Namaku Budi, dan profesiku secara teknis adalah agen properti. Namun, secara praktik, aku lebih mirip pengurus panti asuhan untuk entitas-entitas yang kehilangan tempat tinggal karena gusuran proyek infrastruktur gaib. Hari ini adalah hari yang panjang. Matahari sudah mulai terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta, dan aku masih terjebak di depan unit 404, sebuah apartemen yang tidak pernah muncul di denah resmi gedung Apartemen Melati.
"Pak Joko, saya tekankan sekali lagi," kataku sambil menyeka keringat dingin di dahi dengan tisu yang untungnya tidak ikut menghilang saat menyentuh dinding, "Unit ini memiliki spesifikasi unik. Ventilasi udaranya bukan hanya untuk sirkulasi oksigen, tapi juga untuk jalur migrasi arwah penasaran yang ingin mencari tempat berteduh. Jadi, kalau tiba-tiba ada hembusan angin sedingin es di tengah hari, jangan panik. Itu hanya tetangga sedang numpang lewat."
Pak Joko, seorang pria paruh baya yang tampaknya sudah kebal dengan realitas yang tidak masuk akal, mengangguk santai. Dia sedang sibuk m...