Rendra pertama kali mengenal Naya saat duduk di bangku SMP. Hari itu langit mendung pekat dan hujan turun sangat deras tanpa peringatan. Semua murid berlarian tunggang-langgang mencari tempat berteduh di koridor sekolah yang sempit. Di antara keriuhan itu, Naya berdiri mematung di depan pintu kelas sambil memeluk erat buku-buku pelajarannya. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang kentara karena ia lupa membawa payung untuk pulang.
"Pakailah punyaku," kata Rendra gugup, menyodorkan payung lipat berwarna biru miliknya.
Naya menoleh, sedikit terkejut. "Lalu kamu bagaimana?"
"Aku suka hujan," jawab Rendra cepat sambil tersenyum lebar.
Padahal, Rendra adalah tipe orang yang paling benci kehujanan karena fisiknya mudah terserang flu. Namun, demi melihat senyum lega di wajah Naya saat menerima payung itu, rasa dingin seolah menguap begitu saja. Sejak hari itu, sebuah perasaan baru mulai tumbuh diam-diam di lubuk hati Rendra, mengakar kuat seiring berjalannya waktu.
Takdir membawa mereka masuk ke SMA yang sama, membuat kedekatan itu terjalin semakin erat. Selama tiga tahun di sekolah menengah, Rendra selalu berhasil menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Naya tepat pada tengah malam. Ia juga selalu menjadi teman belajar yang setia menjelang ujian akhir. Rendra menjelma sebagai sosok pelindung dan penenang; orang yang selalu ada dan siap menemani Naya ketika nilai matematikanya anjlok, ketika gadis itu sedang bertengkar hebat dengan orang tuanya, atau bahkan ketika Naya patah hati karena menangisi laki-laki lain yang jelas-jelas bukan dirinya.
Mereka sering menghabiskan akhir pekan dengan menonton film bersama di bioskop tua tengah kota. Mereka akan tertawa lepas saat menonton film komedi konyol, dan tak jarang ikut menangis sesenggukan saat adegan film romantis berakhir dengan perpisahan yang tragis. Kedekatan mereka yang tanpa jarak membuat teman-teman seangkatan mengira mereka sudah resmi berpacaran.
Setiap kali godaan itu terdengar, Naya hanya akan tertawa renyah sambil mengibaskan tangannya santai. "Ah, kalian ini ada-ada saja. Rendra itu sahabat terbaikku sejak SMP," bantahnya tanpa beban.
Kalimat itu selalu terdengar begitu ringan dan tulus keluar dari bibir Naya. Namun bagi Rendra, setiap kali kata "sahabat" itu terucap, ada sesuatu yang tak kasatmata pelan-pelan retak dan hancur di dalam dadanya.
Dunia perkuliahan pun mempertemukan mereka lagi di kampus yang sama, meski mengambil jurusan yang berbeda. Empat tahun berikutnya diisi oleh tumpukan kenangan yang kian memperkaya lembar kehidupan mereka. Ada malam-malam panjang di mana mereka terbiasa makan mi instan tengah malam di emperan toko ketika jenuh mengerjakan tugas akhir yang menumpuk. Ada pula momen-momen spontan naik motor tanpa tujuan jelas menyusuri jalanan kota setelah pekan ujian yang melelahkan selesai dilaksanakan. Mereka saling berbagi mimpi, tawa, dan harapan tentang masa depan masing-masing.
Rendra sebenarnya berkali-kali sudah membulatkan tekad untuk menyatakan isi hatinya yang sesungguhnya. Ia ingin menyudahi sandiwara persahabatan ini. Namun, setiap kali ia menatap mata Naya yang begitu jernih dan penuh rasa percaya, ketakutan besar selalu berhasil melumpuhkan keberaniannya. Ia teramat takut kehilangan satu-satunya hal berharga yang masih ia miliki saat ini: kedekatan sebagai seorang sahabat. Maka, Rendra kembali memilih untuk diam. Sebuah diam yang panjang, yang seiring berjalannya waktu perlahan-lahan mengkristal menjadi sebuah penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Hingga pada suatu sore yang cerah, sebuah pesan singkat dari Naya masuk ke ponsel Rendra. Pesan itu singkat namun berhasil membuat firasatnya memburuk: "Ren, aku mau kenalin seseorang ke kamu. Ketemu di tempat biasa, ya."
