Bab 1. Undangan
Hujan turun rintik di luar jendela, membiaskan lampu-lampu di luar menjadi bayangan samar. Aku duduk di kursi kerja yang menghadap ke arah luar dari jendela apartemen. Cangkir kopi hitam yang semula panas kini dingin, tumpahan nya meninggalkan noda lingkaran di atas meja.
Minggu, pagi, hujan—menurutku itu kombinasi yang sangat buruk. Seharusnya aku bisa aktivitas di luar rumah yang menyenangkan tanpa memikirkan pekerjaan. Rencana bersepeda pagi ini langsung berantakan.
Akhirnya, aku menyalakan komputer. Menyentuh kembali pekerjaan kemarin yang tertinggal. Bagi sebagian orang, bekerja di hari Minggu itu hukumnya haram. Aku merasa berdosa.
Sweater abu-abu dan celana training hitam yang ku pakai semalam masih melekat di tubuh. Aku belum mandi. Mandi bukan prioritas di hari Minggu, apalagi dengan cuaca seperti ini.
Derik CPU yang intens saat booting membuatku berpikir: semakin tua, komputer ini seperti kandang ular derik. Aku duduk dengan kaki naik ke atas kursi, menunggu komputer menyala sepenuhnya. Lalu kuangkat cangkir kopi itu. Noda lingkaran muncul lagi di atas meja. Aku mengelapnya—menggunakan ujung lengan sweaterku.
Komputerku baru saja selesai booting. Wallpaper Satoru Gojo dari serial anime Jujutsu Kaisen menatapku dengan mata unik biru berliannya—tatapan yang terasa seperti ejekan. Bete nih, yee. Aku mengalihkan pandangan ke rak di atas monitor. Satu set action figure Kura-Kura Ninja berjajar, masing-masing memperagakan jurus bela dirinya. Hanya Master Splinter yang berdiri diam, memegang tongkat, menatap ke arahku seolah berkata: Hujan, ya, kasihan.
Ku Ulurkan tangan dan aku sentil hingga jatuh ke belakang monitor.
“Tikus sialan” umpatku
Komputerku menyala sempurna sekarang, tapi bukan berarti semangatku ikut menyala. Nyala merah berkedip di mouse, menunggu perintah seperti prajurit setia tanpa tujuan perang. Aku menggeser mouse, cuma untuk membuktikan bahwa dunia masih merespon aku. Dari belakang monitor, Master Splinter, jatuh entah ke mana, mungkin sedang merenungi keputusan hidupnya kenapa harus membesarkan empat kura-kura di got kota New York. Aku tarik nafas panjang. Suara hujan makin deras di luar jendela, seperti seseorang sedang bertepuk tangan atas kekacauan kecil yang disebabkan. Konyol. Ini baru jam delapan pagi, dan aku sudah ingin menyerah hari ini.
Lamunanku, teralihkan perhatiannya, ketika sebuah notifikasi e-mail berbunyi.
"Ah, pekerjaan lagi," gumamku pelan.
Aku mengklik e-mail itu tanpa antusias. Sebuah undangan digital terbuka. Undangan apa ini?
Saat layar menampilkan gambar besar di dalamnya, nafasku tercekat.
Feby.
Itu dia. Mantan pacarku. Di foto itu, ia berdiri di samping seorang pria, tersenyum. Di bawah foto itu, tercetak jelas tulisan: Undangan Pernikahan.
Dari semua kejadian menyebalkan pagi ini, e-mail inilah yang paling menyentakku.
Aku menghempaskan mouse, pandangan kuarahkan keluar jendela.
Dia sudah benar-benar move on dari aku.
Lambat-lambat, mataku kembali ke layar, menatap tanggal yang tercetak jelas di undangan: sepuluh hari lagi.
Tangan kananku kembali menyambar mouse, kali ini kulempar lebih keras hingga melompat ke belakang monitor.
Dua tikus kuhempaskan pagi ini.
Aku berdiri mematung di depan komputer, kutatap jendela, yang tertutup derai air hujan, semesta menangisi aku. Dada sesak, kepala kosong. Lalu, tubuhku berbalik menuju kamar.
Mungkin... olahraga pagi hari ini bisa dimulai dengan memukuli bantal sekuat-kuatnya.
Aku terduduk di tepi ranjang, napas berat seperti disaring oleh dada yang sempit.
Sunyi. Tak ada suara selain detak jam dan denyut nadi di pelipis.
Kenapa harus sekarang? Kenapa dia harus muncul lagi, bukan sebagai bayangan samar, tapi sebagai calon pengantin?
Kupikir aku sudah baik-baik saja. Kupikir aku sudah menyimpan semua tentang dia dalam laci paling bawah ingatan.
Nyatanya, hanya butuh satu foto, satu nama, dan satu tanggal, untuk membuat semua berhamburan keluar lagi.
Tanganku meraih laci lemari paling bawah di samping tempat tidur, menarik amplop berisi foto-foto lama.
Kusimpan di sana dengan alasan klasik: "Untuk dikenang." Tapi siapa yang benar-benar butuh kenangan saat sedang berusaha melupakan?
Ada foto kami di stasiun kereta, basah oleh hujan dan tawa.
Aku tak ingat lagi apa yang membuat kami tertawa hari itu. Tapi aku ingat betul bagaimana akhirnya kami saling diam.
Kupandangi foto itu lama. Terlalu lama.
Lalu, tanpa sadar, aku bicara pada bayangan dalam foto itu.
"Kamu bahagia sekarang?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, dijawab oleh senyumnya yang membeku di dalam bingkai.
Aku tahu jawabannya.
Tanganku masih menggenggam foto itu ketika ponselku bergetar.
Aku menoleh malas. Kupikir notifikasi lain dari email. Tapi bukan.
Layar menunjukkan: Raka Calling…
Aku terdiam sejenak, lalu menggeser layar.
"Halo?"
Suara di seberang terdengar agak pelan, berat.
"Gilang…"
"Raka?"
"Iya. Maaf, nggak ganggu kan?."
"Nggak. Aku nggak lagi apa-apa.”
Ada jeda. Sunyi. Hanya dengung samar dari sambungan telepon.
Lalu dia bicara. Perlahan. Seperti takut suaranya sendiri akan menggores.
"Aku juga dapat, Lang... undangannya."
Dadaku mengencang.
"Feby?"
"Iya, Lang. Aku kira... aku yang salah lihat. Tapi ternyata bener ya? Dia—dia mau nikah?"
Aku terdiam. Kata-kata itu seperti mengulang luka yang belum selesai.
"Aku juga nggak tahu harus percaya atau nggak," ucapku pelan.
"Aku sempat bengong waktu buka email-nya," lanjut Raka. Aku menarik napas panjang.
"Orang-orang pasti sudah lupa kalau aku dan Feby pernah bareng. Tapi kayaknya kamu masih ingat."
"Gimana bisa lupa, Lang. Aku yang pertama kali tahu waktu kalian jadian. Kamu cerita ke aku."
Aku menelan ludah. "Itu dulu."
Sunyi lagi. Tapi bukan sunyi yang kikuk. Ini sunyi yang penuh beban.
"Kamu gimana, Lang?" tanya Raka, pelan. "Sejak kabar itu… kamu baik-baik aja?"
Aku nyaris tertawa, tapi yang keluar hanya hembusan napas lelah.
"Aku... nggak tahu. Rasanya kayak dimasukin ke ruang kosong yang dingin, terus lampunya dimatiin."
"Tapi ya... hidup tetap jalan, kan?"
Raka menghela napas.
"Kadang aku ngerasa, kita semua kayak penumpang yang tertinggal di peron, sementara kereta terus jalan. Kita cuma bisa melambai, padahal yang naik pun nggak pernah nengok ke belakang."
Aku terdiam. Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang sepi dalam diriku.
"Makanya aku telepon," katanya lagi. "Aku nggak tahu harus ngomong apa. Tapi aku tahu kamu butuh seseorang buat dengerin. Walaupun kita jarang ngobrol sekarang, tapi… aku tetap temanmu, Lang."
Mataku mulai terasa panas. Tapi aku menahannya.
"Terima kasih, Ka, itu sangat berarti."
Suara Raka melembut. “Aku tahu ini berat. Tapi kamu nggak harus ngadepin sendiri.”
Diam sejenak.
Lalu ia berkata, “Ketemuan yuk. Di tempat biasa. 20.30. Lo sempat?”
Kupandangi foto itu sekali lagi, lalu aku menjawab, pelan,
“Oke. 20.30.”
—
Kafe kecil di pojok jalan, tempat biasa kami dulu menghabiskan hari libur yang lengang.
Tempat yang jadi saksi banyak tawa, juga beberapa air mata.
Aku tiba lebih dulu. Duduk di sudut yang menghadap jendela, seperti biasa.
Hujan rintik-rintik mulai turun lagi.
Tentu saja.
Langit seperti tahu aku sedang rapuh, dan memutuskan untuk ikut menangis pelan-pelan.
Tak lama kemudian, Raka masuk. Jaket kulitnya basah di bahu, rambutnya sedikit lepek. Tapi senyumnya tetap sama.
Senyum orang yang tahu terlalu banyak, tentang aku.
