Disukai
0
Dilihat
13
SAHABATKU YANG CANTIK JELITA, INDAH
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Istirahat kali ini koridor lantai dua sangat ramai. Banyak siswa yang berdiri secara berkelompok di depan pintu kelas ataupun memenuhi balkon. Hari ini hari Rabu, kami masih mengenakan seragam putih-biru. Aku bangga mengenakan setelan seragam ini, artinya aku telah menginjak masa remaja. Dulu semasa masih SD, aku ingin segera sampai di masa ini.

Indah, Vina, Mei, dan aku berdiri tepat di depan koperasi sekolah. Kami sedang membicarakan rambut Indah yang sangat panjang dan paling panjang diantara kami berempat. Vina mengeluarkan idenya agar Indah menggeraikan saja rambutnya itu yang selalu dikepang. Bagi Vina, yang rumahnya bertetanggaan dengan Indah, Indah terlihat amat cantik bila rambutnya digerai. Vina sering mengamatinya bila sedang bertamu ke rumah Indah. Kata Vina, bila di rumahnya rambut Indah seringnya dibiarkan tergerai, dikepang hanya ketika di sekolah saja.

Kami merayu Indah untuk melepaskan kepangan rambutnya. Kami ingin melihat Indah dengan style yang baru. Aku sudah jengah melihat kami selalu direndahkan, tak dianggap, tak pernah disapa, dan hal buruk lainnya oleh genk perempuan terkuat di kelas kami. Genk yang terdiri dari Novi, Citra, Zakiyah, Gita, Rizka dan Nini itu selalu merasa punya power untuk menentukan dengan siapa mereka akan bertegur sapa, siapa yang akan mereka sindir, siapa saja yang akan mereka beri senyum ramah, dan menentukan siswi-siswi mana yang pantas bersanding dengan siswa populer di sekolah ini. Bila ada terdengar oleh mereka siswi yang sedang naksir cowok populer di sekolah ini yang menurut mereka tak pantas, mereka akan mem-bully habis-habisan dan menatap siswi tersebut dengan tatapan tajam beramai-ramai.

Diantara mereka berenam, hanya Nini saja yang mau bergaul dengan siapapun di kelas ini, perempuan berdarah Sunda ini selalu berbicara lembut dan santun. Sayangnya ia selalu diperlakukan bak budak oleh lima orang lainnya. Bila istirahat tiba mereka berenam akan jajan ke kantin, masing-masingnya kompak membeli jajanan keripik balado favorit satu sekolah, keripik jajanan lima orang lainnya itu akan dibawa oleh Nini dalam dekapannya. Ia juga sering diperintah untuk membawakan tas ataupun buku milik yang lainnya. Pertama kali orang yang sadar akan itu adalah Vina. Aku iba melihatnya, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Zakiyah yang berwajah Arab adalah nomor ketiga paling judes. Ia naksir Rifki, anak band dan anak orang terkaya di kelas kami. Dari sekian banyak orang berwajah Arab yang pernah kulihat, baru ini yang tidak menarik. Aku heran karena setahuku perempuan berwajah Arab itu cantik-cantik.

Rizka yang bertubuh paling subur berwajah bulat, naksir Adit si paling tampan di kelas, yang merupakan anak dari pasangan dokter. Seandainya saja orang lain yang naksir Adit pastilah sudah mereka bully. Akan tetapi karena Rizka adalah anggota genk mereka, maka mereka mendukung. Padahal bentukan Rizka yang bulat, pendek dan berkulit hitam sama sekali tak pantas bila disandingkan dengan Adit yang tampan.

Citra, nomor kedua paling judes. Memiliki wajah oriental walaupun sebenarnya ia keturunan pribumi asli, selalu menganggap yang lain lebih rendah darinya.

Dan Novi adalah yang terjudes diantara semuanya, sekaligus yang paling buruk rupa. Rambutnya kering dan mekar, suaranya cempreng, mata besar dan tubuhnya gemuk-pendek.

Yang terakhir Gita, yang paling kaya diantara semuanya, sebenarnya Gita bila sedang mengolok-olok orang, sindirannya sangat tajam. Tetapi karena di awal perkenalan dulu aku mengingatkan dirinya bahwa kami pernah sekelas saat Taman Kanak-kanak, maka ia tak begitu jahat padaku. Ya, aku masih mengingat wajahnya, walaupun mode rambutnya telah berubah, dulu saat TK rambutnya sangat panjang, kini potongannya bob yang sangat pendek menyerupai rambut laki-laki. Tapi banyak detail rupa dirinya saat TK yang masih tersisa. Seperti bibirnya yang kecil, penuh dan kemerahan. Kulitnya yang putih bersih. Sikapnya yang selalu pamer. Dulu Gita sangat cantik kulihat, hari ini ia lebih terlihat maskulin tetapi rempong. Jenis suaranya juga bass tak lagi imut lembut seperti saat masih TK.

