ya?"

Elian terdiam sejenak. Ia menghentikan langkahnya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Ria. Detik berikutnya, perlahan-lahan kedua sudut bibir cowok itu terangkat. Untuk pertama kalinya sejak mereka sekelas, Elian tersenyum. Bukan sekadar senyum tipis biasa, melainkan sebuah senyuman yang sangat tulus, manis, dan hangat hingga membuat matanya sedikit menyipit. Garis wajahnya yang semula sedingin es, mendadak melunak dan tampak begitu menawan di bawah temaram lampu jalan.

"Iya, boleh. Terima kasih ya, Ria," ucap Elian lembut, tepat di depan wajah gadis itu.

DEGG!

Detik itu juga, pertahanan Ria runtuh total. Serangan senyuman Elian yang tiba-tiba itu sukses merusak radar kewarasannya, membuat sensasi panas luar biasa menjalar hebat ke seluruh wajahnya. Wajah Ria memerah padam sempurna bukan lagi sekadar merona, melainkan sudah sewarna buah tomat matang yang siap meledak.

Ria mendadak kehilangan kemampuan untuk bernapas dengan benar. Tangannya bergetar hebat, meremas-remas ujung bajunya dengan sangat kuat hingga kusut. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah kiri dengan gerakan patah-patah yang kaku demi menyembunyikan senyum lebarnya yang tidak bisa dikontrol lagi. Pikirannya mendadak kosong, dan dadanya bergemuruh kencang sampai ia takut Elian bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.

Demi menutupi rasa salah tingkahnya yang sudah berada di level akut, Ria melompat kecil satu langkah ke depan, lalu berjalan setengah berlari mendahului Elian dengan gaya yang sangat canggung. Selain karena wajahnya yang sudah terasa seperti terbakar, ia juga ingat harus segera sampai di rumah demi membantu ibunya mengurus keperluan sang kakek. Ia terus menepuk-nepuk kedua pipinya menggunakan telapak tangan.

Aduh, jantungku! Tolong jangan copot sekarang! jerit Ria histeris di dalam hatinya, sambil mati-matian menahan diri agar tidak berteriak langsung di tempat itu. Sambil terus berjalan cepat menyembunyikan wajahnya yang super merah, Ria menyadari satu hal dengan sangat pasti: malam ini, ia sudah jatuh hati dan dibuat salting brutal oleh cowok paling misterius di sekolahnya.

Namun, langkah setengah berlari Ria mendadak terhenti saat sebuah seruan dingin terdengar dari arah belakang.

"Ria, tunggu," panggil Elian. Suaranya tidak lagi terdengar canggung seperti beberapa detik lalu, melainkan kembali datar dan sangat serius.

Ria membalikkan badannya dengan kaku, mencoba mati-matian menyembunyikan sisa rona merah di wajahnya. "E-eh, iya Elian? Kenapa?"

Elian berjalan mendekat. Di bawah sinaran lampu jalan yang berkedip-kedip, mata cowok itu tidak lagi menatap Ria, melainkan tertuju pada sebuah benda perak kecil yang tergeletak di atas aspal tepat di tempat salah satu berandalan yang ia hajar tadi terjatuh. Elian membungkuk, memungut benda itu, dan mengamatinya dengan tatapan mata yang mendadak berubah setajam silet.

Itu adalah sebuah lencana besi berbentuk kepala serigala dengan ukiran angka "01" di tengahnya.

Ria mengernyitkan dahi, rasa salting-nya mendadak menguap digantikan rasa bingung. "Benda apa itu, Elian? milik salah satu dari berandalan tadi yang jatuh?"

Elian terdiam. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menyembunyikan lencana itu ke dalam saku jaket hitamnya. Ketika ia kembali menatap Ria, ekspresi wajahnya berubah total. Ada kilat kecemasan dan rahasia besar yang sengaja ia tutupi.

" apa mungkin mereka sudah menemukanku ?? " ucap Elian.

Ria mematung. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa tegang yang mencekam. Sebelum Ria sempat mencerna kata-kata itu, ponsel di saku jaket Elian bergetar. Elian merogohnya, melihat layarnya, lalu langsung mematikan ponsel tersebut tanpa menjawabnya.

"Rumahmu sudah dekat, kan? Ayo cepat berjalan," kata Elian sambil mengedarkan pandangannya ke arah kegelapan gang di belakang mereka, seolah-olah ada sepasang mata lain yang sedang mengawasi mereka dari balik bayang-bayang. "Mulai besok di sekolah, berpura-puralah seolah kita tidak pernah bicara malam ini. Demi keselamatanmu."

Elian berjalan mendahului Ria dengan langkah lebar yang tergesa-gesa, meninggalkan Ria yang berdiri mematung di tengah keheningan malam dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Siapa sebenarnya Elian? Dan bahaya apa yang sedang mengintai mereka berdua?

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)