"Udah lama, Lang?" tanyanya sambil menarik kursi.
Aku mengangguk pelan. "Baru sebentar."
Dia memesan kopi tanpa gula. Selalu begitu sejak dulu.
Beberapa menit kami hanya diam.
Lalu dia berkata,
"Aku lihat undangannya juga tadi pagi. Kaget. Tapi kamu... pasti lebih kaget."
Aku menghela napas.
"Lucu, ya. Kadang aku pikir semua sudah selesai. Tapi ternyata belum."
Raka mengangguk, matanya menatapku lekat.
"Kamu tahu, Lang... aku dulu pikir kalian bakal nikah."
Aku tersenyum miris. "Aku juga."
Kopi kami datang. Aroma pahitnya mengisi udara, tapi tak mengusir pahit yang lain.
“Jadi sibuk apa sekarang kamu Rak.” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Masih di perusahaan makanan itu, masih staf IT” Raka menjawab seadanya.
"Dia pernah nyari kamu, setelah kalian putus," ucap Raka pelan.
"Beberapa bulan setelah... yang terakhir itu."
Aku menoleh. Jantungku berdebar aneh, usahaku mengalihkan pembicaraan tidak berhasil..
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
Raka menunduk. "Karena itu tidak akan membantu apa-apa, kalau dia memang nyari kamu, datang aja ke apartemen kamu jangan ketemu aku"
Aku tak menjawab. Tak tahu harus marah atau berterima kasih.
Lalu, entah kenapa, aku bertanya:
"Dia bahagia sekarang, ya?"
Raka menatapku lama.
“Mungkin ada baiknya kamu juga move on, cari pengganti dia”
“Yah mungkin memang harus begitu”
Hujan sudah reda ketika aku keluar dari kafe.
Udara dingin malam menempel di kulit, menyusup ke sela kerah jaketku.
—-
Aku berjalan kaki menyusuri trotoar yang licin. Sepi. Hanya lampu jalan yang menyala temaram dan genangan yang memantulkan cahaya seadanya.
Langkahku pelan. Entah kenapa aku tak ingin cepat sampai.
Kepalaku penuh.
Kata-kata Raka tadi terngiang.
"Cari pengganti dia"
Kalimat itu terus memukul pelan dari dalam, seperti ketukan lemah di pintu yang sudah lama kututup rapat. Andai bisa semudah itu, dia bukan gorden yang bisa di ganti semauku, karena sudah bosan atau tidak cocok dengan selera.
Sesampainya di rumah, aku melepas sepatu tanpa menyalakan lampu.
Ruang tamu menyambutku dengan keheningan yang akrab.
Aku duduk kembali di tepi ranjang, di tempat yang sama seperti tadi sore.
Foto itu masih ada di atas meja, belum sempat ku kembalikan ke dalam amplop.
Kupandangi lagi.
Dulu, aku mengira waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi ternyata waktu hanya membuat luka itu tumbuh akar. Tak terlihat di permukaan, tapi menusuk makin dalam.
Aku berbaring, memandangi langit-langit kamar yang gelap.
"Apa gunanya semua ini, kalau akhirnya cuma jadi kenangan?"
Tapi mungkin, kenangan memang tak dimaksudkan untuk dihapus.
Mungkin ia hanya perlu diakui keberadaannya. Diberi tempat yang layak.
Bukan disimpan dalam laci dan pura-pura dilupakan.
Di luar, hujan turun lagi. Kali ini lebih lembut.
Kupeluk diriku sendiri di balik selimut yang dingin.
Bab 2. Surat Aneh
Senin, dan Segala Harus Dilupakan
Pagi tiba tanpa permisi, membangunkanku dengan Suara alarm dari ponsel yang menerobos hening pagi, tapi tubuhku masih merasa berat—seolah mimpi semalam belum benar-benar berakhir.
Hari Senin.
Hari yang katanya penuh semangat.
Hari di mana semua orang menata ulang hidupnya lewat to-do list, spreadsheet, dan secangkir kopi hitam.
Kupaksakan diri bangkit. Mandi cepat, sarapan sekenanya, lalu berangkat kerja dengan earphone terpasang meski musiknya tak benar-benar kudengar.
Jakarta pagi itu macet seperti biasa.
Tapi justru dalam keruwetan itu aku merasa nyaman, di duniaku sendiri.
Di balik kaca bus, di antara klakson dan wajah-wajah yang nyawanya masih terpenjara oleh liburan akhir minggu, aku bisa pura-pura lupa.
Pura-pura jadi orang yang tak punya kenangan.
Sampai di kantor—lantai 5, gedung kaca di pusat kota—aku kembali menjadi Gilang: Data Analis di perusahaan telekomunikasi di pusat Jakarta, jomblo, 27 tahun. Bahagia….. Belum tentu.
komputer menyala. Excel terbuka. Dashboard KPI dan grafik trafik jaringan terpampang.
Ada email dari tim marketing minta data churn bulan ini, ada Slack dari supervisor minta update insight behavior user.
Dan aku... tenggelam.
Dengan sengaja.
Aku tahu ini cara murahan untuk melarikan diri, tapi bekerja memberiku satu hal yang Feby tak pernah bisa beri: kesempatan kedua.
Jika aku input A, maka hasilnya B.
Jika aku filter tanggal, maka semua yang bukan hari ini akan hilang dari layar.
Seandainya hati bisa difilter seperti data.
Menjelang siang, secangkir kopi hitam kedua sudah di tangan, dan aku mulai merasa... normal.
Tertawa kecil saat melihat meme di grup kantor.
Memberi komentar di dashboard rekan sebelah.
Menjawab call dari user research dengan nada profesional.
Tapi saat rehat makan siang, saat ku membuat kopi, seorang rekan kerja berdiri di sebelahku—Maya di pantry dan berkata:
“Eh, Gilang. Apa kabar Feby Wardhani? Katanya dia mau nikah minggu depan, rame tuh di timeline.”
Sendokku berhenti di tengah jalan saat mengaduk kopi.
Wajahku mungkin biasa saja. Tak ku sangka teman temanku, kembali mengaitkan ku padanya. Tak salah juga sih, dulu Feby team leader Call centre, pasti banyak orang mengenalnya— Sesuatu mencair lagi.
Kupaksa senyum.
“Cantik, ya? Dulu pernah deket sama lo, ya?”
Ia tertawa kecil, tanpa maksud jahat.
Aku mengangguk pelan, lalu mengalihkan pembicaraan.
Tentang harga nasi padang. Tentang cuaca. Tentang apa pun selain Feby.
—
Di layar komputer, angka-angka kembali menari.
Tapi kini, otakku tak lagi setenang tadi pagi.
Karena ternyata…
melupakan seseorang bukan soal mengganti pikiran, tapi menerima bahwa sebagian dari dirimu pernah ditinggali.
—
Jakarta memang tidak pernah berubah.
Macet masih menjadi rutinitas pagi dan sore hari. Seperti sore ini.
Bis kota penuh, tapi tidak ada yang berdiri—semua mendapatkan tempat duduk. Tapi meski berdekatan, masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Ada yang mendengarkan musik dengan mata terpejam. Ada yang asyik membaca buku tebal berbahasa Inggris. Di sebelahku, seorang perempuan tertawa kecil sambil menonton drama Korea di ponselnya.
Tak ada yang salah.
Yang salah, mungkin aku—aku yang justru sibuk memperhatikan mereka.
Apartemenku tidak jauh dari tempat kerja.
Biasanya aku hanya perlu sekali naik TransJakarta. Kalau cuaca bersahabat, aku lebih suka naik sepeda. Rasanya lebih bebas, dan sedikit lebih jujur pada diri sendiri.
Langkah kakiku sedikit berhati-hati ketika memasuki halaman apartemen. Genangan air tampak di mana-mana—sepertinya hujan deras turun tadi siang atau sore.
Seperti biasa, sebelum naik ke unitku, aku mampir ke kotak surat, memeriksa apakah ada surat yang menurutku penting.
Beberapa lembar surat dan brosur memenuhi kotak itu. Aku mengambil semuanya dan memeriksanya sambil berjalan naik. Sebagian besar hanya iklan—penawaran kartu kredit, promo berlangganan dari produk yang pernah aku coba.
Namun, satu surat membuat langkahku terhenti sejenak.
Amplop berwarna putih gading. Tak ada nama pengirim. Hanya namaku yang tertulis di bagian depan. Rapi. Seolah ditulis dengan sengaja untuk menarik perhatian.
Begitu masuk ke unitku, aku melempar semua brosur ke atas meja.
Tapi surat itu masih kugenggam.
Aku letakkan tas di samping sofa, lalu duduk. Dengan hati-hati, aku merobek amplopnya.
Hanya ada satu lembar kertas di dalamnya.
Isinya singkat.
“Kamu punya waktu 10 hari.
Feby masih mencintai kamu.”
Aku terdiam.
Tulisan tangan itu—aku mengenalnya.
Itu tulisanku sendiri.
Aku masih bingung. Apakah ini lelucon iseng? Prank dari teman kantor?.
Tapi... kenapa tulisanku sendiri? Aku tak ingat pernah menulis surat seperti ini—apalagi ditujukan untuk diriku sendiri.