Aku ingin Indah menjadi 'pengangkat derajat' kami berempat. Diantara kami, Indah yang paling cantik. Kulitnya putih bersih, rambutnya panjang bergelombang, wajahnya tirus dengan tulang pipi yang sedikit menonjol, hidungnya bangir, ada tahi lalat kecil di bagian tengah batang hidungnya, bentuk bibirnya sempurna dengan warna kemerahan, bentuk tubuhnya ideal, suaranya lembut dan gerak-geriknya sangat ayu. Walaupun sebenarnya yang banyak orang tidak tahu, anaknya sedikit kocak.

Vina juga tak kalah cantik dengan rambut bob lurusnya, hidung bangir, bibir tipis dan warna kulit yang hitam manis. Begitu juga dengan Mei, gadis yang jago melukis ini memiliki mata bulat yang indah, hidung bangir, bibir kecil, hanya saja tubuhnya sangat kurus dan pendek, menjadikan ia terlihat sangat mungil. Kekurangannya rambut Mei sama denganku, kering dan banyak anak rambut yang sulit diatur.

Diantara kami, aku yang paling biasa saja. Ya aku tak malu untuk mengakuinya. Tubuhku paling tinggi, badanku paling kurus, kulit kering berwarna cokelat, rambut pendek dengan potongan shaggy yang aneh karena ibuku yang selalu memotongnya bukan orang salon. Padahal dulu sewaktu kecil sampai SD aku adalah anak yang sangat cantik, banyak ibu-ibu tetangga yang memuji kecantikanku, ustazah di tempatku mengaji, bahkan beberapa anak seusiaku yang berhati lapang sering memujiku mirip orang India. Kini semua itu tinggal kenangan. Bertepatan dengan usiaku yang memasuki remaja, aku tumbuh sebagai anak gadis yang biasa saja.

Kami berempat berdiri saling berhadapan, aku berdiri di samping Mei, berhadapan dengan Vina. Indah berdiri di samping Vina dan berhadapan dengan Mei. Jadi, aku bisa dengan leluasa memandang wajah Indah. Vina dan Indah semasa SD adalah teman sekelas, sampai kini mereka masih satu kelas, bahkan menjadi teman sebangku. Kalau aku dan Mei semasa SD sekolah kami satu lokasi tapi kami murid SD yang berbeda, aku anak 01 Pagi, sedangkan Mei murid 02 Pagi.

Wisnu, Sandri dan Rizki yang merupakan tetangga kelas kami tiba-tiba berjalan dengan cepat membelah kerumunan kami berempat. Mereka berjalan menuju kelasnya. Keringat memenuhi wajah, tubuh mereka, juga kemeja yang mereka kenakan. Sepertinya mereka habis main bola, sebab sedari awal bel istirahat bunyi, terdengar suara sorakan menggema dari arah lapangan, juga suara-suara bola yang terpental kuat. Mungkin saja mereka bertiga tadi ikut main bola. Saat Rizki lewat diantara kami, kami menyoraki Indah. Sekilas, aku melihat senyum kecil terbit di bibir pria kaku itu. Karena malu, Indah buru-buru kabur ke kelas kami. Vina mengikuti Indah dari belakang, mulutnya masih sibuk menyoraki Indah sambil tertawa geli. Mei menyusul Vina. Mau tak mau aku ikut menyusul mereka.

Indah merajuk, ia mengungkapkan kekesalannya.

"Paan sih lo pada? Malu tauk gue sama dia, ntar dia marah lagi ke gue."

Vina masih saja menggoda sambil menggoyang-goyangkan badannya. Mei juga ikut-ikutan. Aku yang agak takut dengan sikap Indah, buru-buru meralat, "Tapi Rizki tadi senyum lo Ndah waktu kami sorakin. Tapi dikit. Gak marah kok dia, buktinya dia senyum."

"Hayo, jangan-jangan dia juga suka sama elo Ndah." Mei tiba-tiba berargumen.

Kami semakin heboh menyoraki. Tiba-tiba Indah menyampaikan sesuatu yang ia ragukan pada kami, "Eh tau gak, ada cewek yang sekelas sama dia yang suka sama dia."

