Perjalanan ini selalu menjadi percakapan panjang di dalam hidupku. Ia seperti hujan yang tidak benar-benar reda; kadang berhenti sebentar, lalu turun lagi dengan kenangan yang berbeda. Setiap hari aku selalu membayangkan bahwa semua ini akan selesai pada waktunya. Selesai dalam bentuk yang paling baik, atau setidaknya selesai dengan cara yang pantas untuk dikenang.
Malam itu aku duduk di teras rumah, di atas meja yang lapuk terbuat dari baling-baling bambu, sesekali sambil memandangi lampu-lampu kecil dari rumah warga yang menyala di kejauhan. Angin datang pelan membawa aroma tanah basah. Ibu sedang menjahit baju yang sobek di ruang tengah, sementara ayah duduk diam di kursi kayu yang sudah mulai rapuh. Di tangannya menyala asap kretek dan juga ada secangkir kopi yang sejak tadi tidak pernah disentuh.
Entah mengapa, aku selalu percaya bahwa tidak ada penawar dahaga yang lebih mulia daripada restu orang tua. Tidak ada jalan yang lebih teduh selain doa-doa mereka yang dipanjatkan diam-diam ketika anak-anaknya tertidur. Sebab terkadang orang tua memang seperti langit: tidak pernah meminta dilihat, tetapi diam-diam selalu menaungi.
Aku mengenal perjuangan bukan dari cerita-cerita motivasi yang ramai dibagikan orang di media sosial. Aku mengenalnya dari wajah ayah dan ibuku sendiri.
Aku mengingat masa ketika abangku yang pertama masih berjuang menyelesaikan kuliahnya. Saat itu rumah kami tidak banyak berubah: dinding papan yang sebagian mulai renggang, atap genteng yang berbunyi keras saat hujan turun menghantam, dan diatas etalase kecil yang lebih sering dipenuhi kecemasan daripada makanan.
Ayah sering keluar sejak pagi.
"Ke mana, Yah?" tanyaku suatu hari.
Ayah tersenyum kecil.
"Mau cari jalan."
Dulu aku tidak paham maksudnya. Aku pikir jalan itu ada di mana-mana: di depan rumah, di tikungan desa, atau di ujung gang tempat anak-anak bermain layangan.
Baru setelah aku tumbuh, aku mengerti bahwa jalan yang dimaksud ayah bukanlah jalan yang diinjak kaki.
Melainkan jalan agar anak-anaknya tetap sekolah.
Kadang jalan itu berupa meminjam uang. Kadang mengetuk pintu rumah orang. Kadang menelan harga diri agar harapan tetap bisa berdiri.
Aku masih ingat wajah ayah ketika pulang sore hari. Bajunya basah oleh keringat, tetapi bukan itu yang membuatnya terlihat lelah. Ada sesuatu di matanya yang waktu itu tidak mampu kubaca.
Bertahun-tahun kemudian aku baru mengerti.
Itu adalah rasa sedih yang dipaksa diam.
Aku pernah mendengar percakapan yang tidak sengaja kudengar.
"Maaf, sekarang saya juga lagi susah."
Kalimat itu sebenarnya terdengar biasa saja.
Tetapi entah mengapa, malam itu ayah pulang lebih cepat dan tidak banyak bicara.
Ada penolakan yang memang tidak menyakitkan karena kata-katanya. Ada penolakan yang menyakitkan karena cara ia tinggal lama di kepala seseorang.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, penolakan itu terkadang berubah menjadi cerita yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain.
Orang-orang memang senang pada cerita.
Terlebih bila cerita itu bukan tentang mereka sendiri.
Aku pernah mendengar seseorang berkata,
"Kasihan ya... anak-anaknya sekolah terus, padahal keadaan begitu."
Waktu itu aku diam.
Tetapi dalam hati aku bertanya-tanya: sejak kapan pendidikan menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk dimiliki orang miskin?
Mungkin memang begitulah dunia bekerja. Ia selalu ramah kepada orang-orang yang datang dengan pakaian rapi, jabatan tinggi, dan nama yang panjang di belakang gelarnya.
Sementara kepada sebagian lainnya, dunia bertanya lebih dulu:
"Kamu siapa?"
Dan anehnya, pertanyaan itu sering kali bukan tentang siapa dirimu, melainkan apa yang kau punya.
Ada orang-orang yang menilai manusia dari isi dompetnya, dari keluarganya, dari gelarnya, dari lingkaran pergaulannya.
Seolah-olah nilai seseorang bisa ditempel seperti harga pada barang dagangan.
Aku juga pernah melihat bagaimana sebagian keluarga perlahan menjaga jarak. Bukan karena kami melakukan kesalahan, melainkan karena hidup sedang tidak berpihak pada kami.
Waktu kecil aku mengira keluarga adalah tempat pulang.
Setelah tumbuh dewasa, aku mengerti bahwa tidak semua hubungan darah otomatis menghadirkan kehangatan.
Kadang yang paling dekat justru mampu berdiri paling jauh.