Siapa yang mengirim ini?
BAB 3. Kencan Pertama
Aku tenggelam dalam rutinitas pagi. Suara penyiar berita di TV hanya menjadi latar belakang kegiatan ku sebelum bekerja. Sambil memperhatikan layar monitor, tangan kananku menggenggam secangkir kopi yang mulai mendingin. Sebagai jomblo, semuanya harus kulakukan sendiri. Kalau saja aku punya istri—istri seperti Feby, misalnya—mungkin segalanya akan terasa lebih ringan.
Aaargh! Kenapa harus dia lagi yang terlintas?
Amplop dari semalam masih tergeletak di atas meja. Haruskah aku buang saja, bersama brosur-brosur yang tak penting itu? Ah, biar saja.
Ketika aku akan beranjak keluar, mataku menangkap sesuatu di lantai, tepat di bawah celah pintu. Sebuah kertas berbentuk persegi panjang berwarna putih gading. Aku mendekat. Sebuah amplop dengan namaku tertulis rapi di atasnya.
Cepat-cepat aku membuka pintu, berharap bisa menangkap tangan iseng yang meninggalkannya. Tapi lorong itu sepi, aku tidak melihat sesuatupun yang bergerak. Tidak ada siapa-siapa.
Aku mengambil amplop itu, memasukkannya ke dalam tas tanpa membuka. Lalu bergegas pergi bekerja—dengan pikiran yang mulai dihantui pertanyaan baru.
Hari ini seperti biasa, aku tenggelam dalam lautan angka dan grafik. Sebagai data analis, hidupku tak jauh dari tabel yang memenuhi layar monitor. Deretan data mengelilingi sekat setinggi dada, seperti benteng yang mengurungku. Di sekeliling meja kerjaku, stiker-stiker post-it berwarna-warni menempel sembarangan—catatan kecil yang kupaksakan untuk jadi pengingat hidupku yang terlalu sibuk.
Saat aku merogoh tasku untuk mencari pensil, tanganku malah menyentuh sesuatu yang asing tapi tak asing: amplop itu.
Sekejap semua kesibukan memudar. Mataku menatap amplop itu, diam, mematung. Aku memegangnya, menimbang. Haruskah kubuka sekarang?
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku robek bagian atasnya. Kertas di dalamnya hanya satu, kecil, tanpa nama pengirim. Tapi kalimatnya membuat nafasku tercekat:
“Feby akan berada di tempat pertama kali kamu mengajaknya kencan. Sore ini, pukul 5.”
Aku terpaku.
Tulisan ini… seperti surat pertama kemarin. Seperti… tulisanku sendiri.
Keningku mengernyit. Aku membuka kembali “lemari arsip” di kepalaku—menggali ingatan yang sudah lama ku kunci. Tempat pertama kali aku mengajak Feby berkencan?
Kami mulai dekat saat dia masih bekerja di sini. Setelah beberapa kali ngobrol sepulang kerja, aku akhirnya memberanikan diri mengajaknya jalan. Aku masih ingat, aku menunggu lama di lobby sebelum kami berjalan kaki ke food court di depan mall, persis di seberang gedung kantor ini.
Tapi… mungkinkah?
Feby. Tempat itu. Sore ini.
—-
Aku akhirnya mendatangi mall itu.
Persentase harapan untuk melihat Feby sore ini? Mungkin cuma 5%. Tempat kerjanya sekarang jauh dari kantor lamanya – kantor aku. Jam pulangnya juga pas-pasan—pukul 5. Mana mungkin dia langsung ada di sini, food court seberang gedung lama, secepat itu?
Tapi aku di sini.
Di toko buku, tepat di seberang food court tempat aku menunggunya diam-diam. Meskipun harapan bertemu sangat kecil, dan bertemu lalu berbincang ringan hanya sebatas khayalanku, tapi, aku ingin ia ada disana, tersenyum padaku.
Aku pura-pura membolak balikan buku, tapi pandanganku ke arah food court, berusaha memperhatikan wajah-wajah orang yang berseliweran di food court itu. Dan…
Dia ada disana, duduk di salah satu meja di food court itu. Memakai kemeja putih dan rok panjang berwarna krem, dengan pandangan yang ia sapukan ke seluruh sudut. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang, apakah menungguku?.
Aku melihatnya dari kejauhan, mengenali postur tubuh itu, caranya membalik halaman, bahkan kebiasaannya memainkan bolpoin dengan jemarinya, seperti dulu. Kenapa mantan itu selalu terlihat lebih cantik setelah putus?.
Sedang apa aku di sini, berdiri seperti orang bodoh, menggantungkan harapan pada sesuatu yang bahkan tidak masuk akal?
Apa aku sebegitu inginnya aku bertemu dengan dia, sampai-sampai mengambil peluang yang hanya 5%?
Mengabaikan 95%?
Kamu gila. Nggak pake ng.
Aku melangkah keluar dari toko buku itu. Mungkin sudah cukup.
Tadinya aku berniat menghampirinya. Tapi langkahku terhenti. Di kejauhan, Feby tampak bersama seseorang. Lelaki itu. Mungkin calon suaminya. Mereka tampak akrab.
Entah kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang mengendap pelan di dada. Aku menarik napas, lalu pura-pura menalikan tali sepatu, sekadar memberi waktu pada diriku untuk berpikir, berusaha memberi peluang benakku untuk meluruskan sikap ku selanjutnya. Akhirnya, aku memilih membalikkan badan, melangkah menuju lift—keluar dari gedung ini.
Tak ada yang perlu dipaksakan. Tak ada yang harus dijelaskan.
Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di luar gedung. Langit sore tampak membentuk gumpalan abu-abu dihiasi warna kuning—cahaya matahari.
Langkahku terasa lebih ringan, meski sedikit rapuh.
Aku memutuskan pulang.
Bukan karena menyerah, tapi karena akhirnya aku mengerti: beberapa hal memang tidak untuk kembali. Cukup dikenang, dan dilepaskan perlahan.
Dia terlihat bahagia.
BAB 4. Franz Schubert.
Layar monitor di depanku masih sama seperti kemarin—dipenuhi tabel-tabel yang terus berubah setiap menit. Beberapa kali aku sudah menghubungi bagian help desk, menanyakan data yang diminta customer, tapi email yang kutunggu tak juga datang. Hampir setengah jam berlalu. Haruskah aku kirim ulang permintaan itu, sekalian cc ke manajer?
Aku masih tenggelam dalam angka-angka saat tiba-tiba telepon berdering.
“Gilang, kamu ditunggu di ruang rapat,” suara dari seberang terdengar tegas.
Aku tersentak. Mataku langsung melirik jam di pergelangan tangan. Monthly meeting! Kenapa aku bisa lupa?
Sedikit terburu-buru, aku mengambil map plastik dan setengah berlari menuju ruang rapat.
Ruangannya luas, dingin, dan pencahayaan yang temaram, karena departemen marketing, ingin menunjukan foto slide sebagai bahan presentasinya, membuatnya terasa seperti tempat yang pas untuk tidur. Agenda hari ini hanya membahas promo-promo, tidak ada hal mendesak. Untunglah, meeting kali ini tak berlangsung lama.
Keluar dari ruang rapat bersama beberapa rekan, obrolan ringan kami membawa langkah ke pantry. Aku membuat secangkir kopi hitam panas, menuangkannya ke mug putih berlogo Batman—mug kesayanganku. Aroma kopi sedikit membantu mengusir rasa kantuk.
Kembali ke meja, aku hampir menjatuhkan mug itu karena terkejut.
Sebuah amplop putih gading itu menempel di layar monitor.
Aku meraihnya perlahan dan meletakkannya di atas meja. Mataku menyapu sekeliling ruangan—tak ada yang memperhatikanku. Semua tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Aku menjatuhkan tubuh ke kursi. Ada dorongan untuk langsung menyobek amplop itu dan membuangnya, tapi jika isinya soal Feby… tak bisa aku acuhkan..
Akhirnya, dengan pelan, aku merobek sisi amplop. Sebuah kertas kecil terlipat rapi di dalamnya. Kubuka.
Tertulis: “Schubert piano Trio No2 in E flat major, Feby akan di sana. Jam 8 malam ini.”
Aku terdiam. Jantungku berdegup tak menentu.
Apa maksudnya ini?
Setiap kali surat berwarna putih gading itu muncul, aku tak bisa berkonsentrasi.
Setiap pekerjaan yang aku ambil hari ini hanyalah cara membunuh waktu.
Mataku menatap layar monitor, tapi pikiranku menembusnya, melihat banyak hal di balik sana.
Schubert piano Trio No. 2—apa maksudnya?
Feby akan ada di sana malam ini.
Kalau yang dimaksud memang Franz Schubert, rasanya musik-musiknya tak ada hubungan dengan Feby.
Tapi kenapa namanya disebut di surat itu?
Akhirnya, aku membuka search engine.
Untuk ukuran orang yang pura-pura tidak peduli, aku memang payah.
Untuk apa membuka luka lama? Dan sekarang... luka itu aku tetesi jeruk nipis.
Aku membayangkan wajah Feby, kenangan-kenangan, sampai akhirnya, pertengkaran itu.
