THE MARIONETTE AND HER FAIRYTALE

London, 1953

Dongeng adalah prolog yang akan mengawali kisah indah dalam mimpinya. Dan malam ini, tak ada seorangpun yang akan membacakan dongeng untuk Hellen Silverlake.

Dad leaving me alone. He lied to me. I hate him.

Sore itu Hellen tertidur di pelukan sang ayah. Namun ketika terbangun, sang ayah sudah tidak ada di sampingnya. Secarik pesan di atas bantal mengatakan bahwa sang ayah harus pergi ke Nottingham untuk keperluan bisnis dan mungkin tidak akan pulang selama beberapa hari kedepan. Hellen duduk memeluk lutut. Wajah sendunya terpaku pada sebuah jendela tinggi di samping tempat tidur, di mana gorden merah terurai dan menyajikan sebuah panggung opera malam dengan bulan purnama sebagai biduan yang kesepian.

That’s beauty voice over there Mrs.Moon, but why you always sing a sad one?

Menghela nafas, Hellen mengalihkan perhatiannya pada sebuah boneka marionette yang tersimpan di sudut tempat tidurnya. Cahaya api lilin membuat warna boneka cantik itu seperti senja di kegelapan.

Alicia?

You’re smiling.

Hellen beranjak dari tempat tidur menuju sebuah rak buku yang mempunyai tinggi dua kali lipat dari tubuhnya. Dalam sebuah deretan rak ia menemukan Arabian Night, Robinson Crusoe, Pinnochio, Gulliver’s Travels, Oliver Twist, A Christmas Carol, dan lain-lain. Dan di antara semua buku itu, ia menarik Alice in Wonderland - kisah favoritnya, dari deretan rak.

Hellen memeluk buku itu di dadanya dan pergi menuju pintu kamar. Ketika membuka pintu, ia terdiam sejenak. Walau wajahnya tak memperlihatkan ekspresi apapun, namun pupil matanya membesar. Koridor di depannya tampak begitu gelap. Tak ada jendela sehingga cahaya bulan tak dapat mengusik kegelapan hening tersebut. Saklar lampu berada di ujung koridor, Hellen terus meraba dinding hingga akhirnya ia sampai ke tempat tujuannya ; kamar Jenny yang berada di tengah koridor.

Jenny’s not my mother, but dad said I must call her mom.

Tok.. tok.. tok..

“...Mom?”

Tak ada jawaban.

Tok.. tok.. tok..

Hellen terus mengetuk pintu hingga sebuah helaan nafas dan decak kesal terdengar dari balik pintu.

“WHAT?!”

Hellen menarik nafas, “Can you please read me a story?”

“%#*@ JUST GO TO SLEEP!! I’M TIRED!!”

“Mom?”

“DON’T CALL ME MOM IF YOUR %#$@* DAD IS AWAY!!”

Hellen terdiam kaget, ia pun berbalik menuju kamarnya dengan langkah sedih.

Pintu kamar tertutup. Lalu terdengar suara ribut dari jalanan di luar pagar rumah. Hellen melongok keluar jendela namun tak melihat apapun.

I hate them all. I hate people.

Hellen mematikan lampu, kembali ke ranjangnya dan berusaha untuk menutup mata. Pura-pura tertidur hingga tanpa disadari air mata mengalir dari ujung matanya.

I want to met you mom...

Lalu terdengar sebuah suara yang aneh dan menganggu.

Voor Vrincess. Can i vell you a story? Avout a girl who avout to die vecause novody love her anymore.

Hellen segera terbangun.

“Who’s there?”

Ve.

Hellen mendapati sesosok boneka marionette cantik yang mulutnya terjahit tengah berdiri di beranda kecil jendela yang pintunya terbuka lebar, boneka itu memperagakan sebuah gestur elegan yang mempersilahkan agar Hellen melompat dari jendela, sang bulan terlihat merah kala itu dan kamar Hellen berada di lantai empat.

5 disukai 4 komentar 3.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Akhirnya yang membacakan dongeng untuk Hellen adalah sesosok marionette iblis!
Makasih semua, iya keliatannya panjang tapi gak lebih 500 kata ko', hehe :D
Mantap. Ini agak panjang ya 😄
Bagus lho ...
Saran Flash Fiction