Disukai
0
Dilihat
22
MANUSIA
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Waktu pulang sekolah tlah tiba. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas, langkah masing-masing dari mereka cepat. Cahaya matahari bersinar dengan teriknya, menunjukkan waktu kini tepat berada di tengah hari. Nindi masih berdiri di balkon lantai 3, mengamati para siswa yang berdesak-desakkan menuju gerbang sekolah.

Udara sangat panas, ia tidak ingin berhimpitan di angkot nanti, jadi ia ingin menunggu dulu sampai suasana sepi. Tak ada yang bisa ia lakukan sambil menunggu, selain hanya diam menatapi para siswa yang berlalu-lalang. Ia tak memiliki handphone, kalau saja ia memilikinya, sudah pasti jari-jemarinya sibuk mengetik-ngetik tombol handphone berbagi kabar bersama teman-temannya via sms, akan tetapi sebenarnya ia tak punya cukup teman untuk berbagi rasa, tak ada yang ingin bergaul dengannya secara akrab, semuanya hanya sekedar bertegur sapa. Atau dengan adanya handphone ia bisa bermain game snake seperti yang sering dilakukan teman sekelasnya, Asti.

Ia bingung bagaimana caranya membunuh waktu ini, kegiatan mengamati teman-teman sekolahnya itu hanya menimbulkan rasa iri di pikirannya. Ia hanya siswi biasa di sekolah ini, tak punya prestasi walaupun sebenarnya ia cukup pintar, tak punya teman, tak punya uang jajan, wajahnya biasa saja cenderung jelek, kata culun sering dijulukkan oleh beberapa siswa lain untuknya. Nindi tak pernah menikmati masa remajanya, padahal kini ia sudah menginjak kelas 3 SMP, tapi baginya hari-hari di sekolah selalu membosankan.

Suasana sudah mulai lengang, ia melangkahkan kakinya dengan gontai. Sambil menuruni anak tangga, otaknya tak berhenti berpikir bagaimana caranya uang SPP terkumpul dengan cepat dari uang sakunya. Orangtuanya mulai tak peduli dengannya. Setiap hari ia berusaha untuk mengumpulkan uang sakunya yang hanya dua ribu perak itu untuk membayar uang SPP tiap bulannya. Begitu keadaannya bulan demi bulan. Sudah lama sekali lidahnya tak mengecap enaknya jajanan kantin. Sebenarnya ia sedih, tapi ia tahu terus-menerus mengeluarkan air mata tak akan menyelesaikan masalahnya.

Remaja itu sudah sampai di lantai paling dasar. Ia melanjutkan langkahnya menuju keluar gerbang. Beberapa langkah dari dalam gerbang sekolah berbagai gerobak jajanan pinggir jalan tampak berjejer. Ada gorengan, otak-otak, pisang cokelat. Ada juga beberapa kios yang menjual makanan ringan di seberang gedung sekolahnya. Dan ada satu warung burjo yang juga menyediakan menu mie rebus, mie goreng dan roti bakar. Perutnya berbunyi, ia memegangi perut kempesnya, mengelus-elusnya walaupun tindakannya itu tak mampu menghilangkan rasa lapar. Saat langkahnya telah membawanya tepat berhadapan dengan gerobak-gerobak jajanan itu ia meneguk air liurnya sambil sesekali matanya melirik pada jajanan itu.

Ia semakin mempercepat langkahnya. Dengan beberapa langkah panjang dan gerakan cepat, ia telah sampai di belokan gang sempit samping sekolahnya. Di depannya ada tiga orang teman seangkatannya, Reta, Resty dan satu laki-laki yang tidak ia kenal. Laki-laki itu sepertinya sedang melakukan PDKT dengan si cantik Reta. Nindi memperhatikan itu dengan sorot mata tajam. Langkahnya yang cepat menjadikan jarak yang tadinya beberapa meter menjadi beberapa langkah saja. Saat ini ia sudah tepat di belakang tiga manusia itu.

Nindi benci melihat Reta, sudah lama rasa itu ia pendam, sejak pertengahan kelas satu. Dirinya pernah duduk di kelas yang sama dengan Reta selama satu tahun, yaitu saat kelas dua. Saat itu rasa bencinya pada Reta sangatlah besar. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan rasa benci itu bersarang di dadanya. Gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya bisa membenci karena Reta terlihat cantik, anak orang berada, memiliki banyak teman, termasuk anak gaul dan selalu punya pacar. Semua yang ada pada diri Reta adalah hal yang tidak dimiliki Nindi. Sering dalam diamnya Nindi menatap Reta dengan tatapan tidak suka, seperti saat ini. Namun Reta sepertinya tidak menyadari, bibirnya terlihat selalu menyunggingkan senyum sebab hatinya bahagia.