Dari semua pertengkaran yang pernah kita alami, pada akhirnya kamu menyimpulkan, aku seperti anak kecil—tak punya skala prioritas.
Kita pernah bicara tentang pernikahan.
Kamu sudah menyiapkan banyak hal ke arah sana.
Sedangkan aku? Aku masih bisa membeli mainan mahal, ratusan ribu bahkan jutaan, hanya karena ingin memanjakan diri. Dengan alasan: aku berhak mendapatkannya.
Karena keistimewaan yang kamu dapat dari orang tuamu, tidak pernah aku rasakan dari orang tua ku.
Aku tumbuh dengan banyak keinginan yang tak bisa dipenuhi, dan kini ketika aku bisa mendapatkan semua keinginanku di masa kecilku, aku balas semuanya.
Tapi dalam prosesnya...
Impianmu hancur oleh impianku.
Saat terakhir kita bertemu, kamu bilang:
"Aku mencintaimu, Gilang. Tapi sepertinya, kamu lebih mencintai dirimu sendiri."
Lalu kamu pergi, meninggalkan aku.
---
“Gilang... Gilang...”
Suara itu memanggilku dari belakang.
Terlalu dalam aku tenggelam dalam pikiran, sampai panggilan itu tak kunjung kusambut.
Aku menoleh. Maya, rekan kerjaku, berdiri di sana.
“Lang, kalau kamu nggak ada acara malam ini, Ira akunting mengundang. Dia ulang tahun kemarin, makan-makannya hari ini”
Aku menggeleng pelan.
“Maaf, aku sudah janji,” jawabku cepat.“Titip salam aja, bilang selamat ulang tahun.”
Maya tersenyum tipis, lalu kembali ke mejanya.
Dan aku…
Aku rasa, aku tidak akan kembali ke lamunanku.
Aku menyerah pada search engine ini. Sudah aku gunakan segala kata kunci yang terpikir, tapi hasilnya hanya membuatku semakin bingung. Aku menyandarkan tubuhku ke kursi, sedalam-dalamnya, seolah ingin tenggelam dalam kelelahan dan tanda tanya yang tak kunjung habis.
Kertas dari amplop itu masih kugenggam. Di sana tertulis jelas: Schubert – Piano Trio No. 2 in E-flat Major. Spesifik sekali. Terlalu spesifik untuk dianggap kebetulan.
Rasa penasaran menggerogoti. Aku raih ponselku, tancapkan headphone, lalu cari musik itu di YouTube. Begitu nada pertamanya mengalun, sesuatu dalam diriku tergerak. Musik ini... aku pernah mendengarnya.
Lalu ingatan itu muncul, perlahan tapi pasti. Sebuah sore di toko musik di mall. Aku dan Feby. Dia mengajakku mencari sebuah lagu yang sudah lama ia incar. Aku yang awalnya tak terlalu peduli, justru menemukan musik ini—Trio No. 2 in E-flat Major—secara tak sengaja. Aku ingat kenapa aku tertarik: karena musik ini juga pernah muncul sebagai soundtrack dalam film Jason Statham, yang kami tonton bersama. Tapi aku semakin heran, yang menulis surat kaleng ini siapa, dia begitu tahu detailnya.
Ingatanku kian tajam, seperti baru kemarin. Feby sempat bilang musik klasik membuatnya merasa “nyaman dalam kekacauan.” Apakah... dia ingin aku mengingat toko musik itu? Apakah dia akan berada di sana malam ini?
Aku tidak pernah sesering ini melirik jam dinding. Jarum panjang seperti sengaja bergerak lambat, mengolok-olok semangatku yang mendidih. Pukul lima masih setengah jam lagi, tapi aku sudah menutup dokumen terakhir sejak sepuluh menit lalu. Excel masih terbuka di layar monitor, hanya sebagai kamuflase agar tidak tampak terlalu mencolok. Aku sudah tidak bisa fokus. Yang ada di pikiranku hanya satu tempat: toko musik itu.
Tangan kananku memegang mouse, tapi tangan kiriku menggenggam ponsel—layarnya gelap, tapi entah sudah berapa kali kutekan hanya untuk memastikan waktu tidak beku. Aku bahkan sudah membayangkan bau plastik bungkus CD, rak kayu tinggi berderet rapi, dan denting lonceng kecil di pintu toko itu. Semua itu seperti memanggilku kembali ke masa lalu.
"Gilang, kamu masih di situ?" suara Maya dari meja seberang membuyarkan lamunanku.
"Eh? Iya, masih." Aku tersenyum kaku. "Lagi ngerapiin file bulanan."
"Rajin banget. Padahal hari ini Jumat, loh."
Jumat. Malam. Tiba-tiba degup jantungku bertambah cepat.
Jam menunjukkan 16.50. Sepuluh menit lagi.
Aku berdiri sebelum waktunya, pura-pura ke pantry. Kupandangi kopi sisa pagi yang kini tinggal ampasnya. Lalu kembali ke meja hanya untuk membereskan barang-barangku diam-diam. Tepat pukul lima, aku sudah dalam lift, jari-jariku tak bisa diam, mengetuk-ngetuk sisi tas selempang yang menggantung di bahu.
Di dalam bus Transjakarta, pemandangan Jakarta menjelang malam terlihat biasa saja bagi orang lain, tapi bagiku, semuanya seperti layar film yang sedang menuntun ke klimaks. Jantungku berdetak lebih cepat setiap kali kendaraan bergerak. Rasanya seperti sedang menuju sebuah temu janji rahasia, atau mungkin sebuah kenangan yang belum selesai.
Langit mulai gelap saat aku tiba di mall itu. Aku turun dengan langkah cepat, hampir tergesa. Aku tidak peduli pada toko-toko lain, tidak tertarik dengan lampu-lampu mencolok yang biasanya sempat mencuri perhatianku. Tujuanku hanya satu. Toko musik itu.
Dan di depan pintu kaca toko itu, aku berhenti. Nafasku sedikit terengah. Lampu di dalam menyala terang, dan bayangan rak CD terlihat dari balik kaca. Tapi aku belum berani masuk. Aku menunggu—mencari satu wajah yang sempat hilang dari hidupku tapi kini muncul kembali... lewat sepotong musik.
Aku masuk ke toko musik itu dengan langkah pelan. Pura-pura sibuk memilih, padahal pikiranku tertuju pada hal yang lain. Tanganku menyentuh satu-dua kotak CD di rak depan, tapi mataku sebenarnya tengah mengintai dari balik kepala yang lalu-lalang. Aku menunduk, seolah fokus, padahal mataku justru mencari wajah yang kutunggu sejak pagi.
Aku melangkah ke bagian alat musik, aku sentuh gitar-gitar akustik yang berjajar, seolah aku tertarik untuk memilikinya, aku beralih kepada gitar-gitar listrik di rak paling atas dengan peringatan jangan disentuh, sepertinya gitar-gitar itu terlalu rapuh untuk orang awam seperti aku mainkan. Dan….disanalah aku melihatnya.
Feby.
Dia berdiri di salah satu booth dengan deretan headphone tergantung rapi, seolah mengundang siapa saja untuk berhenti sejenak dan mendengarkan. Ia mengenakan salah satunya—headphone besar yang menutup kedua telinganya—sementara jemarinya mengetuk pelan mengikuti irama lagu dari album rilisan baru yang dipajang.
Lampu-lampu toko musik memantulkan cahaya lembut di wajahnya. Tidak ada riasan mencolok, tidak ada senyum formal seperti saat kami masih bekerja bersama. Hanya Feby dengan kaus putih sederhana, jaket jeans biru yang mulai pudar di beberapa sisi, celana denim serasi, dan sepatu kets putih yang tampak sering dipakai.
Ada ketenangan di rautnya, ketenangan yang dulu hanya muncul kalau ia membicarakan musik favoritnya—bukan laporan, bukan deadline. Malam ini, Feby terlihat seperti versi dirinya yang paling jujur. Versi yang kukenal sebelum semuanya berubah.
Dan entah kenapa, melihatnya seperti itu membuatku merasa seolah waktu mundur beberapa tahun ke belakang. Seolah aku sedang melihat Feby yang pernah berdiri di sebelahku sambil berbagi satu earphone, tertawa pelan karena lagu yang kupilih terlalu “melankolis” untuk seleranya.
Aku terpaku. Bukankah ini yang kutunggu-tunggu sejak pagi? Tapi entah kenapa, keberanian yang kupupuk sepanjang hari mendadak menguap. Hilang begitu saja, seperti embun yang disentuh matahari pagi.
Aku hanya berdiri. Melihat dari kejauhan. Berpura-pura menyentuh gitar, tapi hati dan pikiranku porak-poranda.
Dia akan menikah. Itu kenyataannya.
Lalu apa yang sebenarnya kulakukan di sini? Datang hanya untuk melihatnya dari kejauhan? Untuk mengacaukan hidup seseorang yang sedang menata masa depan? Atau… hanya untuk memastikan bahwa aku memang sudah terlambat?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku sampai seorang pramuniaga mendekat, suaranya memecah kekalutanku.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?”