Tiba-tiba Vina membalas perkataan Indah, "Halah! Cantikan elu kemana-mana Ndah."

"Siapa Ndah? Siapa sih?" Aku dan Mei kompak penasaran.

"Itu, namanya Rani. Lu cari tau aje yang namanya Rani di kelas sebelah. Orangnya biasa banget. Cantikan Indah jauh lah." Vina membela.

"Cie... cie... ya kalo gitu pasti si Rizki lebih milih Indah lah ya." Mei menimpali.

"Cie... cie... cie..." Kami kompak menyorakinya kembali.

###

Aku penasaran dengan yang namanya Rani dari kelas sebelah itu. Suatu waktu di jam istirahat, aku bertanya pada Vina yang mana yang namanya Rani. Kebetulan saat aku dan dan Vina sedang berdiri di balkon depan kelas, Rani ternyata juga sedang berada di situ. Perempuan itu juga sedang berdiri di balkon depan kelasnya bersama seorang perempuan bertubuh subur bernama Lira, yang merupakan anak guru mata pelajaran seni rupa. Mereka terlihat asyik menonton anak-anak yang bermain bola di bawah.

"Oh, jadi itu orangnya." Kataku berbisik pada Vina.

"Iya, itu orangnya. Cantikan Indah kan?"

"Jauh." Kataku pada Vina.

Perempuan ini sebenarnya sering kuperhatikan bila hendak ke kelasnya ketika melewati kelas kami. Aku sering memperhatikannya dari balik jendela kaca, karena kebetulan bangku yang kududuki tepat di barisan dekat pintu. Tubuhnya kurus, betisnya kecil seperti kaki ayam. Bentuk wajahnya sangat tirus. Rambutnya yang lurus sepundak selalu diikat low ponytail. Menjadikan ia terlihat gepeng dari atas sampai bawah. Kulitnya kusam. Bibirnya pucat agak kebiruan. Tak ada menariknya sama sekali.

Wajah perempuan rival Indah itu terlihat sumringah, mungkin karena ia gembira bisa dengan leluasa memandangi betapa jantannya Rizki saat bermain sepak bola di bawah sana. Sesekali ia berbisik pada Lira yang berada di sisi kirinya, sambil satu lengannya dikaitkan dengan lengan Lira. Tampak sekali gadis ini sedang dilanda masa puber.

###

Waktu berlalu, kami pun sampai di kelas dua. Kini aku sekelas dengan Rani, bahkan sebangku. Ia merasa heran denganku karena aku langsung mengetahui namanya. Ia juga takjub dengan pertanyaanku tentang perasaannya pada Rizki. Ia berkomentar untuk itu, "Iya bener, aku suka sama dia. Kok tau sih?" Tanyanya padaku.

Aku memelintir jawabanku agar tak terkesan ingin mencampuri. Ia tampak ragu dengan jawabanku, tapi tak ingin mengorek lebih dalam. Dari obrolan yang jauh, aku mendapatkan info bahwa ayahnya merupakan seorang dosen di kampus swasta ternama di Jakarta, dan baru saja menyelesaikan studi S3. Kedua orangtuanya berpendidikan tinggi, ibunya juga memiliki gelar strata 1 di bidang keperawatan. Kakak tertuanya sedang melanjutkan studi di tempat ayah mereka mengajar. Mereka keluarga yang melek pendidikan.

Sangat berbanding terbalik dengan profil Indah. Bahkan kami berempat. Orangtua kami tidak ada yang berpendidikan tinggi. Seperti aku, ibuku hanya tamatan SMA swasta dari kota Padang yang selalu dibangga-banggakannya. Sedang ayahku, SD pun tidak tamat. Saat ini pekerjaan mereka hanyalah tukang kredit.

Profesi ayah Mei adalah SATPOL PP. Ibunya hanya seorang ibu rumahtangga. Mereka masih mengontrak rumah sampai sekarang di kawasan dekat SD kami dulu. Aku tak tahu apa pekerjaan ayah Vina dan Indah. Tapi sepertinya mereka juga orang biasa. Ibu Vina membuka warung kecil di rumahnya. Kalau Indah, ibunya hanya seorang ibu rumahtangga. Mereka tinggal di rumah petakan sempit dengan 3 sekat. Ruang pertama di bagian paling depan digunakan sebagai ruang tamu. Ruang kedua di bagian tengah adalah kamar tidur dan lemari pakaian. Dan yang terakhir adalah dapur dan kamar mandi. Kami semua adalah 'wong cilik'.

