Aroma arabika yang kuat berkelindan dengan udara dingin dari mesin pendingin ruangan kafe. Di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya, Rizal duduk menopang dagu. Di depannya, dua cangkir kopi pesanan mereka baru saja diantarkan oleh seorang pramusaji muda sekitar lima menit yang lalu. Pramusaji itu tersenyum ramah, tipe senyum standar industri pelayanan yang terlatih untuk tampak tulus, lalu meletakkan dua cangkir itu dengan denting porselen yang halus di atas meja kayu ek yang telah dipelitur rapi.
Satunya adalah caffè latte dengan hiasan latte art berbentuk hati yang mulai sedikit mengabur di permukaannya akibat perbedaan suhu ruangan. Uap hangatnya masih mengepul tipis, membentuk pusaran-pusaran kecil yang tidak kasatmata sebelum hilang diserap udara. Itu adalah minuman kesukaan Arini. Arini selalu menyukai hal-hal yang manis, atau setidaknya hal-hal pahit yang berhasil disamarkan oleh kelembutan susu dan pekatnya sirup vanila. Satunya lagi adalah americano hitam pekat tanpa gula milik Rizal. Kopi hitam itu sengaja dibiarkan, perlahan-lahan kehilangan suhunya, diabaikan oleh pemiliknya yang pandangannya tertuju lurus pada pintu toilet di ujung ruangan, melewati lorong remang-remang yang dihiasi lukisan-lukisan abstrak bermotif monokrom.
"Aku ke toilet sebentar, ya. Tolong pesankan seperti biasa," kalimat terakhir Arini sepuluh menit lalu masih terngiang di telinga Rizal, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak.
Nada suara Arini saat mengatakannya terasa sangat datar. Tidak ada senyuman manis yang biasanya selalu menghiasi wajahnya setiap kali mereka bertemu ...