Aku menggeleng pelan. “Sedang melihat-lihat saja, Mbak,” jawabku sambil memaksakan senyum. Ia mengangguk ramah sebelum kembali ke meja kasir.
Aku menarik napas panjang, mencoba terlihat normal saat melangkah ke deretan alat musik yang dipajang. Jemariku menyentuh kotak gitar elektrik yang mengilap, tapi pikiranku tidak benar-benar di situ.
Tanpa sadar, mataku melirik kembali ke arah booth tempat Feby tadi berdiri.
Kosong.
Perutku serasa ditarik jatuh. Dalam sekejap, kepanikan kecil merayap naik. Aku mempercepat langkah menyusuri rak-rak CD, mencari sosok yang beberapa menit lalu masih bisa kulihat begitu jelas. Musik dari speaker toko berganti-ganti—jazz, pop, lalu instrumental—namun semuanya terdengar seperti gema jauh yang tak bermakna.
Aku menelusuri setiap lorong, memindai wajah-wajah asing dengan harapan menemukan satu wajah yang begitu kukenal. Setiap detik yang berlalu membuat dadaku semakin sesak, seperti ada sesuatu yang akan hilang lagi… untuk kedua kalinya.
Dan di sana… aku menemukannya lagi.
Feby berdiri di depan rak musik klasik. Bukan memilih CD, bukan menelusuri sampul—dia justru menatap sekeliling dengan gerakan kecil yang gelisah. Seperti seseorang yang kehilangan sesuatu. Atau seseorang yang sedang mencari.
Mencari siapa?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Apakah dia mencariku?
Secara logika, jawaban itu terlalu mudah. Terlalu masuk akal. Tapi logika tidak pernah cukup untuk menggerakkan kakiku. Tidak malam ini, ketika seluruh tubuhku rasanya seperti ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Dan tiba-tiba—tanpa tanda, tanpa jeda—Feby berbalik.
Langkahnya cepat. Tegas. Ia berjalan menuju pintu keluar dan menyeberangi garis cahaya dari lampu toko.
Aku hanya berdiri. Membeku.
Tidak mengejar.
Tidak memanggil namanya.
Tidak melakukan apa pun selain menyaksikan punggungnya menghilang dari pandangan.
Pintu toko menutup dengan suara lembut—suara kecil yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada seharusnya.
Aku menarik napas, atau mungkin mengembuskannya, aku sendiri tidak yakin.
“Ngapain kamu di sini, bodoh,” gumamku, nyaris tanpa suara. “Nunggu berjam-jam cuma untuk ini.”
Ada rasa menyesal yang menempel seperti bayangan panjang—mengikuti, tapi tak bisa kuusir.
—-
Lampu-lampu penerangan menuju apartemenku menyala terang, cahayanya memantul di atas rumput yang masih basah oleh sisa hujan sore tadi, membuatnya tampak berkilau. Laron-laron beterbangan, mengitari bohlam di sepanjang jalan ini—seperti menari dalam cahaya yang menipu.
Setelah bertukar sapa dengan satpam gedung, aku melanjutkan langkah. Jumat malam. Seharusnya malam ini aku tidak di sini.
Gedung tempat unitku berada tampak lebih sepi dari biasanya. Aku singgah sebentar di depan kotak surat, rutinitas yang selalu aku lakukan setiap pulang. Tapi hari ini, kotak itu kosong. Nafasku tertahan sejenak, lalu mengalir dalam helaan panjang. Entah mengapa, aku berharap ada sesuatu di sana.
Aku menaiki tangga ke lantai dua. Seperti biasa, pintu kubuka tanpa menyalakan lampu lebih dulu. Aku melepas sepatu, lalu menjatuhkan tubuh ini ke sofa.
Kepalaku kembali memutar ulang kejadian di toko musik sore tadi. Untuk apa aku ke sana?
Sudahlah, Lang. Dia akan jadi milik orang lain. Kamu hanya akan menjadi pengganggu dalam cerita mereka.
Pikiranku kembali pada surat aneh itu. Mengapa penulisnya bisa tahu begitu banyak tentang hidupku? Terlalu detail untuk sekadar iseng.
Besok libur. Mungkin aku akan bersepeda. Tapi... kalau hujan?
Ya sudahlah. Lihat saja besok.
Bab 5. Closure
Aku berhenti di bawah pohon trembesi, nafasku terengah-engah. Harusnya aku tidak berhenti. Aku harus bisa memecahkan rekor pribadi minggu pagi ini—mengelilingi tiga tower apartemen ini sebanyak lima puluh kali. Tapi di putaran ke tiga puluh lima, aku menyerah sejenak, mengistirahatkan otot kaki dan napas yang mulai kacau.
Beberapa detik kemudian, aku mengayuh kembali sepedaku.
“Ayo, Gilang, kamu bisa. Jalanan datar ini nggak bakal membunuhmu. Lewati saja.”
Lima putaran berikutnya berhasil kulalui—lalu akhirnya aku tumbang juga di depan bangku taman, tepat di bawah pohon trembesi yang sama seperti kemarin-kemarin. Nafasku memburu, panas menjalar di dada, dan otot-otot kakiku seperti menjerit minta ampun.
Terlalu memaksakan.
Empat puluh putaran minggu ini seharusnya sudah lebih dari cukup.
Aku menjatuhkan tubuh ke bangku taman dan membiarkan punggungku bersandar. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan trembesi, menari pelan saat angin lewat. Ada rasa damai yang perlahan menyusup, seolah tubuhku sedang diselimuti keteduhan yang sabar.
Perlahan, napasku mulai stabil.
Sepedaku kusandarkan di sisi bangku, seperti ikut “tidur” bersamaku.
Tak lama kemudian, seorang pria berseragam berhenti di depanku dengan sepeda listriknya, suara bannya menggesek ringan di paving.
“Berapa putaran minggu ini, Mas?” tanyanya sambil tersenyum lebar—senyum khas yang hampir selalu ia bawa setiap kali patroli.
“Empat puluh putaran, Mas,” jawabku sambil terkekeh, masih ngos-ngosan.
“Wah, hebat! Saya baru tiga putaran… itu pun pakai sepeda listrik!” katanya sembari tertawa keras, menular.
Aku ikut tertawa.
Mungkin bukan karena leluconnya lucu, tapi karena di saat seperti ini—dengan keringat masih menetes dan kakiku hampir kram—tawa itu terasa menyenangkan.
Satpam itu kemudian berpamitan, melanjutkan patroli keliling tower.
Namanya siapa ya? Zulkifli? Zulfikar?
Entahlah. Semua orang memanggilnya Mas Zul, dan aku ikut saja.
Aku tuntun sepedaku pulang ke unit. Mood bersepedaku sudah jatuh ke dasar—bahkan mungkin menembus lantainya. Lebih baik kutuntun saja sepeda ini daripada kuseret. Lagipula, kalau kupaksakan menyeret, bisa-bisa rekor baruku minggu ini tercatat sebagai: “menyeret sepeda sejauh ini.” Prestasi yang… ya, sudahlah.
Sampai di area parkir sepeda, aku mengikat sepedaku pada kaitan besi yang disediakan pengelola. Gerakanku otomatis, seperti ritual yang sudah kulakukan ratusan kali. Setelah memastikan kunci terkunci sempurna, aku masuk ke dalam gedung.
Saat melewati tangga menuju lobi lantai atas, mataku sempat menangkap deretan kotak surat di samping pintu. Kotak nomor unitku tampak ada sesuatu di dalamnya—surat, mungkin brosur iklan, atau tagihan yang menyamar jadi amplop ramah. Tapi aku tidak tertarik. Tidak hari ini.
Hari ini, aku hanya ingin menonton film dan membiarkan otakku istirahat dari drama apa pun—termasuk drama sepeda dan drama bersosialisasi.
Aku mulai menaiki tangga menuju unitku.
Langkahku pelan, malas, tapi stabil. Minggu pagi ini cukup sudah.
Aku hanya ingin pulang, mandi, rebahan, lalu menghilang sementara dari dunia.
Aku larut dalam film anime Kimetsu no Yaiba: Mugen Train. Entah sudah berapa kali aku menontonnya, tapi setiap kali Rengoku—si Hashira Api—mati di tangan iblis Akaza, rasanya tetap sama: sesak, tercekat, seperti pukulan yang selalu tepat mengenai tempat yang sama.
Tidak pernah lebih ringan. Tidak pernah lebih mudah.
Aku menunggu adegan setelahnya, di mana Tanjiro meneriakkan kata-kata terakhir penuh luka. Setiap kali kulihat, aku selalu berharap suatu hari Tanjiro bisa membalaskan dendam itu. Ada rasa keadilan yang terasa sangat pribadi… entah kenapa.
Tiba-tiba muncul ide konyol tapi menyenangkan: membeli satu set action figure Demon Slayer. Memajangnya di rak, seperti bentuk penghormatan kecil untuk karakter-karakter yang sudah terlalu dalam menancap di kepalaku.
Aku mengambil ponsel, membuka marketplace, dan mulai mencari.
Harga satu figur: seratus tiga puluh lima ribu.
Masalahnya, karakter favoritku lebih dari selusin.
Aku hitung cepat—dompetku seperti ikut mengeluh lebih dulu.