Di sebuah kafe kecil dengan pencahayaan temaram, Rendra akhirnya bertemu dengan Anton. Laki-laki pilihan Naya itu adalah sosok yang ramah, memiliki pembawaan yang mapan, dan terlihat penuh perhatian. Namun, hal yang paling menyakitkan bagi Rendra sore itu bukanlah fakta bahwa Anton adalah pria yang sempurna. Melainkan, kenyataan saat ia harus menyaksikan bagaimana cara Naya memandang Anton. Itu adalah sebuah tatapan penuh binar cinta dan kekaguman, tatapan yang selama belasan tahun ini diam-diam selalu diharapkan Rendra akan tertuju kepada dirinya.
Enam bulan setelah pertemuan di kafe itu, sebuah benda persegi panjang berbahan tebal tiba di meja kerja Rendra. Undangan pernikahan dengan cetakan tinta emas yang elegan: Naya & Anton. Rendra memandangi kartu undangan mewah itu cukup lama dalam kesunyian ruang kerjanya, meraba permukaan kertasnya yang halus. Sambil mengembuskan napas panjang, ia tersenyum kecil. "Akhirnya... kamu menemukan bahagiamu, Nay," bisiknya lirih pada ruangan yang sepi.
Hari pernikahan yang dinanti pun tiba. Gedung pertemuan besar itu disulap menjadi begitu megah, dipenuhi dekorasi bunga-bunga putih yang harum. Alunan musik klasik mengalun lembut, membangun atmosfer yang romantis sekaligus sakral. Ketika pintu utama dibuka, Naya berjalan perlahan memasuki ruangan dengan gaun pengantin berwarna putih yang membalut tubuhnya. Gaun itu sebenarnya berdesain sederhana, tetapi melekat begitu indah dan anggun pada dirinya.
Rendra terpaku di sudut ruangan, matanya tak berkedip menatap langkah anggun sang pengantin wanita. Selama belasan tahun kebersamaan mereka, ia sudah terbiasa melihat Naya memakai seragam putih-biru SMP yang kedodoran. Ia mengingat Naya dengan seragam abu-abu SMA yang kasual, hingga jaket almamater kampus yang penuh kebanggaan. Kini, di depan matanya, Naya berdiri mengenakan gaun pengantin yang amat cantik. Namun, gaun indah itu dikenakan bukan untuk berjalan bersanding menuju pelaminan bersamanya.
Ketika seluruh rangkaian acara sakral selesai, antrean panjang para tamu mulai mengular untuk memberikan selamat di atas panggung pelaminan. Giliran Rendra pun tiba. Ia melangkah mantap, menaiki anak tangga satu demi satu dengan dada yang bergemuruh.
"Naya..." panggil Rendra pelan.
Naya langsung menoleh dan seketika tersenyum lebar. Itu adalah senyum manis yang sama, yang selalu Rendra lihat sejak mereka pertama kali bertemu saat berusia tiga belas tahun. "Terima kasih banyak sudah datang ya, Ren. Kehadiranmu berarti sekali buatku," ucap Naya tulus.
Anton yang berdiri di samping Naya kemudian ikut mengulurkan tangannya dengan ramah. "Terima kasih banyak ya sudah bersedia menjadi sahabat terbaik Naya selama ini," ujar Anton tulus.
Rendra menyambut uluran tangan itu, menggenggam tangan Anton dengan erat, menyalurkan seluruh sisa kekuatannya ke sana. "Jaga dia baik-baik, ya. Jangan pernah buat dia menangis," kata Rendra dengan nada suara yang terkontrol, berusaha terdengar setegar mungkin.
"Pasti, saya berjanji," sahut Anton mantap sambil mengangguk.