Namun Tuhan rupanya tidak pernah membiarkan seseorang berjalan sendirian.
Di tengah sesak yang panjang itu, selalu ada orang-orang baik.
Mereka datang tanpa banyak bicara.
Ada yang memberi bantuan kecil, ada yang sekadar memberi senyum, ada yang menepuk pelan bahu ayah sambil berkata,
"Sabar." dan "Kalembo Ade"
Mungkin bagi sebagian orang kata itu terlalu sederhana.
Tetapi bagi orang yang sedang hampir menyerah, satu kalimat kecil terkadang bisa menjadi rumah.
Dari mereka aku belajar sesuatu.
Bahwa pertolongan tidak selalu datang dalam jumlah besar.
Kadang ia hadir melalui tangan yang juga sedang kesulitan.
Tetapi mereka masih menyisakan ruang untuk peduli.
Waktu berjalan begitu cepat.
Hari-hari berganti.
Satu per satu anak-anak di rumah ini tumbuh.
Dan tanpa sadar aku sampai di perjalanan pendidikanku sendiri.
Di titik ini aku mulai memahami banyak hal.
Aku memahami mengapa ibu sering pura-pura kenyang.
Aku juga mengingat satu malam yang sampai hari ini masih tinggal utuh di kepalaku. Malam ketika listrik padam dan rumah kami hanya diterangi cahaya kecil dari lampu minyak. Hujan turun pelan di atas atap genteng, menimbulkan bunyi yang seperti langkah-langkah waktu yang berjalan perlahan.
Aku melihat ibu duduk di dekat dapur. Tangannya sibuk merapikan beberapa lembar uang yang sudah kusut. Ia menghitungnya berkali-kali, lalu mengulang lagi, seolah-olah jumlahnya bisa berubah bila dihitung dengan harapan yang lebih besar.
"Ada berapa, Bu?" tanyaku pelan.
Ibu menoleh dan tersenyum.
"Cukup."
Aku mengangguk waktu itu. Sebagai anak kecil, kata cukup terdengar sederhana. Baru sekarang aku paham bahwa orang tua sering menggunakan kata itu untuk menyembunyikan banyak hal.
Sebab cukup bagi mereka terkadang berarti kekurangan yang dipaksa terlihat baik-baik saja.
Cukup kadang berarti menahan keinginan sendiri agar anak-anaknya tidak ikut khawatir.
Cukup kadang berarti menukar kebutuhan dengan harapan.
Malam itu ayah pulang lebih lambat dari biasanya. Bajunya basah terkena hujan. Di tangannya ada kantong plastik kecil berisi beberapa kebutuhan rumah. Tidak banyak, tetapi wajahnya tampak sedikit lebih tenang.
Aku melihat ibu menerima kantong itu seperti menerima sesuatu yang sangat berharga.
Mereka saling memandang sebentar, lalu tersenyum kecil.
Aneh memang, waktu itu aku tidak melihat apa-apa selain dua orang yang sedang berbicara biasa.
Tetapi setelah tumbuh dewasa aku mengerti, ternyata cinta tidak selalu berbentuk pelukan, kata-kata indah, atau hal-hal besar yang sering diceritakan orang.
Kadang cinta hanya berbentuk dua manusia yang sama-sama lelah, tetapi masih memilih bertahan.
Masih memilih berjalan.
Masih memilih percaya bahwa besok akan lebih baik.
Dan mungkin, rumah kami yang kecil itu tidak pernah benar-benar kaya harta. Namun diam-diam ia menyimpan sesuatu yang lebih sulit dicari banyak orang:
ketabahan yang tidak pernah berhenti tumbuh.
Aku memahami mengapa ayah sering berkata semuanya baik-baik saja padahal matanya tampak lelah.
Aku memahami mengapa orang tua sering tersenyum bahkan ketika hidup sedang sangat berat.
Sebab ternyata cinta memang seperti itu.
Ia lebih sering bekerja dalam diam.
Malam ini aku kembali duduk di teras rumah.
Angin masih datang membawa dingin yang sama.
Tetapi ada satu hal yang berbeda:
aku tidak lagi melihat perjalanan ini sebagai luka.
Aku melihatnya sebagai cara Tuhan mengajariku tumbuh.
Pada akhirnya, gelar yang begitu dibanggakan orang-orang itu hanyalah tambahan nama. Ia tidak akan membuat seseorang lebih tinggi apabila kemanusiaannya diletakkan lebih rendah daripada kedudukannya.
Karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar pantas dibanggakan selain keberpihakan kepada kebaikan.
Dan jika suatu hari nanti semua ini selesai, mungkin bukan toga yang paling layak dirayakan.
Melainkan dua orang yang sepanjang hidupnya menahan lelah, menyembunyikan sedih, menelan gengsi, dan tetap berpura-pura kuat agar anak-anaknya percaya bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan.
Sebab sesungguhnya kami tidak dibesarkan oleh kemudahan.
Kami dibesarkan oleh kesedihan, ketakutan, dan ketabahan.