Laki-laki itu bertubuh agak bongsor, tingginya menjulang, wajahnya bulat berhias kacamata dengan frame hitam, potongan rambutnya cepak. Tak hentinya si lelaki membuat Reta tersenyum malu dan kadang tertawa. Semburat merah menghiasi wajah putih Reta karena rasa bahagia itu. Dari belakang Nindi tak terlalu mendengar apa yang diucapkan si lelaki bongsor itu, entah rayuan atau pujian sehingga tak henti-hentinya Reta tertawa sambil menutup mulutnya dengan jemarinya yang lentik. Kadang-kadang wajah cantiknya ia alihkan pada Resty, sang sahabat yang sudah menemaninya dari kelas satu. Resty tampak ikut tertawa kecil, tanda ia ikut senang dengan kebahagiaan sahabat cantiknya itu. Kalau tawa Reta sudah reda, ia mengakhirinya dengan senyum manis. Namun ia akan kembali tertawa malu karena si lelaki akan kembali merayunya. Nindi merasa mual dengan pemandangan itu, bibirnya mencebik, matanya melotot tajam. Saat wajah Reta berpaling padanya sesaat, senyum kecil ia sunggingkan, tetapi kalau mata Reta sudah kembali pada lelaki itu dan Resty, bibir Nindi kembali mencebik sambil sedikit mendengus.

Nindi heran pada Reta. Baginya Reta itu perempuan yang sangat kalem, tak banyak bicara kecuali pada sesama teman yang akrab dengannya, gerakan tubuhnya pun terlalu gemulai dan lambat, nada suaranya sangat manja. Tetapi Reta bisa masuk ke dalam geng populer di sekolah mereka. Nindi heran bagaimana bisa Reta bisa masuk ke dalam geng populer itu yang rata-rata anggotanya pada berisik, lincah dan judes. "Apa karna dia cantik? Masa sih cuma karna cantik? Indah temenku waktu kelas satu yang juga cantik, temen-temen yang populer di kelas gak welcome sama dia." Pikir Nindi. Dan menurut Nindi, Reta itu bisa sombong karena temen-temen gengnya yang populer, Reta hanya numpang nama. Tubuh Reta yang lunglai gemulai itu akan kalah jika bertarung dengan siswi lain, contoh Mila, mantan temen sekelas Reta yang tiba-tiba jadi musuh bebuyutannya. Nindi pernah sekali melihat Reta dihadang oleh Mila, Reta tampak ketakutan dan terus berjalan menunduk mencoba menghindar dari Mila. Saat itu Nindi terkikik senang sambil menyeringai.

Namun ada hal yang paling membuat Nindi benci, yaitu karena Reta selalu berpacaran dengan siswa muslim. "Dia kan non muslim, kenapa sih harus pacaran sama yang muslim? Kenapa gak cari yang seagama aja sih?" Pikir Nindi. Pernah suatu kali saat mereka sekelas, Nindi melihat Reta didekati oleh dua siswa yang juga masih satu kelas dengan mereka, yaitu Ary dan Mulya. Reta lebih menerima cinta Ary ketimbang Mulya yang seagama dengannya. "Apa karna Arif anak band? Sok banget sih, pengen banget dapet cowok anak band." Pikir Nindi. Nindi adalah sosok remaja yang menentang pacaran, apalagi pacaran lintas agama. Nindi benci pada manusia-manusia yang melakukan itu.

Nindi menghitung mantan Reta, namun Nindi hanya tahu dua saja, satu Yusuf yang merupakan teman sekelas Reta waktu kelas satu dan yang kedua Ary. Yusuf saat kelas dua menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Semuanya beragama muslim. Bagi Nindi, kecantikan Reta sudah merusak iman semua lelaki muslim yang pernah menjadi pacarnya. "Apalagi kalo pernah ciuman, kan najis." Pikir Nindi. "Pastilah pernah ciuman, masa pacaran gak ciuman. Perempuan sundal itu kan cantik, jadi pasti cowok-cowok itu nafsu." Ucap pikiran kotor Nindi. Nindi menebak pasti lelaki yang ada di depannya ini juga muslim. "Udah berapa cowok muslim kau kotori Ret?" Tanya Nindi dalam hati.

Nindi masih mengamati dua sejoli dan satu dayang-dayang itu. Posisi mereka bertiga, Reta berada di tengah, si lelaki bongsor di sisi kirinya, dan Resty di sisi kanannya. "Enak banget ya ada di tengah-tengah gebetan dan sahabat." Pikir Nindi. Nampak jelas sekali perbandingan wajah manis Reta dengan Resty yang bertubuh gemuk dan pucat, Resty memang terlihat pantas jadi dayang- dayang Reta. "Pacaran aja mesti ditemenin dayang-dayang." Pikir Nindi lagi.