Aku pernah mendengar Vina bercerita bahwa Indah sebenarnya adalah anak angkat. "Mangkanya Indah tuh gak mirip sama bapak-emaknye. Emaknye jelek banget tauk Der, serem lagi mukanya. Kalo Indah kan putih mulus gitu. Emaknya tuh item butek. Kami semua di situ udah pada tau Indah tuh anak angkat, cuman Indahnya aja yang kagak tau."

"Kok bisa?" Tanyaku.

"Lu jangan bilang-bilang ye ke Indah atau siapapun."

"Iya." Kataku.

"Kata emak gua sih, Indah itu sebenarnye anak dari entah adik atau kakak nyokap Indah yang sekarang ini. Nyokap Indah yang sekarang itu sebenernye mandul, jadi karna anak dari ortu kandung Indah banyak padahal mereka juga orang yang gak mampu, mangkenye Indah dikasih ke nyokap yang sekarang. Sebenarnye Indah sering ketemu ama ibu kandungnya, tapi dia taunya itu tantenya."

"Oh, berarti nyokap angkatnya sebenernya masih tantenya ya. Bukan orang lain lah ya, masih sedarah."

"Iya."

###

Suatu hari, aku juga pernah mendengar Indah bercerita, bahwa ketika ia bangun pagi dan duduk di tepi kasurnya, ia melihat ayahnya sedang memandanginya. Indah bertanya pada ayahnya itu, "Kenapa yah, kok ngeliatin? Tapi bokap gue itu diem aja Der, kagak nyaut. Mana lama lagi ngeliatin gue. Ditanya-tanya kenapa kagak nyaut-nyaut die, kayak patung gitu diem aja. Kan gue jadi takut."

"Loh kok gitu?" Tanyaku penasaran.

"Auk tu."

"Berapa lama dia kayak gitu?"

"Auk dak gua kagak nyadar. Pokoknya pas gue baru bangun tidur tuh pagi-pagi, kan gak bisa langsung bediri dong, gue ngumpulin nyawa dulu tuh duduk tepi kasur, nah pas gue sadar bokap gue rupanye udah duduk juga di tepi kasurnya trus ngeliatin gue gitu tapi diem aje, ntah sejak kapan itu. Hi ih jadi serem gue." Indah bergidik.

"Nyokap lo kemana?"

"Entah deh, lagi keluar dia. Mungkin ke warung beli sayur."

"Terus?"

"Ya udah, akhirnya karna takut gua pegi dah tu ke kamar mandi cuci muka."

Aku jadi khawatir. Sebenarnya orangtua angkat Indah juga bukan orang yang mampu. Aku tau benar, sebab aku pernah lihat bagaimana keadaan tempat tinggal Indah. Ruang tengah yang sempit tempat mereka tidur terdapat dua kasur berukuran serupa yang saling berhadapan, satu kasur untuk orangtua Indah, satu kasur lagi untuk Indah. Kasur-kasur itu terpisah oleh lorong sempit tempat berjalan menuju lemari pakaian. Tak ada ruang privasi bagi Indah. Entah mengapa orangtua yang belum mampu seperti itu mesti memaksakan diri mengangkat anak. Aku takut terjadi hal yang tidak-tidak pada sahabatku yang cantik ini. Biar bagaimanapun, itu bukanlah ayah kandungnya.

###

Di kelas dua ini aku, Indah, Vina dan Mei terpisah. Aku di kelas 2-2. Vina di kelas 2-4. Mei di kelas 2-6. Dan Indah di kelas 2-7. Suatu hari di jam istirahat aku berkunjung ke kelas Indah. Sudah lama kami tak berjumpa dan selama ini kami tak pernah saling mengunjungi. Hari itu aku pangling melihat dirinya, rok span yang biasa ia kenakan sudah berganti menjadi rok model full rempel. Dirinya terlihat semakin modis. Hanya saja model rambutnya belum berganti.

Aku menyapanya, ia terlihat sibuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, tapi tetap melayaniku berbincang. Kulihat tugas yang ia kerjakan tentang membuat memo. Dan ia menuliskan nama 'Aulia' dalam tugasnya. Kutanyakan padanya siapa gerangan 'Aulia' itu. Ternyata yang punya nama adalah seorang perempuan teman sekelasnya yang saat itu sedang duduk di barisan samping tempat kami duduk. Kutanyakan padanya kembali, mengapa nama perempuan itu yang ia gunakan, mengapa bukan nama asal-asalan atau nama lelaki yang ada di kelas ini. Ia pun mengibaskan tangannya tepat ke arah wajahku sebagai jawaban atas pertanyaanku.