Kalau aku beli semuanya, Feby pasti marah.
Refleks pikiranku ke sana, seolah reaksinya masih sesuatu yang harus kupertimbangkan.
Tapi… kenapa dia masih harus terlibat?
Dia sudah bukan siapa-siapa lagi.
Meski begitu, ada kenyataan yang lebih jujur, lebih pahit:
Aku mungkin rela membayar lebih mahal dari harga satu action figure itu…
Hanya untuk melihat ekspresinya saat marah.
Bukan marah yang benar-benar ingin kusulut—lebih seperti…
ingin memastikan bahwa ada sesuatu di hati itu yang masih bergerak saat menyangkutku.
Bahwa aku masih… ada.
Walau hanya sebagai gangguan kecil yang membuatnya memelototiku sebentar.
Aneh, ya.
Kadang yang kita rindukan bukan orangnya… tapi cara orang itu bereaksi pada kita.
Aku melempar ponsel ke sofa di sampingku. Frustrasi tanpa arah.
Wajahku kubenamkan ke bantal, lalu bantal itu kulempar begitu saja ke lantai. Mataku menatap langit-langit, mencoba mengosongkan kepala.
Dan tiba-tiba, ruangan terasa… terlalu sunyi.
Aku mematikan televisi.
Hening langsung menyergap, begitu pekat sampai suara detik jam dinding terdengar seperti tarikan napas panjang yang tak sabar.
Aku bangkit, berniat ke dapur, tapi baru melangkah beberapa langkah, sudut mataku menangkap sesuatu—selembar kertas putih yang menyelip dari bawah pintu. Sesuatu yang baru saja diselipkankan di sana.
Refleks, aku berlari.
Kutarik pintu dengan kasar, berharap bisa melihat punggung seseorang, langkah kaki yang tertunda, apa saja.
Tapi lorong apartemen berdiri sunyi.
Kosong.
Hanya lampu-lampu kuning yang temaram dan karpet panjang yang seolah menyerap setiap suara.
Tidak mungkin orang itu bisa menghilang secepat ini.
Bahkan lift pun butuh beberapa detik untuk menutup pintu.
Aku berdiri di ambang pintu, napasku naik turun. Ada dorongan untuk berteriak, “Hei! Siapa pun kamu!”—tapi yang keluar hanya diam.
Perlahan, kututup pintu kembali.
Surat itu tergeletak begitu saja di lantai, seperti benda biasa dengan aura yang tidak biasa.
Kertasnya putih gading. Rapi. Bersih.
Namaku tertulis di bagian depan amplop—tulisan seperti ditata dengan sengaja, terlalu halus untuk disebut tulisan tergesa-gesa.
Aku membungkuk, mengambilnya.
Tanpa memikirkannya, aku melemparkan amplop itu ke atas meja.
Aku tidak siap.
Belum siap.
Tapi keheningan yang tersisa membuat benda itu seperti terus memanggil namaku.
Langkahku kembali menuju dapur. Aku ingin melanjutkan niat semula—membuat secangkir kopi, sesuatu yang sederhana dan menenangkan. Tapi sebelum air sempat kutuangkan ke cangkir, mataku kembali terpaku pada surat itu di meja.
Aku diam.
Lama.
Apakah aku masih harus peduli?
Pertanyaan itu menggantung di kepala seperti asap yang tidak mau hilang.
Andai saja aku bisa merobek surat itu begitu saja, melemparkannya ke tong sampah, dan selesai. Mungkin semuanya akan lebih ringan. Mungkin aku bisa kembali ke hidup yang… yah, tidak bahagia, tapi setidaknya stabil.
Tapi—bagaimana jika isinya tentang Feby?
Bagaimana jika dia meminta pertolongan?
Dan aku memilih untuk tidak peduli?
Rasa bersalah itu bisa menghantuiku seumur hidup.
Aku kembali duduk di sofa, memandangi amplop itu dari kejauhan seolah benda itu bisa bicara.
Jariku akhirnya meraih permukaannya—tipis, halus, dingin.
Detak jantungku sedikit naik.
Aku menimbang dalam hati:
Harus kubuka… atau tidak?
Kalau kubuka, mungkin ada petunjuk tentang keberadaan Feby.
Tapi setelah itu? Apa yang bisa kulakukan? Menatapnya dari kejauhan seperti orang bodoh yang tidak pernah berani apa pun?
“Mending nggak usah,” gumamku pelan.
Suara yang terdengar seperti orang yang tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
Namun rasa ingin tahuku berteriak lebih keras daripada logikaku.
Setidaknya… kalau kubuka, aku tidak akan penasaran lagi.
Dengan satu gerakan cepat, seolah takut menunda, aku merobek amplop itu.
Kertas putih di dalamnya jatuh ke pangkuanku.
Pelan, aku mengambilnya—dan menatapnya.
Kosong.
Lembaran putih tanpa satu pun huruf.
Tanpa pesan.
Hanya… hampa.
Aku mengangkat amplop itu, memeriksanya sekali lagi. Hanya satu lembar kertas putih polos.
Apa maksudnya?
Kalau memang bukan apa-apa... ya sudah.
Dengan geram dan kecewa yang entah untuk siapa, aku melemparkan surat itu ke atas meja.
Lalu, aku menyalakan TV.
Cahaya dari layar kembali menyapu ruangan.
Anime itu berputar lagi—dunia yang tidak menuntutku untuk mengerti, hanya untuk larut.
Dan aku pun tenggelam kembali ke dalamnya, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Aku merasa tiba-tiba bosan dengan anime-anime itu. Rasanya semua warna, suara, dan intensitasnya mendadak terlalu ramai. Aku membuka layanan streaming dengan logo huruf N berwarna merah. Di daftar wishlist, aku menemukan Ghost Rider—film lama yang tiba-tiba terasa pas untuk suasana hatiku.
“Ya sudah,” gumamku. “Kita tonton ini saja.”
Film dimulai. Adegan-adegan awal mengantar ke momen itu—Roxanne dan Johnny Blaze muda, dua remaja yang ingin lari dari hidup yang tidak pernah memberi mereka pilihan. Roxanne berdiri di bawah hujan, menunggu. Basah, tapi penuh harapan.
Dan Johnny akhirnya datang.
Tapi bukan untuk menjemputnya.
Ia menatap Roxanne lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu memutar gas, melaju tanpa sepatah kata pun, meninggalkannya sendirian—mengorbankan cinta demi karier penuh risiko yang bahkan belum pasti.
Aku diam.
Tangan yang sejak tadi memegang remote kini menggenggam lebih kuat, seperti refleks mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tak bisa dipertahankan.
Kalimat yang diucapkan Roxanne—atau mungkin hanya ekspresi wajahnya—membelah pikiranku seperti pisau yang tajam tapi lambat.
Terlalu akrab.
Terlalu dekat dengan sesuatu yang ingin kulupakan.
Tanpa berpikir, aku mematikan TV.
Layar padam, kembali gelap.
Dan dalam gelap itu, hanya suaraku sendiri yang tersisa—berdengung samar di dalam kepala.
Feby.
Namanya melintas begitu saja, dan wajahnya langsung menyusul—jelas, dekat, seolah ia duduk di sampingku sekarang. Begitu nyata sampai aku nyaris menoleh.
Dulu, dia sering mengucapkan kalimat semacam itu.
“Kalau kamu telat lagi, aku tinggal ya.
Nggak semua hal bisa kamu tunda, Gilang.”
Nada suaranya menantang, tapi sudut bibirnya tetap menyimpan senyum kecil—senyum yang selalu membuatnya terdengar seperti menggoda, bukan memarahi.
Hari itu… hujan juga turun.
Kami berteduh di halte kecil yang sepi. Atapnya bocor di beberapa bagian, membuat air menetes di dekat kaki kami. Feby sudah basah kuyup karena aku datang terlambat. Tasnya yang ditaruh di pangkuan ia peluk erat, seolah itu satu-satunya yang masih kering.
Dia terus bicara—tentang pilihan hidup, tentang mimpi, tentang hal-hal yang tidak boleh ditunda. Kata-katanya mengalir deras seperti hujan di luar sana.
Sementara aku… hanya diam. Mendengarkan. Merasa semakin kecil setiap detiknya.
“Aku tuh kadang takut sama kamu, Feb,” kataku waktu itu.
Suaraku kalah jauh dari suara hujan yang menghantam tanah.
Dia menoleh cepat.
“Takut kenapa?”
“Karena kamu selalu kelihatan tahu harus ke mana…”
Aku menarik napas, menatap ujung sepatu.
“…dan aku masih di tempat yang sama.”
Feby tersenyum kecil. Bukan senyum meremehkan—lebih seperti senyum seseorang yang memahami sesuatu yang belum berani kuakui.
Hujan turun makin deras, tapi justru membuat momen itu semakin melekat.
Membuatnya terasa seperti sesuatu yang tidak benar-benar hilang…
meski seharusnya sudah.
Dia hanya tertawa pelan, lalu mengelus lenganku yang dingin.
“Kamu juga tahu ke mana, Gilang. Kamu cuma belum berani jalan aja.”
Kilas balik itu menghantamku seperti gelombang.
Kamu sangat bersabar padaku Feb.
Apa aku masih orang yang sama—yang lebih memilih bersembunyi daripada menghadapi?
Aku tatap lagi meja tempat surat kosong itu tergeletak.
Kosong bukan berarti tak bermakna. Bisa jadi... justru itu pesannya.
Kertas kosong itu bisa jadi awal, atau justru akhir.
Aku terdiam menatapnya.
Lusa, dia menikah.
Mungkin sebaiknya aku tidak usah menemui dia. Kalau dia memang ingin bertemu, dia tahu di mana aku tinggal. Dia tahu nomor ponselku. Dia tahu teman-temanku.
Pikiranku kembali ke si pengirim surat. Setelah dicermati satu per satu, hanya ada satu orang yang tahu betul hubungan aku dan Feby dan layak untuk dicurigai.
Feby sendiri.
Dia tahu bagaimana aku menulis. Dia bahkan bisa meniru tanda tanganku.
Aku tercekat.
Kalau memang dia yang mengirimnya... untuk apa?
Apa alasan dia melakukan ini?
Hujan mengguyur apartemenku sejak siang.
Aku duduk bersandar di sofa, membiarkan suara rintiknya menyatu dengan suara tetes air di wastafel stainless, dengan sangat jelas. Entah sudah berapa judul film yang kutonton hari ini. Tanpa benar-benar menyimak, aku hanya ingin waktu lewat lebih cepat.
Tanpa terasa, senja telah berganti menjadi gelap. Maghrib.
Aku benar-benar membunuh waktuku hari ini.
Aku berdiri pelan, melangkah ke jendela, menatap keluar. Lampu-lampu mulai menyala, membias di kaca yang basah.
Feby berhak mendapatkan kebahagiaannya.
Lepas dariku... mungkin itu caranya untuk menemukannya.
Aku buta.
Aku tidak bisa melihat lukisan indah yang kau coba bentangkan, Feb.
Kamu sudah siap berkorban demi “kita”, sementara aku…
Aku terlalu takut.
Ketakutan itu sangat nyata buatku—menyergap di malam hari, berbisik di jam-jam sepi, menahan langkahku untuk maju.
Dan sekarang, kamu memilih jalanmu sendiri.
Mungkin itu satu-satunya jalan yang bisa membuatmu bebas… Dengan tidak melibatkanku.
Dalam sujudku, aku mendoakanmu.
Aku selipkan namamu di antara doa-doa yang kupanjatkan dalam diam.
Aku tahu, aku harus bahagia… melihatmu bahagia.
Meski bukan denganku.
Lamunanku hancur seketika ketika suara ketukan terdengar dari pintu. Pelan, tapi berulang—seperti seseorang yang tidak sanggup menunggu.
Tok… tok… tok.
Aku mengangkat kepala, bingung. Tidak ada yang bilang mau datang. Tidak ada pesan. Tidak ada apa pun. Mungkin tetangga? Mungkin paket? Atau… entahlah.
Ketukan itu kembali, kali ini sedikit lebih keras, seperti memanggil namaku dari balik kayu.
Dengan langkah berat, aku bangkit. Ada rasa enggan, ada rasa takut, ada rasa—aku bahkan tidak tahu rasa apa lagi.
Kuputar gagang pintu. Kubuka sedikit. Dan…
Feby.
Dia berdiri tepat di depan ambang pintu. Rambutnya basah, meneteskan air ke pipinya. Jaket jeans dan tasnya pun kuyup, seperti ia menembus hujan tanpa berpikir panjang.
Matanya… merah. Bukan sekadar sembab. Merah karena marah, kecewa, dan lelah ditahan terlalu lama.
Ia menatapku tajam, namun tatapan itu rapuh, seperti kaca yang siap pecah.
Suara keluar dari mulutnya seperti ledakan kecil yang ia tahan-tahan di tenggorokan.
“Apa maksud kamu, Gilang?!”
Aku membeku.
Tidak tahu harus menarik napas atau meminta maaf duluan. Tidak mengerti apa yang terjadi. Tidak mengerti dari mana semua ini datang.
Feby menggigit bibirnya, menahan gemetar. Suaranya pecah, bukan hanya karena hujan, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Kamu… kamu mencoba mempermainkan aku?”
Ada jeda. Sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar.
Dadaku terasa kosong. Kata-kata menolak keluar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku sadar: sesuatu telah pecah—dan mungkin sudah pecah sejak lama—aku saja yang terlalu buta untuk melihatnya.
Tiba-tiba ia memukul dadaku dengan telapak tangannya—sekali, dua kali. Pukulan seprti meluapkan rasa kesalnya, pukulan seseorang yang sudah kehabisan tempat untuk menaruh sakitnya.
Dan kemudian… ia menangis. Isaknya pecah begitu saja, mengguncang sesuatu di dalam diriku yang selama ini kubiarkan membeku.
Aku tertegun. Tanganku menggantung di udara, tidak tahu harus menyentuh atau tetap diam. Napasku kacau. Kepalaku penuh suara, tapi tak satu pun menjadi kata.
Perlahan, akhirnya aku meraih lengannya.
“Masuk dulu, Feb…” bisikku, lebih seperti permohonan daripada ajakan.
Aku takut suara tangisnya terdengar tetangga.
Tapi yang lebih menakutkan—jauh lebih menakutkan—adalah membiarkan dia pergi lagi sebelum aku sempat memperbaiki apa pun.
Ia menunduk, bahunya masih berguncang, dan aku menuntunnya masuk.
Kududukkan Feby di sofa, tubuhnya masih basah dan gemetar.
Tanpa banyak bicara, aku langsung menuju kamar.
Tidak berjalan—hampir berlari.
Seolah setiap detik aku jauh darinya, sesuatu bisa patah lagi.
Aku mengambil handuk kering pertama yang kulihat, kembali ke ruang tamu, dan perlahan menyodorkannya padanya.
“Feb…” suaraku nyaris tak terdengar,
“ada apa?”
Ia tidak langsung menjawab.
Tapi aku bisa melihat jemarinya yang gemetar saat menerima handuk itu—dan dari situ saja aku tahu, jawaban yang akan keluar nanti… bukan jawaban ringan.
Ia menatapku tajam. Bukan tatapan orang marah—lebih tepatnya tatapan seseorang yang sudah siap marah, tapi belum menemukan sasaran yang tepat. Seolah ia ingin menuduh dunia, tapi dunia terlalu luas, jadi akhirnya hanya aku yang tersisa di depannya.
“Kamu marah sama aku?”
Suaranya pelan.
Aku tidak langsung menjawab.
Aku hanya berluu di hadapannya, membiarkan ruang di antara kami dipenuhi oleh napasnya yang tersengal, oleh detik jam yang terasa semakin keras.
Matanya masih basah. Butiran air yang belum jatuh, tertahan diri di ujung matanya.
“Feb… aku nggak ngerti,” ucapku akhirnya, pelan, mencoba menjaga nada tetap lembut. “Tiba-tiba kamu berteriak padaku. Aku bahkan nggak ngerti kenapa kamu ada di sini sekarang?”
Dia tidak menanggapi kalimatku.
Sebaliknya, perlahan ia membuka tasnya—gerakannya kaku, terdorong oleh sesuatu yang menekan dari dalam.
Dari dalam tas itu ia keluarkan beberapa lembar kertas yang terlipat rapi.
Lalu… sebuah amplop putih gading.
Amplop yang sama.
Amplop yang beberapa jam lalu kutemukan di bawah pintu.
Amplop yang… selama ini menarikku untuk menemuimu.
“Kamu yang nulis ini, kan?”
Nada suaranya seperti tuduhan yang sudah lama ia simpan, lalu akhirnya meledak pelan.
Amplop itu ia dorong ke atas meja.
Aku terkejut—bukan sekadar kaget.
Ini… tidak masuk akal.
“Aku nggak nulis itu,” jawabku otomatis, hampir seperti refleks.
Tapi kata-kata itu bahkan tidak sempat melewati bibirku ketika aku menyadari sesuatu:
Amplop yang ia bawa… tidak sama seperti punyaku.
Yang ini… ada tulisannya.
Tulisan tangan.
Tulisan yang aku kenal.
Tulisan… miliknya sendiri.
Dan seketika, seluruh tubuhku terasa dingin.
Kamu juga menerima surat ini?
Aku memberi isyarat agar ia menunggu, lalu berbalik.
Kutarik tasku dari pojok ruangan, membuka resletingnya dengan cepat.
Surat-surat serupa, dengan amplop putih gading yang sama, kutarik keluar.
"Apa ini?" tanya Feby. Suaranya mulai melemah.
"Aku juga berharap kamu yang bisa menjelaskan," jawabku.
Wajahnya berubah. Tak tegang seperti tadi.
Kini justru tampak bingung… bahkan linglung.
"Kamu juga menerima surat kayak gini?"
"Iya."
Kami terdiam.
Mencoba menyambung titik-titik aneh yang belum menemukan garis.
"Apa maksud semua ini, Lang?" ucapnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Aku duduk di sampingnya—perlahan, seolah sofa itu bisa retak kalau aku terlalu cepat bergerak.
Surat-surat yang ia sodorkan menatapku balik seperti mata-mata kecil yang tahu rahasia kami lebih baik dari kami sendiri.
Aku ambil satu. Lalu satu lagi.
Kubaca pelan.
Senyum tipis tergores… bukan karena lucu—tapi pahit.
Senyum yang muncul saat kau menyadari seseorang di luar sana sedang menarik garis-garis yang bahkan aku tak pernah punya keberanian untuk menggambar.
“Kamu datang ke food court itu… karena kamu pikir aku yang menyuruh?” tanyaku pelan, hampir seperti memohon jawaban.
“Juga ke toko musik itu?”
Feby tidak langsung menjawab.
Ia mengambil salah satu surat yang kuterima, membacanya sebentar. Nafasnya naik turun—tidak stabil.
“Kalau begitu…” suaranya hampir pecah, “kenapa kamu nggak datang, Lang?”
Aku menunduk.
Menatap surat-surat itu, yang kini terasa seperti potongan masa lalu yang dipaksa bangkit dari kubur.
“Aku datang, Feb.”
Kata-kata itu keluar pelan, patah, seperti baru belajar berdiri.
“Aku ke food court itu. Aku ke toko musik itu juga.”
Ia menatapku cepat—terkejut, lalu bingung, lalu ada sesuatu di sana… sesuatu yang membuat dadaku sesak.
"terus, kenapa kamu tidak menemuiku?"
"Aku....."Aku menunduk erdiam, "aku idak berani feb"
Aku menelan ludah, dadaku seperti bergetar dari dalam.
“Lusa kamu menikah.”
Wajahnya menegang. Entah karena marah atau sedih—atau dua-duanya.
“Sekarang kamu pikir, Feb…”
Aku mengangkat wajah, menatapnya meski itu menyakitkan.
“Kalau aku berada di posisi calon suami kamu… nggak fair, Feb. Kalau kita masih ketemu.”
Hening.
Hening yang seperti palu godam di dalam ruangan kecil.
“Kalau aku bicara sama kamu waktu itu…” aku menarik napas, “aku cuma bakal merusak apa yang lagi kamu bangun.”
Aku tersenyum hambar, hampir seperti menyerah pada sesuatu yang tak terlihat.
“Bahkan sekarang pun, kamu berada di sini… itu sudah salah.”
Feby terdiam.
Tangannya—Ya Tuhan, tangannya itu—memainkan ujung surat.
Kebiasaan lamanya.
Bolpen, tali rambut, tisu, apa pun yang ia pegang—kalau ia gelisah, ia akan memainkannya.
Dan sekarang, yang ia putar-putar adalah surat itu.
Surat yang mungkin tak berarti, tapi membongkar begitu banyak hal di antara kami.
Aku menatap jemarinya.
Lalu menatap wajahnya.
Ya Tuhan, Feb.
Aku masih sangat mengenalmu.
Dan menyadari itu…
menamparku lebih keras dari apa pun yang pernah ia katakan.
Aku pegang tangannya. Menenangkan jemari yang terus bergerak.
Ia menatapku, lalu berkata:
"Aku pikir... dengan surat-surat ini, kamu sedang mencoba meraihku lagi, Lang. Setelah aku tinggalkan kamu waktu itu... kamu nggak pernah hubungi aku lagi. Kamu menghilang. Seolah aku nggak pernah ada." Ia menarik napas. "Saat aku jatuh, ada seseorang yang mengangkat aku. Ada seseorang yang hapus air mataku… dan itu bukan kamu."
Aku terdiam.
Seharusnya aku yang melakukan itu.
Seharusnya aku yang mengulurkan tangan lebih dulu…
Bukan menjauh.
Aku tak berani menatapnya.
"Feby..."
Suaraku lirih.
"Setelah kamu ninggalin aku waktu itu… Aku menyadari sesuatu, aku nggak bisa paksa diriku buat masuk ke dalam mimpi kamu. Aku cuma akan menghancurkannya."
Aku tarik napas panjang.
"Aku tahu kamu dulu berusaha sabar untuk aku… Tapi aku malah menggusur kamu, memaksa kamu buat terus ngerti aku. Sekarang kamu sudah menemukan seseorang yang bisa bantu kamu bangun mimpi. Seseorang yang bisa memberimu bahu waktu kamu jatuh. Seseorang yang kamu impikan." Aku diam sebentar. "Dan aku berusaha untuk mengerti kenyataan itu."
Aku berdiri.
Tidak segera bicara.
Ada jeda panjang yang terasa seperti retakan terakhir sebelum sebuah gelas benar-benar pecah.
Aku melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.
Udara dari koridor menyelinap masuk, dingin, seperti mengingatkan bahwa keputusan ini tak bisa lagi ditarik kembali.
“Feb…”
Suaraku nyaris bergetar, tapi aku paksa tetap stabil.
“Mendingan sekarang kamu pulang. Persiapkan pernikahan kamu.”
Feby berdiri.
Langkahnya pelan, seolah tiap langkah adalah keputusan yang ingin ia tunda.
Dan sesampainya di ambang pintu, ia berhenti.
“Ini tandanya… kamu melepas aku?” tanyanya lirih.
Ada ketakutan di matanya.
Seolah ia berharap jawabannya tidak seperti yang sudah ia tahu.
Aku menatapnya.
Tajam, tapi juga rapuh.
“Feb… kamu sudah melepas aku lebih dulu.”
Suaraku melembut, menukik ke dalam.
“Sekarang kamu bahagia… dan aku nggak punya alasan untuk minta kamu tetap di sini. Kamu nggak perlu khawatir tentang aku. Aku bisa bahagia… walau cuma menempatkan ‘kita’ sebagai fragmen kecil di hidup kita.”
Bibirnya bergerak pelan.
Matanya menipis, seperti menahan senyum yang tidak tahu harus muncul atau tidak.
Ada sesuatu yang menggantung di wajahnya—antara getir, lega, dan usil yang dulu selalu membuatku kalah.
Tatapannya berubah manja.
“Owwh… kamu dewasa sekali sekarang,” ujarnya setengah menggoda, setengah menantang.
Aku tertawa kecil, ringan tapi tetap terasa ada retakan di ujungnya.
“Dan tampang kamu… kayak si Puss di Puss in Boots,” ucapku sambil menunjuk wajahnya.
Feby langsung tertawa..... itu… ya Tuhan, sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.
Tawa yang jujur. Tawa yang tidak dibuat-buat.
Tawa yang dulu bisa meruntuhkan seluruh tembok yang kubangun.
Lalu, tiba-tiba, tanpa aba-aba, tangannya menggenggam tanganku.
Erat.
Seakan ada sesuatu yang masih ingin ia jaga… atau yang belum siap ia lepaskan.
“Gilang…” suaranya menurun, hampir berbisik.
“Kamu akan baik-baik saja, kan?”
Aku tersenyum.
Kecil.
Sebentuk ketegaran palsu yang kupoles sebaik mungkin.
“Yah… mungkin setelah kamu pergi dari sini, aku bakal duduk di pojokan itu…”
Aku menunjuk sudut ruangan.
“…nangis, terus ngebenturin kepala ke tembok sambil bilang,
‘Aku bodoh… aku bodoh…’”
Feby tertawa keras kali ini—tawa lega, tawa seseorang yang baru saja diselamatkan dari kepanikan yang hampir tenggelam.
Tawanya membuat dadaku ikut menghangat…
dan sekaligus meremuk.
Ia mulai berjalan menjauh.
Langkahnya mantap, tapi pundaknya sempat bergetar kecil—entah menahan tawa… atau sesuatu lainnya.
Sampai di ujung lorong, ia berhenti.
Memutar badan.
Menatapku.
Tatapan yang seperti ingin mengunyah seluruh kenangan kami dan menyimpannya sekali lagi, sebelum benar-benar melangkah ke hidup baru.
“Lusa… kamu akan datang, kan, Lang?”
Ada jeda sesaat sebelum aku menjawab.
Bukan karena ragu.
Tapi karena aku butuh memastikan suaraku tidak pecah.
Aku mengangguk.
“Pasti. Aku nggak akan melewatkannya.”
Feby tersenyum.
Senyum itu…
Senyum terakhir sebelum ia benar-benar menjadi milik orang lain.
Lalu ia melangkah menuruni tangga.
Langkah yang menurun, menurun… dan akhirnya hilang.
Dan lorong itu kembali sunyi—meninggalkan jejak tawa, gemetar jari, dan wangi hujan yang tadi menempel di jaketnya.
Aku masuk ke dalam.
Kupandangi lagi amplop-amplop dan surat-surat itu.
Aku sudah tidak perduli lagi, siapa yang mengirim surat itu,
Mungkin aku dari masa depan yang mengirimi surat.
Membimbingku untuk mengerti. Melepas seseorang yang mencintaimu bukan berarti menyerah pada cinta—kadang itu adalah bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri, ketika kita memilih untuk tidak terus terluka dan melukai seseorang yang kita sayang dan tak bisa kita genggam selamanya.
Kuambil semua suratnya, kumasukkan ke tempat sampah.
Lalu aku berbisik pada diriku sendiri:
"Kamu benar, Feb.
Aku mencintai diriku…
Melihat kamu bahagia, itu bukti aku mencintai diriku."