Seorang fotografer berteriak dari depan panggung sambil mengangkat kameranya tinggi-tinggi. "Ayo pengantin dan tamu, posisinya lebih dekat lagi, ya! Satu... dua..."
Rendra menggeser tubuhnya, berdiri tepat di samping pasangan berbahagia itu.
Klik.
Satu jepretan foto berhasil mengabadikan momen tersebut. Rendra tahu, itu mungkin akan menjadi foto terakhir mereka bertiga dalam kedekatan yang seperti ini. Di dalam bidikan lensa, Naya masih terus melempar senyum bahagianya. Rendra pun membalas senyum itu dengan tulus, menampilkan senyum terbaik dan paling ikhlas yang mampu ia berikan di sisa hari itu.
Saat melangkah keluar dari gedung pernikahan, langit kota sudah mulai menggelap dan lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu. Rendra tidak langsung memilih untuk pulang ke rumahnya. Di seberang jalan raya yang ramai, ada sebuah warung kopi kecil legendaris yang dulu sering sekali ia dan Naya datangi selepas pulang kuliah untuk sekadar melepas penat. Ia berjalan menyeberang, lalu duduk di salah satu kursi plastik berwarna hijau yang warnanya sudah mulai kusam dimakan usia.
"Pak... kopi hitamnya satu, ya," pesan Rendra pada penjual warung.
Tak lama kemudian, sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap hangat diletakkan di depannya. Rendra hanya terpaku, menatap uap kopi yang perlahan-lahan menipis dan menghilang ke udara malam yang dingin. Tepat saat itu, ponsel di dalam saku celananya bergetar singkat menandakan sebuah notifikasi masuk. Rupanya, foto bersama pengantin di pelaminan tadi sudah dikirimkan oleh salah seorang teman melalui grup pesan singkat.
Ia membuka gambar tersebut. Di dalam foto digital itu, semua orang tampak begitu bahagia. Anton tersenyum lepas dengan gagah, Naya tersenyum sangat cantik dengan binar mata yang berbinar, dan Rendra pun terlihat ikut tersenyum dengan sangat natural di samping mereka. Tak akan ada seorang pun di dunia ini yang tahu bahwa beberapa menit setelah foto penuh kepalsuan itu diambil, senyum di wajah Rendra ikut selesai dan terkubur di sana.
Rendra mematikan layar ponselnya kasar, lalu meletakkannya di atas meja kayu yang basah oleh embun. Perlahan, kedua telapak tangannya bergerak menutupi seluruh wajahnya yang mulai memerah. Bahunya yang sejak pagi tadi dipaksa berdiri tegak dan tegap, kini mulai bergetar hebat tak kuasa lagi menahan beban. Tangis yang selama belasan tahun ini ia pendam dengan rapi di dalam dada akhirnya pecah malam itu. Air matanya mengalir deras, larut bersama pekatnya aroma kopi hitam dan riuh rendah suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan malam kota.
Di warung kopi yang sepi itu, tak ada seorang pun teman yang datang untuk menenangkan badai di hatinya. Tak ada pula orang asing yang peduli untuk sekadar bertanya mengapa ia menangis begitu hebat. Hanya ada seorang penjual kopi tua di balik meja konter yang memilih diam, pura-pura sibuk mengelap gelas. Pria tua itu diam-diam sangat mengerti bahwa kadang kala, seseorang datang ke tempatnya bukan benar-benar untuk menikmati secangkir kopi hangat, melainkan hanya sedang mencari sebuah tempat yang cukup sunyi dan asing untuk mengucapkan selamat tinggal yang paling jujur pada cinta yang tak akan pernah sempat ia miliki.
Malam yang kian larut itu ditutup dengan Rendra yang menghabiskan sisa kopinya hingga tetes terakhir di dasar cangkir. Rasanya benar-benar sangat pahit di lidah. Namun Rendra sadar, rasa pahit cairan kopi itu sama sekali tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa perih saat harus menyaksikan orang yang paling ia cintai di dunia ini mengucapkan janji suci sehidup semati di depan altar... kepada orang lain.