Di sini, di mata Nindi fungsi kehadiran Resty adalah sebagai obat nyamuk bagi dua sejoli itu. Si lelaki juga tampak membawakan tas Reva. Nindi semakin geram melihatnya. Tak pernah ada yang memanjakannya seperti itu. Nindi berprasangka buruk pada Reta, "Jangan-jangan dia sengaja deket sama Resty biar keliatan tambah cantik. Resty sengaja dijadiin pembanding. Lagian Resty gak risih apa sering jalan sama Reta. Apa dia diem-diem gak iri sama Reta yang selalu digebet sama cowok. Halah walau sahabatan dari lama, pastilah ada rasa dengki di hati Resty itu. Namanya juga manusia. Jijik gua sok cie cie-in dari tadi, padahal dalam hatinya perih tu, pengen juga ada yang gebet. Keliatan banget pas bilang cie cie mukanya datar, senyumnya juga nanggung terlalu canggung." Batin Nindi.

Angkot Reta dan Resty sudah datang, meteka berdua pamit untuk pulang duluan. Si lelaki mengembalikan tas Reta setelah Reta sudah duduk dengan manis di dalam angkot. Mobil angkot melaju dengan lambat, si lelaki masih menatap Reta sambil melambaikan tangannya. Saat wujud angkot sudah berlalu semakin jauh, barulah si lelaki berbalik, kembali ke arah gedung sekolah yang berada di belakang mereka. Saat mata Nindi bertatapan dengan si lelaki, mata lelaki itu langsung beralih ke depan dan lelaki itu juga memasang wajah datar cenderung cemberut. Nindi terus mendongak memandangi wajah menekuk itu, dan saat si lelaki sudah berlalu Nindi tetap memandangi punggung lelaki itu dengan tatapan tajam. Si lelaki jalan dengan langkah gontai menambah kesan congkak bagi Nindi. "Yeeehh.... cemberut lu, tadi ketawa-ketiwa. Kayak cewek lu cemberut-cemberut gitu." Gumam Nindi. "Gak ganteng ternyata pacar barumu Reta, udah jelek gendut pula. Gak ada yang ganteng cowokmu. Ary kayak orang ngantuk. Cuma Yusuf yang mendingan." Nilai Nindi dalam hatinya.

Begitulah sikap Nindi, gadis remaja yang hidupnya selalu dirundung nasib malang. Selalu ada rasa iri dan dengki yang menyelimuti hatinya. Nindi marah pada orang yang memiliki apa yang ingin dan tidak pernah ia miliki. Nindi tak pernah ingin berubah, ia terus memelihara sifat itu. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tak ingin bila ada orang yang benci pada dirinya seperti ia membenci orang lain yang memiliki kelebihan. Tapi, sifat buruknya itu bukan tanpa alasan, sebab Reta juga memiliki sikap yang tidak selayaknya dimiliki manusia yang berhati luhur. Nindi sering melihat bagaimana Reta memperlakukan siswa yang dia anggap lebih rendah darinya seperti bukan manusia.

Nindi pernah melihat Reta melempar Rijal dengan kotak pensilnya hingga semua isi di dalam kotak itu berhamburan. Hanya karena Rijal berkulit legam dan culun, Reta selalu bergidik jijik bila melihat Rijal. Padahal saat itu Rijal hanya melontarkan satu pertanyaan pada Reta, bukan pertanyaan yang aneh, hanya pertanyaan biasa. Karena keributan itu, Rijal sampai hampir ditinju Ary yang saat itu menjadi pacar barunya. Isi kotak pensil yang berhamburan dipunguti satu-persatu oleh Ary dan ia kembalikan ke meja Reta. Saat itu Rijal menanggapi amarah dua sejoli itu dengan terkekeh saja, tanpa membalas, sehingga membuatnya lebih terlihat seperti orang bodoh. Bukan sekali dua kali Nindi menyaksikan perlakuan kasar Reta pada Rijal. Nindi sendiri pernah di-skak saat sedang bercerita. Lewat kalimat sinis dan sarkas yang dilontarkan walaupun dengan nada lembut, membuat Nindi kapok gabung dengan Reta dan teman-temannya, padahal saat itu Nindi hanya ingin ikut ngobrol karena para gadis di kelasnya sedang kumpul bareng saat istirahat. Reta juga sering membicarakan Nindi bersama teman perempuan lainnya sambil tertawa mengejek, karena Nindi yang culun itu naksir pada si tampan Rahmat yang merupakan teman satu geng-nya saat kelas satu. Bagi Nindi, Reta juga punya sifat yang sama busuknya dengan dirinya, karena Reta adalah manusia yang tidak memanusiakan manusia lainnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi