Malam turun pelan di atas atap seng rumah kayu ini. Angin menyusup lewat celah-celah dinding papan yang tak pernah benar-benar rapat, membawa dingin yang lebih jujur daripada banyak kata perpisahan. Lampu kecil di sudut kamar menyala redup, seperti sengaja mengingatkan bahwa tidak semua yang terang itu menenangkan.
Aku duduk sendiri di atas lantai kayu yang mulai aus dimakan waktu. Tak ada yang istimewa dari tempat ini hanya ruang sempit, bau kayu tua, dan kesunyian yang setia. Tapi entah kenapa, justru di tempat sesederhana ini, kenangan datang paling lengkap.
Aku menyalakan sebatang rokok Surya. Api kecil menyala di ujungnya, lalu asap tipis mulai naik, perlahan, seolah tahu bahwa tidak ada yang perlu dikejar malam ini.
Kecuali ingatan.
Namamu muncul lagi.
Tanpa diundang. Tanpa dipanggil.
Seperti seseorang yang tahu bahwa ia pernah menjadi alasan seseorang bertahan hidup.
Sial, pikirku. Kenapa kenangan selalu datang saat aku ingin sekali tidur lebih cepat, seolah-olah ia punya dendam pada niat baikku untuk melupakan?
Aku menarik napas panjang. Dada terasa sesak, bukan karena kekurangan udara tapi karena terlalu banyak hal yang tak pernah benar-benar keluar. Rasanya seperti nyeri yang tiba-tiba datang, menekan dari dalam, membuat seseorang terdiam bukan karena tenang, tapi karena tak tahu harus mengadu ke mana.
Dan seperti biasa, aku tidak punya pilihan selain mengingat.
Aku kembali ke malam itu.
Malam ketika kita pertama kali berboncengan dari arah Penjuru, melewati jalan menuju Universitas Mataram, lalu terus mengarah ke Ampenan, kota tua yang tampak seperti seseorang yang pernah punya banyak cerita, tapi kini memilih diam.
Kita tidak banyak bicara di perjalanan.
Mungkin karena kita masih canggung.
Atau mungkin karena diam terasa lebih aman bagi dua orang yang belum tahu harus saling berarti sejauh apa.
Angin malam menyapu wajahmu. Aku tidak benar-benar melihatmu saat itu, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang akan sulit aku lupakan dari perjalanan itu.
Dan ternyata benar.
Kita tiba di taman pantai. Tempat yang baru saja direnovasi katanya demi pariwisata, meski semua orang tahu, di negeri ini, pembangunan sering kali lebih setia pada kepentingan daripada kebutuhan.
Lucu memang yang rusak dibiarkan lama, yang diperbaiki justru sering kali punya maksud lain.
Seperti hubungan manusia.
Kita berjalan pelan, mencari tempat duduk. Pindah dari satu kursi ke kursi lain, seperti dua orang yang sedang menghindari perhatian dunia padahal dunia bahkan tidak tahu kita ada.
Akhirnya kita duduk di ujung kanan, dekat seorang bapak yang sibuk memancing dalam diam. Ia tampak sabar, seperti seseorang yang sudah terlalu sering berharap tanpa hasil.
Aku sempat berpikir jangan-jangan kita juga seperti itu: melempar harapan ke tempat yang tidak pasti, lalu berpura-pura kuat saat tidak ada yang menyambutnya.
Kau duduk di sampingku.
Masih sedikit menjaga jarak.
Wajar kita baru saja kenal.
Tapi justru jarak itu yang membuat semuanya terasa lebih jujur.
Kau menulis pesanan di atas lututmu. Menanyakan aku ingin minum apa, lalu memanggil penjual dengan suara pelan, “Bibiq…”
Aku tersenyum.
Hal sederhana seperti itu entah kenapa terasa lebih hidup daripada banyak hal besar yang pernah aku alami.
Kita mulai berbicara. Tentang kuliah. Tentang organisasi. Tentang hal-hal yang waktu itu terasa penting, seolah masa depan bisa kita atur hanya dengan rencana dan semangat.
Padahal kenyataannya hidup tidak pernah benar-benar mendengarkan manusia.
Hari-hari setelah itu berjalan cepat. Kita mulai sering berkomunikasi. Pesan menjadi kebiasaan. Telepon menjadi kebutuhan. Dan waktu perlahan kehilangan maknanya.
Sampai suatu malam, kau meneleponku.
Suaramu terdengar sedikit ragu, tapi tetap hangat.
“Kanda pernah baca buku ini?” tanyamu.
“Buku apa?” jawabku.
“Tunggu… saya lihat dulu… lupa namanya,” katamu, diselingi suara kertas dibuka. “MADILOG.”
Aku terdiam sebentar.
Tidak banyak orang menyebut buku itu dalam percakapan biasa.
“Oh… buku itu,” kataku pelan. “Pernah. Sulit, tapi bagus. Kayak… kalau dipahami, dia bukan cuma buku. Tapi cara melihat dunia.”
Kau tertawa kecil.
“Makanya saya pusing,” katamu. “Tapi penasaran juga.”
Sejak percakapan itu, aku mulai menunggumu dengan cara yang tidak pernah aku akui. Menunggu pesanmu, menunggu panggilanmu, bahkan menunggu hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah berarti apa-apa.
Dan di situlah, tanpa sadar, aku mulai kehilangan kendali.
Beberapa hari setelah itu, kau meminjamkanku buku itu. Padahal kita belum lama kenal. Belum ada jaminan apa-apa. Tapi kau memberikannya tanpa ragu.
Aku sempat berpikir lama setelah menerima buku itu.
Bukan tentang isinya tapi tentang kepercayaan yang kau berikan.
Aneh, ya.
kadang seseorang bisa mempercayai kita lebih cepat daripada kita memahami diri kita sendiri.
Perasaan itu tumbuh tanpa suara. Tidak dramatis. Tidak meledak-ledak. Tapi diam-diam mengakar, seperti sesuatu yang tidak ingin pergi.
Sampai akhirnya kita bersama.
Hari-hari kita dipenuhi percakapan tanpa akhir. Telepon larut malam. Tawa yang kadang tidak jelas sebabnya. Dan diam yang tidak pernah terasa canggung.
Kita bahkan pernah membicarakan hal-hal yang terlalu jauh untuk ukuran dua orang yang baru saja saling mengenal.
Tentang masa depan.
Tentang rumah.
Tentang hidup yang ingin kita bangun bersama.
Sekarang kalau dipikir, semua itu terdengar seperti rencana yang terlalu percaya diri.
Seolah-olah hidup akan menurut begitu saja.
Padahal hidup… selalu punya cara untuk menertawakan manusia yang terlalu yakin.
Dan benar saja tidak sampai setahun, semuanya selesai.
Begitu saja.
Tanpa drama besar. Tanpa pertengkaran panjang.
Hanya beberapa kalimat sederhana yang entah kenapa terasa lebih tajam dari apa pun.
“Maaf.”
“Terima kasih.”
“Semoga kamu dapat yang lebih baik.”
Aku membaca itu berkali-kali.
Berusaha mencari makna lain di baliknya.
Tapi tidak ada.
Karena pada akhirnya, kata-kata itu memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjelaskan hanya untuk mengakhiri.
Sejak itu, aku mulai hidup dengan cara yang berbeda.
Bukan lebih baik.
Hanya… lebih sepi.
Aku mencoba melupakan. Sungguh.
Aku menyibukkan diri. Menghindari tempat-tempat yang mengingatkanku padamu. Bahkan mencoba membenci hal-hal yang dulu aku sukai karena berkaitan denganmu.
Tapi semua itu sia-sia.
Karena yang sulit dilawan bukan kenangan besar melainkan hal-hal kecil.
Cara kau tertawa.
Cara kau memanggilku.
Cara kau diam saat sedang berpikir.
Hal-hal sederhana yang justru tidak bisa digantikan.
Aku tertawa kecil.
Jika mengingatmu adalah pekerjaan,
maka aku adalah pekerja paling setia tanpa cuti, tanpa upah, tanpa kepastian kapan selesai.
Aku pernah membayangkan masa depan kita.
Sederhana saja.
Hidup bersama. Menua bersama. Saling menjaga, tanpa harus sempurna.
Aku bahkan pernah membayangkan kita bertengkar kecil, lalu berdamai dengan cara yang konyol. Membayangkan pagi-pagi sederhana, kopi hangat, dan percakapan ringan yang tidak perlu direncanakan.
Tapi semua itu sekarang hanya tinggal kemungkinan yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan.
Malam semakin dalam. Angin masih masuk dari celah dinding kayu. Lampu kecil itu masih menyala, setia menemani sesuatu yang tidak bisa disebut tenang.
Aku menghabiskan rokok terakhirku malam ini.
Asapnya naik perlahan, lalu menghilang tanpa jejak.
Dan di saat itu, aku akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini aku hindari:
Bahwa tidak semua yang datang ditakdirkan untuk tinggal.
Sebagian hanya singgah
cukup lama untuk membuat kita merasa memiliki,
lalu pergi tanpa membawa kembali apa yang sudah ia tinggalkan.
Aku menatap kosong ke depan.
Tidak ada yang benar-benar berubah dari dunia ini.
Hanya aku yang harus belajar menerima bahwa beberapa hal memang tidak bisa diperbaiki, tidak bisa diulang, dan tidak bisa dipaksa untuk kembali.
Dan kau
akan selalu menjadi perempuan
yang hidup diam-diam
di dalam kabut ingatan
yang tak pernah benar-benar hilang.