Kuedarkan pandanganku, tampaknya sebagian besar dari murid di kelas ini masih berada di kelas, wajar saja, karena aku memang datang di awal jam istirahat, kelasku bubar lebih dulu dibanding kelas lainnya. Dan kulihat banyak anak lelaki di kelasnya yang berwajah menarik. Aku tak mengenali mereka, karena selama ini aku juga jarang bergaul. Iseng kugoda dirinya dengan pertanyaan, "Udah punya pacar belom?" Lagi-lagi ia mengibaskan tangannya padaku.

"Tapi ada yang naksir elo kan?"

Iya menggeleng sambil tetap fokus pada tugasnya.

"Yang lo taksir ada?"

"Paan sih Der?"

"Ya kan banyak tuh cowok-cowok ganteng." Aku menunjuk sekumpulan bocah lelaki yang berkumpul di barisan kursi dekat pintu.

"Ah, Dera... Dera. Paan sih. Jangan tunjuk-tunjuk, ntar mereka liat ke sini lagi!"

Aku tak yakin tak ada satupun lelaki yang jatuh cinta padanya di kelas ini. Menurut penilaianku, dengan wajah secantik ini dan style baru yang terlihat lebih modis, mustahil tak ada satu pria pun yang terpikat.

"Gak ada Der." Ia pun menjawab rasa penasaranku.

Aku miris mendengarnya. Padahal banyak sekali perempuan yang tak menarik tetapi bisa mendapatkan pacar. Contohnya saja, Puput yang kusam itu bisa mendapatkan hati Rio, si murid tampan dan pintar. Widya, yang gendut dan berambut kering dan susah diatur, dengan percaya dirinya sering melakukan pendekatan dengan beberapa lelaki yang cukup populer di sekolah ini. Yang terakhir ini Widya tampak sedang mendekati Deri, si murid ganteng yang jago basket. Anggi yang cuma modal tinggi, putih dan berbibir kecil, selalu menjadi buruan lelaki old money. Seperti Anang; Putra; Darto. Indahku jauh lebih cantik dibandingkan mereka semua.

Si Puput selalu terlihat bersama Rio saat istirahat, kulihat sepasang mata Rio selalu memandang kagum pada wajah Puput. Widya, aku sering melihat perempuan itu selalu berdiri di samping Deri di balkon depan kelas mereka saat istirahat. Mereka berbincang sangat akrab, bahkan saking akrabnya Widya tak memberi batasan pada Deri. Pernah suatu ketika, saat aku sedang duduk tepat di belakang mereka berdiri, Widya minta tolong pada Deri untuk memeriksa bilamana rok bagian belakang Widya terkena tembusan darah haidnya. Jangankan Deri, aku saja sempat terpana dengan permintaan bodoh itu. Deri sempat bereaksi canggung. Dengan rasa ragu, Deri melihat ke bagian belakang rok Widya, lalu dengan sungkan ia menjawab pertanyaan Widya dengan satu gelengan kepala. Widya pun mengucapkan kata terimakasih dibumbui senyum menawan atas jawaban Deri itu. Kalau si Anggi, kudengar gosipnya, ia berpacaran dengan Anang, setelah putus lanjut berpacaran dengan Darto. Sayangnya dengan sombong ia menolak Putra yang sungguh-sungguh mendambanya, alasannya aku tak tahu.

Dari awal kelas satu, sejak kami memulai persahabatan, kami selalu menggosipi orang-orang yang beramai-ramai meresmikan hubungan percintaan mereka. Sampai-sampai Vina pernah menjuluki momen itu dengan kalimat "Sekolah kita lagi jatuh cinta." Sampai saat ini Indahku belum juga mendapatkan tambatan hatinya. Apa karena ia terlalu pendiam, pemalu atau lemah gemulai? Ah sudahlah, aku pusing memikirkannya. Dari kejadian ini aku jadi paham, bahwa tidak semua perempuan cantik itu diperlakukan istimewa, otomatis jadi primadona yang bisa bikin iri perempuan yang tidak bertakdir sama, jadi incaran para lelaki, bisa dengan mudahnya mendapatkan pria populer dan keren. Ternyata ada juga perempuan cantik yang diperlakukan biasa saja, bahkan diabaikan dan tidak dianggap seperti Indahku ini. Sebagai sahabat yang baik, aku selalu berharap Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya nanti di waktu yang tepat.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi